RADARTUBAN – Seorang anak sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia setelah diduga mengalami tekanan hidup yang berat.
Ia disebut tidak mampu membeli buku tulis dan merasa menjadi beban bagi ibunya.
Peristiwa memilukan ini langsung menyita perhatian publik dan memicu keprihatinan luas dari berbagai kalangan.
Sorotan Rocky Gerung: Bukan Sekadar Masalah Keluarga
Pengamat politik Rocky Gerung menilai tragedi ini bukan semata persoalan satu keluarga miskin, melainkan cerminan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak, terutama akses pendidikan.
Menurutnya, kebutuhan sederhana seperti buku tulis dan alat sekolah seharusnya mudah diperoleh oleh setiap anak, bukan justru menjadi beban psikologis yang menghancurkan mental.
Surat Terakhir Ungkap Tekanan Psikologis Anak
Rocky juga menyoroti isi surat terakhir yang ditinggalkan anak tersebut. Dalam surat itu, korban menunjukkan cara berpikir yang terlalu dewasa untuk usianya.
Anak tersebut merasa iba kepada ibunya dan memilih mengorbankan diri sendiri, sesuatu yang dinilai sangat tidak wajar bagi anak seusianya dan menunjukkan tekanan psikologis yang serius.
Ironi di Tengah Klaim Pertumbuhan Ekonomi
Di sisi lain, Rocky mengkritik narasi pemerintah yang kerap membanggakan pertumbuhan ekonomi dan proyek-proyek besar.
Tragedi ini, menurutnya, justru memperlihatkan realitas pahit bahwa angka ekonomi yang tinggi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan rakyat.
Kasus ini menjadi bukti bahwa masih ada jurang besar antara pencapaian makroekonomi dan kondisi nyata masyarakat di lapisan bawah.
Pengingat Keras bagi Negara dan Masyarakat
Kesimpulannya, peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Negara, pemerintah, dan masyarakat diingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari gedung megah atau statistik ekonomi.
Lebih dari itu, kemajuan sejati tercermin dari kepedulian terhadap manusia, terutama anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, perhatian, dan masa depan yang layak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni