RADARTUBAN - Juventus boleh berkali-kali tersandung di ambang tangga juara Liga Champions, tetapi sejarah mereka di panggung tertinggi Eropa tak pernah kosong.
Ada nama, ada angka, dan ada cerita panjang tentang kesetiaan, tekanan, serta ekspektasi yang nyaris selalu tak ramah.
Data terbaru yang dirilis UEFA—diolah dan dipublikasikan ulang oleh akun X GlobalStatsX—menegaskan satu hal: Juventus dibangun oleh figur, bukan sekadar musim.
Alessandro Del Piero berdiri paling depan. Empat puluh tiga gol di Liga Champions. Angka itu bukan kebetulan.
Itu hasil dari satu dekade lebih berada di pusat sorotan, memikul beban sebagai simbol klub, bahkan ketika Juventus terlempar ke Serie B. Di Eropa, Del Piero bukan hanya pencetak gol. Ia penentu arah.
Del Piero, Trezeguet, dan Naluri Gol yang Berbeda
Di belakang Del Piero, David Trezeguet menempel dengan 28 gol. Penyerang Prancis itu mungkin tak seelok Del Piero dalam membangun narasi, tapi efisiensinya dingin dan mematikan. Satu sentuhan, satu gol—sering kali di momen krusial.
Nama Paulo Dybala muncul di posisi ketiga dengan 18 gol. Ini penting. Dybala bukan produk era dominasi Eropa Juventus, melainkan bagian dari generasi yang terus mencoba memecah kebuntuan sejarah.
Di Liga Champions, ia kerap menjadi tumpuan kreativitas sekaligus harapan terakhir.
Menariknya, Michel Platini dan Filippo Inzaghi sama-sama mencatat 17 gol. Dua karakter bertolak belakang. Platini, maestro lini tengah yang elegan. Inzaghi, predator kotak penalti yang hidup dari insting. Juventus pernah punya keduanya—dan itu kemewahan yang jarang disadari.
Álvaro Morata menutup daftar enam besar dengan 15 gol. Ia bukan legenda klasik, tetapi selalu hadir di momen besar.
Gol-gol Morata di Liga Champions sering datang saat Juventus benar-benar membutuhkannya.
Buffon dan Loyalitas yang Sulit Ditandingi
Jika gol adalah cerita depan panggung, maka penampilan adalah fondasi. Gianluigi Buffon mencatat 117 laga Liga Champions bersama Juventus.
Angka itu bukan sekadar rekor klub—itu potret kesetiaan di level elite, di era ketika pemain mudah pergi demi trofi.
Buffon tidak selalu juara, tetapi selalu bertahan. Mantan portiere Parma itu menyaksikan pergantian generasi, final yang gagal, dan mimpi yang runtuh, namun tetap berdiri di bawah mistar.
Del Piero menyusul dengan 91 laga. Kemudian ada Leonardo Bonucci (84), Giorgio Chiellini (75), Alessio Tacchinardi (70), dan Gianluca Pessotto (67).
Nama-nama ini menegaskan satu benang merah: Juventus di Eropa dibangun oleh inti pemain yang bertahan lama, bukan proyek instan.
Juventus dan Paradoks Liga Champions
Daftar ini sekaligus membuka paradoks lama. Juventus kaya sejarah, penuh legenda, tetapi miskin trofi Liga Champions dalam dua dekade terakhir. Mereka selalu dekat, sering relevan, namun jarang sampai garis akhir.
Justru di situlah nilai daftar ini. Ini bukan tentang kegagalan, melainkan konsistensi berada di level tertinggi.
Tidak banyak klub yang bisa menyebut nama yang sama berulang kali di statistik UEFA selama puluhan tahun.
Lebih dari Statistik, Ini Soal Identitas
Angka-angka ini tidak berdiri sendiri. Mereka adalah potongan identitas Juventus: klub yang keras kepala, setia pada figur, dan percaya bahwa sejarah dibangun perlahan.
Liga Champions mungkin belum selalu berpihak, tetapi nama-nama ini memastikan Juventus tak pernah sekadar numpang lewat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni