Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tiga Jari Katniss dan Pesan yang Harus Didengar Penguasa

Yudha Satria Aditama
Opini ditulis: Yudha Satria Aditama (Manager Digital Jawa Pos Radar Tuban)
Opini ditulis: Yudha Satria Aditama (Manager Digital Jawa Pos Radar Tuban)

Advertisement

RADARTUBAN - Ada adegan dalam film The Hunger Games yang sulit dilupakan.

Ketika Katniss Everdeen mengacungkan tiga jari sebagai penghormatan sekaligus simbol perlawanan, sebuah gerakan sederhana berubah menjadi pesan politik yang jauh lebih besar: rakyat tidak selamanya bisa dibungkam.

Di tengah sistem yang berusaha mengendalikan kehidupan warga, gestur itu menjadi bahasa perlawanan. Tidak perlu pidato panjang, tidak harus berteriak di hadapan penguasa.

Advertisement

Cukup tiga jari yang terangkat, lalu menyebar dari satu orang ke orang lain, hingga menjelma simbol solidaritas.

Yang membuat adegan itu kuat bukan semata-mata keberanian Katniss. Melainkan bagaimana keberanian satu orang mampu membangunkan kesadaran banyak orang.

Advertisement

Di situlah pesan pentingnya. Kekuasaan mungkin bisa mengendalikan ruang, mengatur informasi, bahkan membatasi suara. Namun, ketika kesadaran tumbuh dan rakyat menemukan alasan yang sama untuk bersatu, tidak mudah bagi kekuasaan untuk terus berjalan seolah-olah tidak ada persoalan.

Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa perubahan besar kerap berawal dari sesuatu yang sederhana.

Sebuah kalimat, selembar poster, satu aksi solidaritas, atau simbol yang awalnya hanya dipahami segelintir orang. Ketika keresahan yang sama dirasakan banyak orang, simbol itu bisa berubah menjadi bahasa bersama.

Tentu, kehidupan nyata tidak sesederhana cerita film. Perbedaan pendapat, kepentingan, dan cara memperjuangkan perubahan tetap ada. Namun, The Hunger Games mengingatkan bahwa ketidakpuasan yang diabaikan bisa menemukan bentuknya sendiri. Sesuatu yang semula terlihat kecil dapat membesar ketika orang-orang merasa pengalaman dan nasib mereka tidak lagi didengar.

Vox populi, vox Dei. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Ungkapan Latin ini kerap digunakan untuk menegaskan pentingnya suara rakyat dalam kehidupan bernegara. Bukan berarti setiap suara mayoritas otomatis benar atau setiap tuntutan harus diterima tanpa pertimbangan. Namun, dalam demokrasi, suara rakyat tidak boleh diperlakukan sebagai gangguan yang harus disingkirkan.

Advertisement
Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar TubanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tradisi Gelang Leher Suku Kayan, Sebagai Simbol Kecantikan Sekaligus Perlindungan Diri

Tradisi Gelang Leher Suku Kayan, Sebagai Simbol Kecantikan Sekaligus Perlindungan Diri

Mengapa Suku Kayan memakai gelang leher? Simak alasan kultural, sejarah pengungsi Myanmar di Thailand, dan cara mereka bertahan hidup.

Barang Bekas di Denmark Bukan Simbol Kemiskinan, Daur Ulang Jadi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Barang Bekas di Denmark Bukan Simbol Kemiskinan, Daur Ulang Jadi Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Barang bekas di Denmark bukan simbol kemiskinan. Pelajari budaya secondhand, sistem daur ulang Genbrug, dan ekonomi sirkular ala Skandinavia di sini.

Tradisi Sedekah Laut Jadi Simbol Ungkapan Syukur Sekaligus Rawat Budaya Leluhur

Tradisi Sedekah Laut Jadi Simbol Ungkapan Syukur Sekaligus Rawat Budaya Leluhur

Tradisi Sedekah Laut nelayan Sidomulyo Tuban. Ritual larung sesaji tahunan ini jadi simbol rasa syukur sekaligus benteng budaya di Bumi Ronggolawe.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer