Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cancel Culture, Cara Efektif Lawan Mark Up Harga

r
Ditulis oleh: Arya Wijaya Pramodha Wardhana (Dosen dan Peneliti Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga)
Ditulis oleh: Arya Wijaya Pramodha Wardhana (Dosen dan Peneliti Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga)

Advertisement

RADARTUBAN - Bila diberi dua pilihan saat bencana datang mendadak, diam menerima harga kebutuhan pokok yang melonjak tidak wajar atau melawan bersama warganet lain di ruang digital, mana yang akan Anda pilih?

Pilihan kedua itulah yang belakangan diambil banyak warganet Indonesia.

Semua bermula dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi beberapa hari terakhir, bencana mendadak yang sama sekali tidak diduga oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta dan sekitarnya.

Advertisement

Penerbangan di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma dibatalkan, sementara abu vulkanik tertiup hingga wilayah Jakarta, Banten dan beberap wilayah sekitar.

Dari kepanikan itu muncul kebutuhan mendesak untuk melindungi diri. Banyak warga memilih cara paling sederhana, memakai masker dan pakaian tertutup, agar abu vulkanik tidak terhirup atau menempel di kulit.

Advertisement

Karena tidak ada kepastian kapan dampak atas bencana ini akan berakhir, kebutuhan mendesak ini pun berubah menjadi perilaku panic buying, kondisi ketika kecemasan berlebihan mendorong seseorang melakukan apa pun demi merasa aman, bahkan kehilangan kendali penuh atas pertimbangan rasionalnya sendiri.

Banyak yang rela menghamburkan uang demi masker yang dianggap penting untuk menyelamatkan diri.

Sayangnya, kecemasan dan panik massal ini justru dimanfaatkan oleh sebagian oknum penjual. Harga masker sempat melonjak secara ekstrem—mencapai sepuluh hingga lima belas kali lipat dari harga normal.

Satu boks berisi 50 masker yang semula dijual paling rendah Rp 10.000, melonjak menjadi Rp 100.000, bahkan Rp 150.000.

Lonjakan harga yang tidak wajar inilah yang kemudian memantik amarah publik. Bukannya diam, warganet memilih melawan dengan caranya sendiri.

Advertisement
Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung, MUI Pertanyakan Keterlibatan dalam Acara Pro-Israel

Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung, MUI Pertanyakan Keterlibatan dalam Acara Pro-Israel

Konser Andrea Bocelli tetap digelar meski ditolak MUI. Sudarnoto meminta penjelasan mengenai keterlibatan penyanyi itu dalam acara FIDF.

Septhelena Maria Yosepha Istri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Ternyata Bukan Berasal dari Malang

Septhelena Maria Yosepha Istri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Ternyata Bukan Berasal dari Malang

Pernikahan Wahyu Hidayat dan Septhelena Maria Yosepha digelar tertutup. Istri baru Wali Kota Malang itu berasal dari Jakarta Barat.

Transportasi Publik Jakarta Peringkat 15 Dunia, Kalahkan Amsterdam dan Vancouver

Transportasi Publik Jakarta Peringkat 15 Dunia, Kalahkan Amsterdam dan Vancouver

Transportasi publik Jakarta menempati peringkat ke-15 dunia versi Time Out 2026 dengan penilaian positif warga sebesar 79,2 persen.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer