RADARTUBAN - Era keemasan Manchester United pada 1990-an menjadi momen yang tak terlupakan bagi para penggemarnya.
Eric Cantona menjadi sosok penting dalam dominasi klub di awal era Premier League.
Sosoknya tidak hanya memukau di lapangan, tetapi juga dikenal karena hubungan istimewanya dengan sang pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson.
Artikel ini membahas kisah unik Cantona, peran pentingnya, serta bagaimana ia menjadi bintang utama di tim Manchester United yang penuh prestasi.
Manchester United menunjukkan kekuatan dominannya di awal terbentuknya Premier League.
Klub ini berhasil menjuarai liga enam kali antara musim 1992-93 hingga 1999-00.
Selain itu, mereka juga meraih gelar ganda dengan memenangkan Piala FA pada tahun 1994 dan 1996.
Prestasi terbesar diraih pada tahun 1999 saat United memenangkan treble, Premier League, Piala FA, dan Liga Champions, sebuah pencapaian yang hingga kini masih dikenang dalam sejarah sepak bola Eropa.
Lee Sharpe, mantan PFA Young Player of the Year, merupakan bagian dari skuad yang mengukir sejarah tersebut.
Ia meraih tiga gelar Premier League bersama United sebelum melanjutkan karier ke Leeds United, Sampdoria, dan Bradford City.
Namun, persaingannya dengan Ryan Giggs di posisi sayap kiri membuatnya kerap berada di bangku cadangan.
Sharpe memainkan hampir 200 pertandingan liga bersama United di era First Division dan Premier League.
Pada tahun 1992, Manchester United membuat langkah besar dengan merekrut Eric Cantona dari Leeds United.
Cantona dikenal sebagai gelandang flamboyan asal Prancis yang penuh semangat.
Dalam sebuah wawancara dengan FourFourTwo, Lee Sharpe mengungkapkan bagaimana Cantona mendapatkan perlakuan istimewa dari Ferguson.
“Dia bukan sekadar murid kesayangan, dia seperti anak yang sudah lama hilang bagi Sir Alex pada satu titik,” ungkap Sharpe.
“Eric diperlakukan sangat berbeda di ruang ganti... Itu luar biasa untuk dilihat, tapi juga cukup lucu. Kami tidak keberatan karena pada akhirnya, Eric memang luar biasa.”
Cantona memang tampil luar biasa di lapangan. Ia membantu Manchester United memenangkan tiga dari empat gelar Premier League pertama.
Namun, ia juga dikenal karena kontroversi, salah satunya insiden kartu merah melawan Crystal Palace pada tahun 1995 yang berujung larangan bermain selama delapan bulan.
“Kalau pemain lain yang melakukan itu, mereka pasti langsung dipecat di ruang ganti setelah pertandingan,” ujar Sharpe yang turun sebagai starter dalam laga tersebut.
“Tapi untuk Eric, manajer malah memeluknya dan berkata, ‘Jangan khawatir, kami akan menjaga kamu,’ dan memang begitu kenyataannya. Mereka membawanya kembali, dan dia tampil luar biasa.”
Eric Cantona kembali ke lapangan pada Oktober 1995 dalam laga melawan Liverpool dan mencetak gol penting di final Piala FA melawan lawan yang sama pada akhir musim 1995-96. Ia kembali membawa United meraih gelar ganda.
Atas kontribusinya, Cantona dinobatkan sebagai Pemain Asing Terbaik Dekade Pertama Premier League.
Ia bukan hanya pemain, melainkan ikon yang mengubah wajah Manchester United dan Premier League. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni