RADARTUBAN - Dua raksasa Serie A asal Kota Milan mencatat sejarah finansial baru, tetapi ironi tetap terasa.
AC Milan dan Inter menorehkan pendapatan komersial tertinggi sepanjang sejarah klub masing-masing.
Namun di level Eropa, capaian itu belum cukup untuk mengangkat mereka ke jajaran elite.
Data terbaru dari Transfermarkt, bersumber dari laporan resmi UEFA, menunjukkan bahwa meski grafik pendapatan menanjak tajam, Milan dan Inter tetap berada di luar 10 besar klub dengan pendapatan komersial tertinggi di Eropa tahun 2025.
Angka Naik, Peringkat Tak Bergeser
Inter mencatat pendapatan komersial sebesar 162 juta euro, naik 26 persen dibanding tahun sebelumnya—lonjakan signifikan yang mencerminkan pertumbuhan brand dan ekspansi pasar. Namun, angka itu “hanya” menempatkan Nerazzurri di peringkat 12 Eropa.
Sementara itu, AC Milan membukukan 158 juta euro, meningkat 9 persen, dan berada di posisi 14.
Bagi dua klub sebesar Milan dan Inter, capaian ini menunjukkan kemajuan, sekaligus batas yang belum mampu ditembus.
Dominasi Lama yang Belum Tergoyahkan
Di papan atas, jurang masih menganga. Real Madrid memimpin dengan 568 juta euro, disusul Barcelona (499 juta euro) dan Manchester City (426 juta euro).
Klub-klub ini bukan hanya kuat di lapangan, tetapi juga jauh lebih agresif dan global dalam monetisasi merek.
Fakta ini menegaskan bahwa pertumbuhan Milan dan Inter masih bersifat domestik dan regional, belum sepenuhnya menembus pasar global seperti rival-rival dari Spanyol dan Inggris.
Serie A Mulai Bangkit, Tapi Terlambat Start
Lonjakan pendapatan Milan dan Inter adalah sinyal positif bagi Serie A. Namun, secara struktural, liga Italia tertinggal terlalu lama dalam urusan komersialisasi: stadion tua, hak siar kalah saing, dan strategi global yang baru dirapikan dalam beberapa tahun terakhir.
Ketika klub-klub Premier League dan La Liga sudah menjual “gaya hidup”, Serie A baru sibuk memperbaiki fondasi. Hasilnya terlihat sekarang—tumbuh, tapi belum cukup cepat.
Masalah Bukan Uang, Tapi Skala
Milan dan Inter tidak miskin. Mereka sehat, stabil, dan terus berkembang. Namun sepak bola elite Eropa kini soal skala: seberapa global jangkauan sponsor, seberapa kuat daya jual brand, dan seberapa sering klub tampil di panggung terbesar.
Tanpa konsistensi di Liga Champions dan modernisasi infrastruktur, pendapatan komersial Serie A akan terus naik… tapi tetap tertinggal.
Rekor yang Layak Dirayakan, Tapi Belum Saatnya Puas
Bagi Milan dan Inter, ini bukan kegagalan. Ini tahap. Rekor pendapatan adalah fondasi penting, tetapi belum tiket masuk ke meja makan para raksasa Eropa.
Uang sudah mulai datang. Sekarang, tantangannya satu: mengubah pertumbuhan menjadi dominasi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni