RADARTUBAN - Sepak bola Indonesia akhirnya mendapat validasi di level kontinental.
AFC secara resmi mengonfirmasi lonjakan tujuh peringkat Indonesia ke posisi ke-18 dalam daftar terbaru ranking kompetisi klub Asia—kenaikan tertinggi di antara seluruh negara anggota.
Capaian tersebut diunggah akun X Timnas Xtra dan langsung menjadi sorotan, karena bukan sekadar naik, tetapi melonjak paling drastis di Asia.
Persib dan Dewa United Jadi Motor Perubahan
Lonjakan tersebut tak lahir dari kebetulan. Performa solid Persib Bandung dan Dewa United dalam kompetisi Asia menjadi faktor utama yang mendongkrak koefisien Indonesia.
Keduanya tampil kompetitif, konsisten, dan mampu mengumpulkan poin penting yang selama bertahun-tahun gagal diraih klub-klub Tanah Air di level kontinental.
Baca Juga: Persib Bandung Tersingkir dari AFC Champions League Two, Suporter Kejar Wasit Pertandingan
Bukan Sekadar Angka di Papan Ranking
Posisi ke-18 mungkin terdengar biasa bagi negara-negara mapan Asia. Namun bagi Indonesia, ini adalah sinyal perubahan arah.
Ranking klub AFC berpengaruh langsung pada kuota, jalur kompetisi, hingga persepsi lawan terhadap kekuatan liga domestik.
Dengan kata lain, hasil di lapangan kini mulai berdampak nyata di meja konfederasi.
Hasil Kerja, Bukan Sensasi Sesaat
Yang membuat capaian ini bernilai lebih adalah konteksnya. Ini bukan hasil satu pertandingan atau satu kejutan.
Ini akumulasi dari performa klub yang lebih siap secara mental, fisik, dan organisasi saat tampil di Asia.
Persib dan Dewa United membuktikan bahwa klub Indonesia tak lagi sekadar pelengkap, tetapi mulai bisa bersaing—meski masih jauh dari kata mapan.
Tantangan Justru Baru Dimulai
Lonjakan ini adalah pintu, bukan garis akhir. Konsistensi akan menjadi ujian berikutnya.
Tanpa perbaikan berkelanjutan—dari manajemen liga, kalender kompetisi, hingga kualitas skuad—ranking ini bisa kembali turun secepat naiknya.
Namun satu hal tak bisa dibantah: untuk pertama kalinya dalam waktu lama, sepak bola Indonesia sedang bergerak maju di Asia, dan itu diakui secara resmi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni