Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Opini - Cinta itu Harus Idealis atau Realistis?

Wastiana • Senin, 29 Juli 2024 | 01:26 WIB

 

Photo
Photo

DUA orang pemuda, sehat dan dewasa mengobrolkan tentang orientasi menemukan cinta dalam hidup. Antara idealis dan realistis, mana yang menjadi tolok ukur?

Klisenya cinta memang hal paling abstrak untuk dijelaskan. Rentetan teori sepanjang atau setebal apa pun rasanya tidak pernah cukup untuk mewakili bagaimana cinta itu sesungguhnya.

Bagi orang-orang realis, tolok ukur cinta akan terasa lebih konkret. Cinta akan dipandang sebagai sesuatu yang harus dikompromikan dan disepakati secara nyata.

Sedangkan cinta yang realistis menitikberatkan pada segala hal yang berifat praktis.

Cinta realistis mengakui bahwa setiap hubungan memiliki kelebihan dan kekurangan, serta memerlukan kerja keras dan usaha untuk bertahan.

Hal paling umum seperti cantik, tampan, kaya, cerdas, berwibawa, dan lain sebagainya, akan menjadi kriteria untuk bisa menemukan cinta. Namun, konsep setia dalam realistis cinta akan menjadi bias karena orientasinya dinamis.

Sementara itu, bagi orang idealis, cinta akan menjadi suatu hal yang sulit dijelaskan. Cinta idealis melibatkan harapan dan pandangan yang positif dalam hubungan.

Orientasi cinta dalam idealisme akan merujuk pada hal-hal abstrak, selaras dengan makna cinta yang tak terdefinisi.

Tidak peduli cantik/tampan atau tidak, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, bahkan orang itu baik atau buruk, jika rasa cinta itu jatuh padanya maka tidak ada lagi hal yang terbantahkan.

Dalam segala hal di dunia nyata terjadi berdasar hukuk kausalitas, sebab-akibat. Bagi orang-orang realis, tidak bisa kita menyebut cinta hanya karena cinta.

Sebab, selalu ada hal-hal nyata yang saling berkorelasi membentuk perasaan cinta itu. Bahkan, cinta akan menjadi suatu hal yang labil.

Orientasi cinta akan lebih berpacu pada logika, bagaimana cinta itu akan dipertahankan atau diputuskan.

Di lain sisi, cinta juga merupakan salah satu hal paling misterius dalam hidup. Segala hal dalam dunia ini telah dihubungkan pada teori dan logika, apakah cinta harus begitu juga

Dari sisi idealis akan membiarkan cinta itu berorientasi pada idealismenya sebagai sesuatu yang abstrak dan tak terdefinisi.

Tidak bisa dimengerti mengapa cinta itu bisa jatuh pada seseorang. Tidak juga peduli apa yang terjadi atau dikatakan oleh orang tentang cintanya.

Mencintai seseorang secara realistis atau pun idealis tetap memiliki titik lebih dan kurang masing-masing. Baik secara real atau ideal, cinta itu tetap akan menjadi pandangan yang bersifat personal. Setiap orang akan memaknai cintanya dengan proses berpikirnya sendiri.

Sebenarnya, alih-alih meributkan cinta itu harus idealis atau realistis, yang perlu dijawab adalah mana yang membuat kita bisa merasa cukup atas cinta itu?

Karena tanpa disadari, perjalanan mencari cinta adalah perjalanan untuk mencari sesuatu yang mampu membikin kita merasa cukup.

Jika mencintai seseorang baik secara ideal atau real, masih membuat dia menengok kanan dan kiri, berpikir apakah ada yang lebih baik darinya atau tidak, maka belum benar-benar menemukan cintanya.

Sebaliknya, jika seseorang yang dianggap dicinta itu telah membuatnya merasa cukup dengan mencintainya, tidak lagi mencari atau menuntut, tidak peduli ada yang lebih baik atau tidak, maka cinta itu telah menjadi cinta yang sebenarnya.

Masing-masing manusia berhak mengambil langkah atas cinta dalam hidup mereka.

Tidak peduli harus berorientasi pada hal yang bersifat ideal atau real, tapi lebih kepada mana yang bisa membuat mereka cukup untuk menemukan cinta.

Karena bisa jadi, idealisme cinta adalah realis hidup. Atau sebaliknya, realistis cinta adalah hal-hal ideal yang membentuk sebuah perasaan bernama cinta itu.

 

 

*Manusia kecil, lemah, sering terdiam tapi berisik, bingung tentang arti hubungan dan mansuia. Tertarik berdiskusi dengan Tia? Follow Instagram @tiawastiana_

Editor : Yudha Satria Aditama