Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perombakan Buku Pelajaran: Antara Urgensi dan Proyek

r

Advertisement

Ditulis Oleh: Ahya M Maghfur Arifin (Kepala SMK Manbail Futuh Jenu)
Ditulis Oleh: Ahya M Maghfur Arifin (Kepala SMK Manbail Futuh Jenu)

Advertisement

RADARTUBAN - Wacana Presiden Prabowo yang ingin merombak dan mendesain ulang buku pelajaran SD hingga SMA menjadi perbincangan hangat.

Kebijakan ini muncul setelah Presiden melihat kualitas buku sekolah yang dianggap kurang layak, baik dari segi ketahanan kertas maupun kenyamanan saat dibaca.

Klaimnya, perombakan buku sekolah ini dilakukan untuk memperbaiki tampilan fisik, membuat buku lebih nyaman dibaca, serta menyesuaikan isinya dengan kebutuhan anak-anak masa kini. Di atas kertas, niat membenahi bahan ajar tentu terdengar sangat mulia.

Namun, niat baik saja tidak cukup. Jika dibedah lebih dalam, kebijakan ini justru berisiko terjebak pada masalah permukaan tanpa menyentuh akar masalah pendidikan kita yang sebenarnya.

Mengapa kita perlu kritis—bahkan berani menolak jika kebijakan ini dipaksakan secara terburu-buru?

Dalam ilmu sosiologi pendidikan, kebiasaan pemerintah yang hobi merombak cetakan buku secara berulang sering kali mencerminkan apa yang dinamakan Michael Apple sebagai technocratic rationality.

Sederhananya, ini adalah kecenderungan pemerintah yang ingin menyelesaikan masalah besar pendidikan hanya dengan cara-cara teknis dan administratif.

Buku pelajaran diperlakukan seolah-olah "mantra ajaib" (magic bullet): asal bukunya diganti, kualitas belajar siswa otomatis melejit.

Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970) sudah mengingatkan bahwa buku teks hanyalah media perantara. Jantung dari pendidikan yang sebenarnya adalah interaksi aktif antara guru dan murid.

Mengubah tampilan visual atau tata letak buku tanpa membenahi kualitas gurunya hanya akan membuat perombakan ini menjadi rutinitas birokrasi biasa—atau bahkan sekadar ajang bisnis industri perbukuan yang selalu berulang setiap kali menteri berganti.

Memang benar, teori beban kognitif (Cognitive Load Theory oleh Sweller, 1988) mengakui bahwa desain tata letak yang baik bisa membantu anak-anak menyerap informasi dengan lebih mudah.

Advertisement
Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Said Aqil juga Bantah Tulis Buku Islam Ala Prabowo, Lalu Siapa Penulisnya?

Said Aqil juga Bantah Tulis Buku Islam Ala Prabowo, Lalu Siapa Penulisnya?

Said Aqil membantah pernah menulis buku Islam Ala Prabowo dan meminta namanya dihapus dari buku tersebut.

Di Balik Kesibukan sebagai Legislator, Anggota DPRD Tuban Luqmanul Hakim Gemar Membaca Buku Politik

Di Balik Kesibukan sebagai Legislator, Anggota DPRD Tuban Luqmanul Hakim Gemar Membaca Buku Politik

Anggota DPRD Tuban Luqmanul Hakim gemar membaca buku. Koleksinya mencapai sekitar 300 judul, mulai politik, filsafat, agama hingga kriminal.

Buku Islam ala Prabowo Viral di Media Sosial, Apa Isi yang Dibahas Didalamnya?

Buku Islam ala Prabowo Viral di Media Sosial, Apa Isi yang Dibahas Didalamnya?

Menyoroti perjalanan spiritual, militer, hingga isu Palestina, simak ulasan isi buku 'Islam ala Prabowo' yang kini ramai jadi perbincangan publik!

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer