RADARTUBAN – Fenomena perpindahan domisili para miliarder dunia kian mencuri perhatian.
Ketegangan geopolitik, perubahan kebijakan pajak, hingga kebutuhan perlindungan aset global mendorong kaum ultra-kaya mencari “rumah” baru yang lebih ramah terhadap kekayaan mereka.
Migrasi kekayaan ini disebut mencapai puncaknya pada 2025, dengan lonjakan signifikan dalam layanan relokasi internasional.
Tren Relokasi Miliarder Global
Survei bank Swiss UBS mengungkapkan, 36 persen klien miliarder telah pindah negara setidaknya sekali sepanjang 2025.
Sementara itu, 9 persen lainnya tengah mempertimbangkan langkah serupa.
Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 44 persen di kalangan miliarder muda berusia di bawah 54 tahun.
Hal ini menunjukkan adanya perubahan strategi dalam pengelolaan aset dan perlindungan kekayaan lintas negara.
Di Inggris, penghapusan rezim pajak non-domisili memicu eksodus sekitar 16.500 jutawan dengan total kekayaan yang diperkirakan mencapai US$92 miliar.
Uni Emirat Arab Jadi Tujuan Utama
Salah satu destinasi paling diminati adalah Uni Emirat Arab (UEA). Negara ini menawarkan pajak penghasilan nol persen, tanpa pajak kekayaan maupun capital gain.
Selain itu, program Golden Visa melalui investasi properti atau bisnis menjadi daya tarik utama bagi para taipan global.
Tak hanya UEA, Singapura juga tetap menjadi magnet bagi keluarga kaya Asia berkat stabilitas regulasi dan infrastruktur kelas dunia, meski aksesnya relatif lebih selektif.
Sementara itu, Arab Saudi menawarkan skema Residensi Premium untuk investor asing.
Negara-negara Karibia seperti Antigua dan Barbuda, Grenada, serta Saint Kitts dan Nevis juga menyediakan kewarganegaraan berbasis investasi sebagai pintu masuk mobilitas global yang lebih luas.
Relokasi Sebagai Strategi Manajemen Risiko
Para penasihat keuangan menyebut keputusan pindah domisili kini lebih menyerupai pengelolaan portofolio risiko dibanding sekadar upaya menghindari pajak.
Di Amerika Serikat, misalnya, ketidakpastian kebijakan domestik mendorong sebagian warga kaya mempertimbangkan kewarganegaraan ganda sebagai langkah antisipatif.
Perusahaan konsultan migrasi investasi Henley & Partners melaporkan lonjakan permintaan residensi global hingga 25 persen sepanjang 2025, menegaskan bahwa fenomena ini bukan tren sesaat, melainkan strategi jangka panjang dalam menjaga stabilitas aset dan kebebasan mobilitas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni