Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Perang AS–Iran Memanas, Airlangga Sebut Harga BBM di Indonesia Berpotensi Naik

Siti Rohmah • Selasa, 3 Maret 2026 | 09:05 WIB

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto,
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto,

RADARTUBAN – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Menurut Airlangga, risiko kenaikan harga dipicu terganggunya pasokan minyak global akibat penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital distribusi energi dunia.

Gangguan di selat tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional yang akhirnya berdampak pada harga energi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Otomatis (harga BBM) akan naik, seperti saat perang Ukraina. Namun kali ini, suplai dari Amerika juga meningkat dan OPEC turut menambah kapasitas produksinya,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin.

Baca Juga: Lonjakan Harga BBM di Nunukan Rp 50 Ribu Per Liter, Pemda Ungkap Adanya Permainan Harga

Pasokan AS dan OPEC Dinilai Redam Tekanan

Airlangga menilai tekanan harga masih dapat diredam karena adanya peningkatan pasokan minyak dari Amerika Serikat serta langkah OPEC yang menambah kapasitas produksi.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan global sehingga lonjakan harga tidak terlalu tajam.

Pemerintah Siapkan Sumber Suplai Alternatif

Pemerintah juga telah menyiapkan langkah antisipasi untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk memperoleh suplai minyak dari luar kawasan tersebut.

“Pemerintah sudah memiliki MoU untuk mendapatkan suplai dari non–Middle East. Misalnya, Pertamina telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi asal Amerika Serikat, seperti Chevron dan Exxon, serta perusahaan lainnya,” kata Airlangga.

Latar Belakang Konflik

Sebelumnya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan pada Sabtu (28/2)

Pada hari yang sama, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk Ibu Kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan bangunan dan korban sipil. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#bbm #enteri Koordinator Bidang Perekonomian #iran #opec #Amerika Serikat #konflik bersenjata #airlangga hartanto #harga bbm