Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Iran, Imtaq, dan Iptek

Ahmad Atho’illah • Minggu, 8 Maret 2026 | 17:00 WIB

Ahmad Atho’illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban
Ahmad Atho’illah, Kolumnis/Wartawan Jawa Pos Radar Tuban

RADARTUBAN - Sejarah Melos, sebuah negara pulau kecil di masa Yunani Kuno yang menolak tunduk pada Athena dan memilih berperang demi menjaga kemandirian dan kedaulatan negara, kini terulang dalam bentuk yang berbeda.

Iran, dengan integritas dan konsistensinya yang begitu kuat dalam menjaga prinsip bernegara, memilih berkalang tanah ketimbang tunduk kepada Israel dan menghamba pada leviathan Amerika, seperti negara-negara yang tergabung dalam Board of Peace (BoP).

Namun, dalam kolom yang sederhana ini, penulis menyadari tidak memiliki cukup pengetahuan ihwal geopolitik maupun geostrategi internasional. Karena itu, penulis lebih prefer membahas Iran dalam konteks kemajuan teknologinya.

Jujur, melihat kecanggihan dan kedahsyatan alat utama sistem senjata (alutsista) yang dimiliki Iran, kita—sebagai warga negara Indonesia hanya bisa tepuk jidat dan sadar diri—ternyata level negara kita—dalam bidang pertahanan dan kecanggihan teknologi masih sangat jauh.

Bahkan, bukan pada level yang tepat untuk dibandingkan dengan Negeri Para Mullah tersebut. Padahal, Iran telah dikucilkan banyak negara sekaligus mengalami tekanan embargo ekonomi dari Amerika Serikat dan sekutunya di negara-negara barat selama hampir setengah abad.

Lantas, apa yang membuat Iran mampu bertahan, dan bahkan berhasil menjadi negara maju, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, maupun teknologi? Sementara kita—80 tahun merdeka masih sibuk dengan urusan perebutan kekuasaan, korupsi, program makan tidak bergizi dan tidak gratis, hingga gentengisasi.

Dari beberapa literatur yang penulis baca, apa yang kita lihat dari Iran hari ini (keberaniannya dalam melawan Amerika dan Israel demi mempertahankan kedaulatan tanah Persia dan kemajuan teknologinya yang luar biasa), adalah buah dari investasi panjang Iran dari sebuah slogan yang pernah dipopulerkan mantan Presiden Indonesia BJ. Habibie, yakni imtaq (iman dan taqwa) dan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Selama hampir setengah abad di bawah pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei, Iran berhasil menyeimbangan antara imtaq dan iptek dalam kehidupan bernegara.

Dalam hal imtaq, warga Iran yang hampir semua berfaham Syiah—tidak perlu diragukan lagi soal keimanan dan ketakwaannya terhadap Allah Swt. Tingkat spiritualitas warga Iran bukan sekadar urusan ibadah, tapi juga menyatu dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, dan bahkan kebijakan negara.

Bagi warga Iran, cinta tanah air adalah bagian dari iman. Tidak jauh beda dengan slogan yang populer di kalangan muslim Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama: Hubbul Wathon Minal Iman. Bedanya, hubbul wathon minal iman-nya warga Iran tidak sekadar lips service seperti muslim Indonesia, yang hanya diucapkan dan dinyanyikan, tapi tidak segan korupsi dan mengubah konstitusi.

Sementara itu, dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi atau iptek, fondasi utama Iran adalah literasi. DNA ini melekat sejak Kekaisaran Persia. Sejak dulu, Iran merupakan negara dengan tradisi literasi yang sangat kuat. Budaya baca tumbuh sejak dini.

Dalam sebuah wawancara di forum Tehran International Book Fair (TIBF) pada 2024 lalu, Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Arys Hilman Nugraha mengaku takjub melihat antusias masyarakat Iran dalam mencari ilmu dan membaca buku, serta terlibat dalam berbagai tahapan diskusi. Dan menariknya, terang Arys, pengunjung TIBF berasal dari semua kalangan. Termasuk para ulama dan anak-anak.

Arys menyebut, budaya literasi di Iran sangat kuat dan tumbuh sejak dini. Iran percaya bahwa masa depan sebuah bangsa akan jauh lebih baik jika memiliki generasi yang gemar membaca.

Dalam lintasan sejarah peradaban dunia, Iran yang merupakan bagian dari tanah Persia merupakan salah satu episentrum peradaban literasi dunia. Jauh sebelum Eropa memasuki masa Renaisans, dunia Persia telah mengenal tradisi baca-tulis yang mapan, institusi pengetahuan, birokrasi berbasis dokumen, serta filsafat dan sains yang berkembang pesat. Nama-nama seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, Nashiruddin ath-Thusi, dan Jalaludin Rumi bukan sekadar tokoh Islam klasik, melainkan ikon peradaban pengetahuan global.

Literasi di Iran tidak hanya mewariskan buku, tapi juga tentang cara berpikir sistematis, rasional, dan berorientasi pada ilmu. Cara berpikir skeptis warga Iran tidak hanya dalam hal pengetahuan. Pada tataran ushuluddin, generasi muda Iran juga sangat skeptis. Utamanya dalam hal menafsirkan sebuah hadis.

Itulah yang membuat generasi muda Iran kritis, sehingga sangat mudah dalam menyerap pengetahuan.

Dalam buku Dialog Sunnah Syi’ah karya Hasyim Ali, muslim Iran tidak pernah menelan mentah-mentah setiap hadis yang dibaca. Hampir semua hadis dianalisa secara logis. Namun, penulis tidak ingin masuk terlalu dalam ihwal aqidah Syiah.

Penulis hanya ingin menegaskan bahwa dasar dari pengetahuan adalah literasi dan nalar kritis. Jika dua fondasi tersebut tumbuh sejak dini, maka tidak sulit mengembangkan teknologi. Dan itulah yang dilakukan Iran.

Dan dahsyatnya, Iran mampu menyeimbangkan antara imtaq dan iptek. Sehingga, lengkap sudah Iran sebagai negara muslim dengan tingkat spiritual dan kemajuan teknologi yang tinggi. Itulah yang dulu diimpikan BJ Habibie dengan slogannya: imtaq dan iptek.

Namun sayang, Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim tidak mampu mengejawentahkan slogan dahsyat tersebut. Bahkan, dua-duanya juga tidak jelas. Tidak sedikit yang merasa religius—memiliki keimanan dan ketakwaan malah korupsi.

Pun dengan iptek, juga tidak jelas. Di saat Iran sudah bisa menciptakan bermacam teknologi masa kini, bahkan telah mengembangkan rudal balistik dan merakit nuklir, Indonesia masih sibuk dengan korupsi dan menghitung keuntungan dari program makan bergizi.

Dari Iran kita belajar—bahwa resiliensinya dalam melawan imperialisme Amerika bukan lahir dari kekuatan senjata semata, melainkan dari tradisi literasi yang begitu panjang hingga membentuk cara berpikir kolektif sebuah bangsa.

Sekali lagi, Iran telah mengajarkan bahwa pengetahuan—yang bersumber dari literasi—adalah investasi jangka panjang untuk menghadapi ketidakpastian dunia. Dan hanya Iran pula yang mampu memadukannya dengan imtaq.

Semoga Iran bisa memenangkan perang melawan Amerika-Israel. Amin… (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#iran #sejarah #opini #Indonesia #yunani