
RADARTUBAN - Bila diberi dua pilihan saat bencana datang mendadak, diam menerima harga kebutuhan pokok yang melonjak tidak wajar atau melawan bersama warganet lain di ruang digital, mana yang akan Anda pilih?
Pilihan kedua itulah yang belakangan diambil banyak warganet Indonesia.
Semua bermula dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi beberapa hari terakhir, bencana mendadak yang sama sekali tidak diduga oleh masyarakat, khususnya warga Jakarta dan sekitarnya.
Penerbangan di Bandara Soekarno Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma dibatalkan, sementara abu vulkanik tertiup hingga wilayah Jakarta, Banten dan beberap wilayah sekitar.
Baca Juga: Praktisi Mindfulness Adjie Santoso Ungkap Bahaya Hustle Culture dan Cara Jalani 2026 Lebih Tenang
Dari kepanikan itu muncul kebutuhan mendesak untuk melindungi diri. Banyak warga memilih cara paling sederhana, memakai masker dan pakaian tertutup, agar abu vulkanik tidak terhirup atau menempel di kulit.
Karena tidak ada kepastian kapan dampak atas bencana ini akan berakhir, kebutuhan mendesak ini pun berubah menjadi perilaku panic buying, kondisi ketika kecemasan berlebihan mendorong seseorang melakukan apa pun demi merasa aman, bahkan kehilangan kendali penuh atas pertimbangan rasionalnya sendiri.
Banyak yang rela menghamburkan uang demi masker yang dianggap penting untuk menyelamatkan diri.
Sayangnya, kecemasan dan panik massal ini justru dimanfaatkan oleh sebagian oknum penjual. Harga masker sempat melonjak secara ekstrem—mencapai sepuluh hingga lima belas kali lipat dari harga normal.
Satu boks berisi 50 masker yang semula dijual paling rendah Rp 10.000, melonjak menjadi Rp 100.000, bahkan Rp 150.000.
Lonjakan harga yang tidak wajar inilah yang kemudian memantik amarah publik. Bukannya diam, warganet memilih melawan dengan caranya sendiri.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




