RADARTUBAN - European Super League akhirnya resmi dinyatakan berakhir setelah UEFA, European Football Clubs (EFC), dan Real Madrid mencapai kesepakatan prinsip yang menutup konflik panjang sejak 2021.
Kesepakatan ini diumumkan melalui pernyataan bersama pada Rabu waktu setempat.
Langkah tersebut menjadi titik akhir dari polemik European Super League yang sempat mengguncang fondasi sepak bola Eropa.
Akhir Konflik Panjang dengan UEFA
Real Madrid sebelumnya menjadi motor utama di balik pembentukan European Super League pada April 2021.
Kompetisi itu dirancang sebagai turnamen elite yang digelar di tengah pekan dan diproyeksikan menjadi pesaing langsung Liga Champions.
Namun, gelombang kritik dari suporter, federasi, dan berbagai pemangku kepentingan membuat sembilan dari 12 klub pendiri mundur hanya dalam hitungan hari.
Klub-klub besar Premier League termasuk di antara yang pertama menarik diri dari proyek European Super League.
Juventus bertahan hingga musim panas 2024 sebelum akhirnya menyatakan keluar.
Barcelona menjadi klub terakhir yang tetap bersama Real Madrid sebelum akhirnya melepas dukungan pada akhir pekan lalu.
Tiga hari berselang, Real Madrid pun mengambil langkah serupa.
Dalam pernyataan resminya, UEFA, EFC, dan Real Madrid menyampaikan komitmen baru bagi masa depan sepak bola Eropa.
“Setelah berbulan-bulan diskusi yang dilakukan demi kepentingan terbaik sepak bola Eropa, UEFA, European Football Clubs (EFC), dan Real Madrid CF mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan prinsip demi kesejahteraan sepak bola klub Eropa, dengan tetap menghormati prinsip prestasi olahraga, menekankan keberlanjutan jangka panjang klub, serta peningkatan pengalaman penggemar melalui pemanfaatan teknologi.”
Pernyataan itu juga menyinggung penyelesaian sengketa hukum yang sebelumnya bergulir.
“Kesepakatan prinsip ini juga akan menjadi dasar penyelesaian sengketa hukum terkait European Super League, setelah prinsip-prinsip tersebut dijalankan dan diterapkan.”
Putusan Pengadilan dan Sikap Florentino Perez
Sebelum tercapai kesepakatan, Presiden Real Madrid Florentino Perez sempat menegaskan sikap tegasnya.
Ia menyatakan klub akan terus memperjuangkan hak menyelenggarakan kompetisi di luar naungan UEFA.
Upaya Real Madrid mendapat dorongan setelah Mahkamah Eropa memutuskan bahwa UEFA dan FIFA melanggar hukum Uni Eropa karena menghambat pembentukan European Super League.
Putusan itu menjadi dasar hukum penting bagi klub yang terlibat dalam European Super League.
Meski demikian, kesepakatan terbaru menunjukkan bahwa jalur damai lebih dipilih dibanding melanjutkan proses hukum berkepanjangan.
Dengan demikian, konflik antara UEFA dan Real Madrid terkait European Super League kini memasuki babak baru yang lebih konstruktif.
Fokus Kembali ke Liga Champions
Setelah polemik mereda, Real Madrid kini mengalihkan perhatian penuh ke Liga Champions.
Hasil kurang memuaskan di fase liga membuat posisi mereka melorot ke peringkat kesembilan.
Kekalahan 2-4 dari Benfica memaksa Real Madrid menjalani babak play-off untuk merebut tiket 16 besar Liga Champions.
Ironisnya, lawan yang dihadapi kembali adalah Benfica.
Pertandingan dua leg tersebut akan digelar dalam waktu dekat.
Real Madrid harus tampil tanpa Jude Bellingham yang mengalami cedera hamstring.
Absennya gelandang asal Inggris itu menjadi kerugian besar bagi tim.
Di sisi lain, Trent Alexander-Arnold dikabarkan sudah pulih dan siap memperkuat lini belakang.
Kehadirannya diharapkan menambah stabilitas pertahanan Real Madrid di ajang Liga Champions.
Pelatih dan tim pelatih kini dituntut mengevaluasi kesalahan pada laga sebelumnya.
Mentalitas dan strategi menjadi faktor kunci jika ingin melangkah jauh di Liga Champions musim ini.
Kesepakatan damai soal European Super League membuat perhatian publik kembali tertuju pada persaingan di lapangan hijau.
Kini, Real Madrid harus membuktikan bahwa ambisi mereka cukup dijawab lewat prestasi di Liga Champions, bukan lagi melalui proyek European Super League. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni