RADARTUBAN - Pernahkah kamu membayangkan tidak ada ujian, tidak ada ranking saat tiga tahun pertama masuk Sekolah Dasar (SD).
Nyatanya, di Jepang, itu terjadi. SD di jepang menerapkan kurikulum yang di dalamnya tidak ada ujian untuk anak-anak SD di tiga tahun pertama mereka masuk.
Lalu apa yang diajarkan?
Mereka fokus membentuk karakter anak. Karena di usia 6 hingga 9 tahun adalah masa-masa kritis pembentukan karakter seseorang.
Oleh karena itu, sedini mungkin mereka diajarkan mengenai karakter. Jangan sampai otaknya saja yang jenius, tapi sikapnya minus.
Mereka menganggap kelas adalah ruang komunitas, bukan ruang kompetisi antarindividu.
Ada mata pelajaran wajib di sana yang disebut Dotoku (Pendidikan Moral). Di mana anak-anak tidak diajari untuk menghafal definisi kata "baik" tetapi diajak berdiskusi tentang perilaku.
Sekolah Tanpa Cleaning Service
Di Indonesia, Sekolah-sekolah selalu memiliki cleaning service. Namun, di SD Jepang justru tidak ada. Dari WC hingga ruang guru dibersihkan oleh murid.
Hal ini bertujuan untuk menanamkan tanggung jawab kepada para murid di sana.
Belajar Lewat Makan Siang
Makan siang (Kyushoku) menjadi bagian dari jam mata pelajaran. Tidak ada kantin, jadi para murid tidak sembarang membeli jajanan.
Saat kegiatan berlangsung, para murid bertugas bergantian untuk menjadi pelayan bagi teman sekelas. Hal ini mengajarkan kesetaraan, kita semua sama dan punya tugas masing-masing.
Alam adalah Guru Terbaik
Selain makan siang, ada juga Seikatsu. Di sini, para murid akan diajari menanam sayur sendiri di halaman sekolah hingga panen.
Mereka diajari bagaimana proses penanaman sayur tersebut agar mereka bisa menghargai makanan yang ada di piring mereka.
Tanpa adanya tekanan dari ujian di usia dini, rasa percaya diri para murid akan tumbuh secara alami. Mereka merasa aman, dihargai, dan punya peran di komunitasnya.
Jika karakter sudah dibentuk dengan baik, maka secara perlahan kemampuan akademis akan ikut berkembang dengan sendirinya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni