Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Guru Bukan Dewa, Murid Bukan Kerbau

radar tuban digital • Senin, 17 November 2025 | 02:00 WIB

 

Refleksi mendalam tentang peran guru sebagai fasilitator dan murid sebagai subjek belajar dalam dunia pendidikan yang terus berubah.
Refleksi mendalam tentang peran guru sebagai fasilitator dan murid sebagai subjek belajar dalam dunia pendidikan yang terus berubah.

Oleh: Bambang Budiono

(Pegiat Literasi di Tuban)

RADARTUBAN - Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan Indonesia, ada satu kutipan yang terus menggema dari masa ke masa: “Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

Kalimat itu dilontarkan oleh Soe Hok Gie, seorang aktivis cum pemikir muda yang dikenal kritis terhadap berbagai bentuk otoritarianisme, termasuk dalam dunia pendidikan.

Kutipan tersebut mungkin terdengar tajam, bahkan menohok.

Tapi justru di sanalah letak kekuatannya. Ia mengajak kita untuk merenung: apakah pendidikan kita selama ini benar-benar membebaskan, atau justru menundukkan?

Dalam banyak ruang kelas, guru masih diposisikan sebagai sosok yang tak boleh dibantah. Apa yang dikatakan guru dianggap mutlak benar.

Murid yang berani bertanya atau mengkritik sering kali dicap “tidak sopan” atau “melawan.” Padahal, guru juga manusia. Bisa salah, bisa lupa, bisa keliru.

Menempatkan guru sebagai “dewa” bukan hanya tidak realistis, tapi juga berbahaya. Ia menutup ruang dialog dan membunuh semangat berpikir kritis.

Guru seharusnya menjadi fasilitator, pembimbing, dan teman belajar. Bukan hakim pengetahuan yang memvonis benar atau salah.

Di era digital seperti sekarang, peran guru semakin berubah. Informasi bisa diakses dari mana saja: Google, YouTube, media sosial.

Maka, guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan kurator informasi.

Tugasnya adalah membantu murid memilah, memahami, dan mengolah informasi dengan bijak.

Di sisi lain, murid sering kali diperlakukan seperti “kerbau” makhluk pasif yang hanya disuruh ikut, tunduk, dan patuh.

Mereka tidak diberi ruang untuk bertanya, berpendapat, apalagi berbeda pandangan.

Akibatnya, banyak murid tumbuh dengan rasa takut salah, takut bertanya, dan takut berpikir.

Padahal, murid adalah subjek pembelajaran. Mereka punya rasa ingin tahu, punya potensi, dan punya hak untuk berpikir.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mendorong murid untuk aktif, kritis, dan berani berbeda. Bukan sekadar menghafal dan mengisi lembar jawaban.

Bayangkan jika murid diberi ruang untuk berdiskusi, berdebat, dan bereksplorasi.

Mereka tidak hanya akan belajar tentang materi pelajaran, tapi juga tentang kehidupan, tentang berpikir, dan tentang menjadi manusia yang utuh.

Kutipan Soe Hok Gie adalah kritik terhadap sistem pendidikan yang otoriter dan satu arah.

Ia mengajak kita untuk membangun pendidikan yang dialogis di mana guru dan murid saling bertukar pikiran, saling mendengarkan, dan saling belajar.

Ruang kelas seharusnya menjadi tempat yang hidup. Bukan hanya tempat ceramah, tapi juga tempat diskusi. Bukan hanya tempat menerima, tapi juga tempat memberi.

Ketika guru dan murid berdialog, proses belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkan.

Pendidikan dialogis juga melatih murid untuk berpikir kritis, berani bertanya, dan menghargai perbedaan. Ini adalah bekal penting untuk menghadapi dunia yang kompleks dan penuh tantangan.

Gagasan pendidikan yang membebaskan bukan hanya milik Soe Hok Gie. Tokoh seperti Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara juga mengusung semangat yang sama.

Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, menolak model pendidikan “banking” di mana guru dianggap sebagai pemilik pengetahuan dan murid sebagai tabungan kosong yang harus diisi.

Ia mendorong pendidikan yang dialogis dan membebaskan.

Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia, juga menekankan pentingnya peran guru sebagai pembimbing.

Filosofinya yang terkenal: Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, menunjukkan bahwa guru harus memberi teladan, membangun semangat, dan mendukung murid dari belakang.

Tentu, membangun pendidikan yang dialogis bukan perkara mudah. Masih banyak tantangan di lapangan.

Kurikulum yang padat, tekanan ujian, budaya sekolah yang hierarkis, dan minimnya pelatihan guru dalam pendekatan humanis menjadi hambatan.

Namun, bukan berarti tidak bisa diubah. Banyak sekolah dan guru yang mulai membuka ruang dialog.

Mereka mendorong murid untuk bertanya, berdiskusi, dan bereksplorasi.

Mereka tidak takut dikritik, justru menjadikan kritik sebagai bahan refleksi dan pembelajaran.

Perubahan bisa dimulai dari hal kecil: memberi waktu untuk diskusi di kelas, mengajak murid berdialog tentang nilai-nilai, atau sekadar mendengarkan pendapat mereka dengan sungguh-sungguh.

Pendidikan yang Membebaskan

Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang manusiawi. Ia tidak menundukkan, tapi mengangkat. Ia tidak memaksa, tapi mengajak.

Ia tidak membungkam, tapi membuka ruang.

Dalam pendidikan seperti ini, guru dan murid sama-sama belajar.

Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Yang ada adalah semangat bersama untuk tumbuh dan berkembang.

Kutipan Soe Hok Gie bukan hanya kritik, tapi juga ajakan. Ajakan untuk membangun pendidikan yang lebih adil, lebih kritis, dan lebih membebaskan.

Pendidikan yang tidak hanya mencetak nilai, tapi juga membentuk karakter dan kemanusiaan.

“Guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau.” Kalimat ini mungkin sederhana, tapi maknanya dalam.

Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan soal kuasa, tapi soal relasi. Bukan soal kontrol, tapi soal dialog.

Mari kita ubah cara pandang kita terhadap pendidikan. Mari kita bangun ruang kelas yang lebih manusiawi. Mari kita jadikan pendidikan sebagai proses pembebasan, bukan penjinakan.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan yang membuat murid tunduk, tapi yang membuat mereka tumbuh. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#pendidikan #Sosok #guru #murid #Soe Hok Gie