RADARTUBAN – Panggung besar, tekanan maksimal, dan satu kesalahan bisa berujung mimpi buruk.
Namun di tengah atmosfer laga play-off Liga Champions, nama Luca Reggiani justru muncul sebagai cerita segar.
Bek Italia kelahiran 2008 itu mencatatkan esordio sempurna di Liga Champions, sebuah debut yang jarang—bahkan nyaris mustahil—didapatkan pemain seusianya di tanah kelahirannya sendiri.
Reggiani baru berusia 18 tahun. Tapi pemain kelahiran Castelvetro, Italia itu sudah dipercaya tampil di laga eliminasi, level tertinggi kompetisi antarklub Eropa.
Kepercayaan itu datang bukan dari Serie A, melainkan dari Borussia Dortmund, klub yang selama ini dikenal berani mengambil risiko pada pemain muda.
Fakta tersebut disorot tajam oleh jurnalis Italia Guido Olivares melalui akun X miliknya.
Pergi untuk Diakui
Kalimat “É dovuto andare a Dortmund per affermarsi” terasa pahit, namun jujur. Reggiani harus meninggalkan Italia demi mendapatkan kepercayaan yang tidak datang di rumah sendiri.
Di Jerman, kesalahan pemain muda dianggap bagian dari proses. Di Italia, kesalahan sering kali jadi vonis.
Dortmund kembali menunjukkan identitasnya: klub besar yang tidak takut menaruh nasib pertandingan pada bahu pemain belia.
Reggiani tidak diturunkan sebagai eksperimen, melainkan sebagai pilihan kompetitif.
Atalanta, Pengecualian yang Terus Disebut
Dalam kritik Olivares, hanya satu klub Italia yang disebut sebagai pengecualian: Atalanta.
Klub asal Bergamo itu memang konsisten memberi ruang bagi pemain muda—bahkan di level Eropa.
Namun pertanyaannya tajam dan relevan: selain Atalanta, siapa lagi?
Klub-klub besar Serie A dengan sejarah, finansial, dan ambisi Eropa justru sering memilih jalur aman—pemain matang, nama besar, risiko minimal.
Ironi Regenerasi Sepak Bola Italia
Debut Reggiani di Liga Champions membuka kembali diskusi lama: Italia tidak kekurangan talenta, tetapi kekurangan keberanian.
Saat negara lain menjadikan kompetisi elite sebagai tempat pembelajaran, Italia masih menjadikannya ruang eksklusif bagi pemain “siap pakai”.
Reggiani sudah membuktikan bahwa usia bukan penghalang, asal kepercayaan diberikan.
Ironisnya, pembuktian itu terjadi jauh dari Serie A, di stadion Eropa, dengan seragam klub Jerman.
Sebuah Pertanyaan yang Masih Menggantung
Debut ini mungkin hanya satu pertandingan. Tapi maknanya jauh lebih besar. Luca Reggiani bukan sekadar bek muda yang tampil rapi.
Ia adalah cermin—tentang apa yang bisa terjadi jika talenta diberi panggung, dan tentang apa yang hilang ketika keberanian absen.
Pertanyaan Guido Olivares masih menggantung di udara. Dan sampai hari ini, jawabannya tetap terasa sunyi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni