RADARTUBAN - Kabar tentang Wilfried Zaha Ngamuk di Snapchat menjadi sorotan publik sepak bola setelah mantan bintang Crystal Palace itu meluapkan kekecewaannya terhadap komentar warganet yang meragukan kualitasnya.
Reaksi tersebut muncul setelah sebuah unggahan di media sosial menyebut Wilfried Zaha bahkan tidak masuk tiga besar pemain terbaik sepanjang masa Crystal Palace dari segi kemampuan individu.
Pernyataan itu memicu respons langsung dari Wilfried Zaha melalui akun Snapchat pribadinya pada Jumat malam waktu setempat.
Merasa Diremehkan, Zaha Buka Suara
Dalam unggahan yang kini telah dihapus, Wilfried Zaha menyampaikan keberatannya atas penilaian tersebut.
Dia menilai publik terlalu cepat melupakan kontribusinya bersama Crystal Palace selama bertahun-tahun.
Berikut kutipan lengkap yang ditulis Zaha hingga memancing warganet.
“Penghinaan terhadap nama saya setiap hari. Harusnya ditertawakan saja... orang-orang cepat sekali lupa. Mari kita kilas balik... saya adalah winger favorit dari winger favorit kalian. Hanya karena saya bermain di Palace bukan berarti saya bukan salah satu yang terbaik di dunia di posisi saya,” kata dia.
Pernyataan itu menjadi inti dari polemik Wilfried Zaha Ngamuk di Snapchat yang ramai diperbincangkan.
Hingga kini belum dapat dipastikan apakah komentar awal yang memicu respons tersebut benar berasal dari pendukung Crystal Palace atau bukan.
Perjalanan Karier Setelah Tinggalkan Crystal Palace
Wilfried Zaha meninggalkan Crystal Palace pada musim panas 2023 dengan status bebas transfer.
Dia kemudian bergabung dengan Galatasaray dan sempat merasakan atmosfer Liga Champions.
Pada musim pertamanya di Turki, Wilfried Zaha mencetak 10 gol di semua kompetisi.
Namun, ia dipinjamkan ke Lyon setelah performanya menurun dan sempat diganggu cedera.
Di Prancis, dia hanya mencatatkan enam penampilan.
Awal 2025, Wilfried Zaha melanjutkan kariernya di Major League Soccer bersama Charlotte FC dengan status pinjaman.
Sementara itu, Crystal Palace memilih tidak mencari pengganti langsung setelah kepergian Wilfried Zaha.
Tanggung jawab lini depan lebih banyak diberikan kepada Michael Olise dan Eberechi Eze.
Era Baru Tanpa Zaha di Selhurst Park
Michael Olise tampil impresif sebelum akhirnya dijual ke Bayern Munich pada musim panas 2024.
Dalam musim terakhirnya bersama Crystal Palace, Michael Olise mencetak 10 gol dalam 19 laga Liga Inggris.
Kini, Michael Olise menjadi salah satu playmaker paling produktif di Eropa dengan 23 assist di semua kompetisi musim ini.
Sementara itu, Eberechi Eze juga dilepas ke Arsenal dengan nilai transfer mencapai 67,5 juta poundsterling.
Eberechi Eze berpeluang meraih gelar Liga Inggris jika Arsenal mampu mempertahankan posisi puncak klasemen hingga akhir musim.
Kepergian Michael Olise dan Eberechi Eze menandai berakhirnya era penting di Crystal Palace yang sebelumnya juga diperkuat Wilfried Zaha.
Dukungan Mengalir untuk Wilfried Zaha
Meski sempat muncul kritik, banyak pendukung Crystal Palace memberikan pembelaan kepada Wilfried Zaha.
Sebagian besar menilai Wilfried Zaha tetap sebagai ikon klub karena kontribusinya dalam membantu tim bertahan di Liga Inggris.
Dukungan tersebut menjadi respons atas polemik Wilfried Zaha Ngamuk di Snapchat yang viral di berbagai platform.
Beberapa penggemar menyebut hanya Michael Olise yang secara kemampuan individu bisa disejajarkan atau bahkan melampaui Wilfried Zaha.
Namun dari sisi loyalitas dan pengaruh di lapangan, banyak yang tetap menempatkan Wilfried Zaha di posisi teratas dalam sejarah modern Crystal Palace.
Perdebatan ini menunjukkan betapa besar warisan Wilfried Zaha di mata publik Selhurst Park.
Terlepas dari pro dan kontra, kontribusi Wilfried Zaha untuk Crystal Palace tetap tercatat dalam sejarah klub.
Polemik Wilfried Zaha Ngamuk di Snapchat sekaligus menjadi pengingat bahwa reputasi seorang pemain sering kali dinilai berbeda oleh tiap generasi pendukung. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama