RADARTUBAN – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Menurut Airlangga, risiko kenaikan harga dipicu terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital distribusi energi dunia.
Gangguan di selat tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional yang akhirnya berdampak pada harga energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Otomatis (harga BBM) akan naik, seperti saat perang Ukraina. Namun kali ini, suplai dari Amerika juga meningkat dan OPEC turut menambah kapasitas produksinya,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin.
Baca Juga: Lonjakan Harga BBM di Nunukan Rp 50 Ribu Per Liter, Pemda Ungkap Adanya Permainan Harga
Pasokan AS dan OPEC Dinilai Redam Tekanan
Airlangga menilai tekanan harga masih dapat diredam karena adanya peningkatan pasokan minyak dari Amerika Serikat serta langkah OPEC yang menambah kapasitas produksi.
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan global sehingga lonjakan harga tidak terlalu tajam.
Pemerintah Siapkan Sumber Suplai Alternatif
Pemerintah juga telah menyiapkan langkah antisipasi untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut.
“Pemerintah sudah memiliki MoU untuk mendapatkan suplai dari non–Middle East. Misalnya, Pertamina telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal Amerika Serikat, seperti Chevron dan Exxon, serta perusahaan lainnya,” kata Airlangga.
Latar Belakang Konflik
Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan pada Sabtu (28/2)
Pada hari yang sama, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan bangunan dan korban sipil. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni