Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Nyaris Dijual hingga Jadi Andalan, Transformasi Raphinha di Era Flick

Bihan Mokodompit • Selasa, 13 Januari 2026 | 11:35 WIB
Hansi Flick (kiri) merupakan pengagum berat Raphinha.
Hansi Flick (kiri) merupakan pengagum berat Raphinha.

RADARTUBAN - Kisah Raphinha, pemain Barcelona menjadi salah satu cerita transformasi paling menonjol sejak Hansi Flick resmi menangani Blaugrana pada 2024.

Pemain asal Brasil itu mengakui bahwa dirinya sempat berada di ambang pintu keluar klub sebelum akhirnya diyakinkan Flick untuk bertahan.

Raphinha menyebut kedatangan pelatih asal Jerman tersebut sebagai titik balik terbesar dalam kariernya bersama Barcelona.

Dalam wawancara yang dikutip media internasional, Raphinha mengatakan bahwa Flick memiliki peran nyaris sepenuhnya dalam perubahan performanya.

“Saya hampir pergi dari klub ini, bisa dibilang satu kaki saya sudah di luar, tetapi Hansi Flick meyakinkan saya untuk bertahan,” ujar Raphinha.

Perubahan itu kembali terlihat saat Raphinha tampil menentukan dalam laga final Piala Super Spanyol melawan Real Madrid.

Raphinha mencetak dua gol penting yang mengantar Barcelona meraih kemenangan dramatis 3–2 atas rival abadinya.

Satu gol dicetak pada babak pertama, sementara gol penentu kemenangan lahir lewat tembakan yang sempat membentur pemain lawan.

Penampilan tersebut menegaskan kembali status Raphinha Barcelona sebagai figur kunci dalam skema permainan Flick.

Performa energik Raphinha menjadi ciri khas Barcelona sepanjang musim debut Flick yang berujung pada treble domestik.

Kondisi itu sangat kontras dengan dua musim awal Raphinha di Spanyol saat masih dilatih Xavi Hernández.

Sejak bergabung pada 2022, Raphinha kerap tampil inkonsisten meski beberapa kali menunjukkan potensi besar.

Persaingan semakin ketat ketika Lamine Yamal muncul sebagai opsi utama di posisi sayap kanan.

Situasi tersebut memunculkan spekulasi mengenai masa depan Raphinha Barcelona pada musim panas 2024.

Isu semakin menguat saat Barcelona dikaitkan dengan winger Athletic Club, Nico Williams, usai Euro 2024.

Namun, pandangan Hansi Flick berbeda sejak hari pertama ia mengambil alih kursi pelatih.

Flick memindahkan Raphinha ke sayap kiri demi menyeimbangkan permainan dan memaksimalkan perannya.
Keputusan tersebut terbukti efektif dan membuat Raphinha menjadi pemain inti tanpa tergantikan.

Sejak era Hansi Flick dimulai, Raphinha mencatatkan total 75 kontribusi gol dan assist di semua kompetisi.

Catatan itu menjadi yang tertinggi di antara seluruh pemain Barcelona dalam periode yang sama.

Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari statistik, tetapi juga dari intensitas permainan Raphinha.

Hansi Flick memuji mentalitas dan etos kerja Raphinha yang berdampak besar bagi tim.

“Mentalitasnya luar biasa dan energinya memengaruhi seluruh tim,” kata Flick.

“Anda bisa melihat bagaimana dia bangkit setelah gagal di peluang pertama dan kemudian mencetak gol,” tambahnya.

Kontribusi Raphinha Barcelona juga terasa saat tim kehilangan dirinya akibat cedera hamstring.

Absennya Raphinha selama hampir dua bulan bertepatan dengan beberapa kekalahan penting Barcelona.

Barcelona tercatat kalah dari Sevilla, Paris Saint-Germain, dan Real Madrid dalam periode tersebut.

Menariknya, Raphinha tidak pernah menjadi starter dalam empat kekalahan Barcelona musim ini.

Saat Raphinha bermain sejak awal, Barcelona mencatatkan 13 kemenangan dan satu hasil imbang dari 14 laga.

Fakta tersebut memperkuat peran vital Raphinha Barcelona dalam sistem permainan Flick.

Transformasi ini membuat keputusan Flick mempertahankan Raphinha terbukti sangat krusial.

Kini, Raphinha tidak hanya menjadi simbol kebangkitan individu, tetapi juga fondasi permainan Barcelona. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#rapinha #jerman #flick #Barcelona #Klub