RADARTUBAN – Dunia pendidikan Indonesia bersiap memasuki babak baru. Pemerintah mulai memperkenalkan coding dan artificial intelligence (AI) sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas.
Kebijakan ini diumumkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menyebut bahwa kedua bidang teknologi tersebut mulai diterapkan dalam proses pembelajaran tahun ini.
Program ini akan menyasar siswa mulai kelas 5 sekolah dasar hingga tingkat SMA, sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda menghadapi era digital yang semakin kompleks.
Puluhan Ribu Guru Sudah Dilatih
Untuk mendukung penerapan mata pelajaran baru tersebut, pemerintah telah melakukan pelatihan terhadap puluhan ribu guru di berbagai daerah.
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa program penguatan kapasitas tenaga pengajar menjadi prioritas agar pembelajaran coding dan AI tidak sekadar menjadi konsep di atas kertas.
"Kami sudah melatih 55.000 guru di seluruh Indonesia di semua jenjang dan juga sudah melibatkan 38 persen satuan pendidikan yang ada di Indonesia," kata Mu’ti dilansir dari IDXChannel, Kamis (12/3).
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa implementasi kurikulum baru mulai berjalan, meskipun masih dalam tahap pengembangan.
Masih Mata Pelajaran Pilihan, Bisa Jadi Wajib
Meski telah mulai diterapkan, coding dan AI saat ini masih berstatus mata pelajaran pilihan.
Namun pemerintah membuka kemungkinan untuk menjadikannya mata pelajaran wajib di masa depan, setelah jumlah guru dan kesiapan sekolah dianggap mencukupi.
"Sehingga sekarang, program terus berlangsung dan pelatihan guru juga terus berlangsung sehingga nanti, ketika jumlah guru sudah memenuhi, kami akan melangkah lebih lanjut, kemungkinan untuk memberlakukan coding dan AI sebagai mata pelajaran wajib," tegas Abdul Mu’ti.
Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan fondasi pendidikan teknologi secara bertahap.
Tiga Model Pembelajaran Coding
Dalam implementasinya, pembelajaran coding tidak selalu dilakukan dengan komputer.
Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa kementerian menggunakan tiga pendekatan berbeda agar siswa dapat memahami logika pemrograman secara bertahap.
"Nah, untuk coding itu ada tiga klasifikasi yang kami pergunakan. Pertama coding yang unplugged atau pemrograman dasar. Kemudian yang kedua, coding yang berbasis internet dan yang ketiga coding yang berbasis permainan tanpa menggunakan komputer," jelas pria yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah itu.
Pendekatan ini memungkinkan sekolah dengan keterbatasan fasilitas teknologi tetap dapat mengajarkan dasar-dasar pemrograman kepada siswa.
Baca Juga: Kurikulum AI dan Coding Diterapkan Mulai Tahun Ajaran 2025: Guru di Tuban Masih Bingung
Ratusan Ribu Layar Interaktif Dikirim ke Sekolah
Untuk memperkuat proses pembelajaran digital, pemerintah juga mulai memperbarui infrastruktur pendidikan.
Kementerian telah mendistribusikan lebih dari 288.000 layar interaktif flat panel ke berbagai sekolah di Indonesia. Perangkat tersebut dirancang untuk mendukung pembelajaran berbasis teknologi, termasuk coding dan kecerdasan buatan.
Layar interaktif ini memungkinkan guru dan siswa berinteraksi langsung dengan materi pembelajaran melalui tampilan digital yang dapat disentuh.
Pendidikan Indonesia Menuju Era Teknologi
Masuknya coding dan AI ke ruang kelas menjadi sinyal bahwa sistem pendidikan Indonesia mulai menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Di tengah perkembangan teknologi yang bergerak cepat—mulai dari otomatisasi hingga kecerdasan buatan—kemampuan memahami logika pemrograman dan teknologi digital semakin menjadi keterampilan dasar.
Bagi generasi muda, keputusan ini bukan sekadar tambahan mata pelajaran. Ia bisa menjadi gerbang awal untuk memahami dunia teknologi yang akan membentuk masa depan mereka.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni