RADARTUBAN- Petani durian di Malaysia kini mengalami krisis berat setelah delapan tahun masa keemasan ekspor ke China.
Apa yang disebut "durian tsunami" ini dipicu oleh perubahan selera warga China yang kian melirik durian segar utuh daripada durian beku, sehingga pasokan membeludak lokal dan harga anjlok drastis.
Dampak Krisis Harga
Pada Desember 2025, harga durian di Malaysia terjun bebas hingga 10 ringgit atau sekitar Rp 43.000 per kilogram, hanya sepersepuluh dari harga normal.
Kelebihan produksi ini tak terserap pasar ekspor karena pengiriman logistik durian segar langsung ke China masih terhambat, memaksa petani menumpuk stok di dalam negeri.
Para petani seperti Chan, pimpinan Asosiasi Produsen Durian, mengeluhkan kemungkinan rantai pasok menyesuaikan diri dengan permintaan baru.
Situasi diperparah fakta bahwa pohon durian membutuhkan 5-10 tahun untuk berbuah, membuat pemulihan produksi sulit dilakukan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Menunggu Keputusan, Malaysia Gencar Bahas Durian dan Nanas Sebagai Buah Nasional
Pergeseran Selera Pasar China
Meski permintaan durian dari Tiongkok tetap tinggi meskipun ekonomi mereka sempat lesu akhir 2025, konsumen kini ogah dengan durian beku yang jadi Andalan ekspor Malaysia selama ini.
Mereka lebih memilih durian segar berkualitas tinggi, seperti varietas pohon jatuh yang masak alami, mirip tren yang sempat populer sebelumnya.
Perubahan ini bukan hal baru, sebelumnya, China beralih dari durian Musang King ke jenis eksotis seperti Duri Hitam.
Namun, kini fokus pada kesegaran membuat Malaysia kalah bersaing sementara dengan pemasok lain yang lebih lincah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni