Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Terungkap! Pemain Tottenham Terancam Pemotongan Gaji 50 Persen Jika Terdegradasi dari Premier League

Tulus Widodo • Jumat, 6 Maret 2026 | 18:00 WIB

Tottenham Hotspur  saat kalah dari Arsenal
Tottenham Hotspur saat kalah dari Arsenal

RADARTUBAN - Kabar mengejutkan datang dari internal Tottenham Hotspur. Klub asal London Utara itu ternyata memiliki klausul tegas dalam kontrak para pemainnya: pemotongan gaji besar-besaran jika tim sampai terdegradasi dari Premier League.

Informasi ini diungkap jurnalis senior David Ornstein, yang dikenal sebagai salah satu sumber paling kredibel dalam pemberitaan sepak bola Inggris.

Dalam laporannya, Ornstein menyebut: “Sebagian besar pemain Tottenham Hotspur akan dikenai pemotongan gaji sekitar 50 persen jika klub terdegradasi dari Premier League.”

Kabar ini pertama kali ramai dibicarakan setelah disebarkan oleh akun sepak bola Extra Time Indonesia di platform X.

Strategi Daniel Levy Mengantisipasi Skenario Terburuk

Klausul pemotongan gaji tersebut bukan aturan baru yang muncul tiba-tiba. Kebijakan ini sudah menjadi bagian dari strategi manajemen klub di era kepemimpinan Daniel Levy.

Dalam laporan yang sama dijelaskan bahwa aturan tersebut diterapkan secara sistematis dalam kontrak pemain.

“Klausul ini diterapkan di semua kesepakatan kontrak di era kepemimpinan Daniel Levy.”

Artinya, hampir seluruh pemain yang menandatangani kontrak baru dengan Tottenham sejak beberapa tahun terakhir telah menyetujui skema tersebut.

Langkah ini menunjukkan pendekatan manajemen yang sangat berhati-hati dalam mengelola risiko finansial klub.

Perlindungan Finansial Jika Terdegradasi

Degradasi dari Premier League dikenal sebagai salah satu mimpi buruk terbesar bagi klub sepak bola Inggris.

Selain kehilangan prestise, klub juga harus menghadapi penurunan pendapatan yang sangat drastis.

Hak siar televisi, sponsor, hingga pemasukan komersial bisa merosot tajam.

Karena itu, Tottenham memasukkan klausul khusus yang berfungsi sebagai tameng keuangan klub.

Dalam laporan tersebut dijelaskan: “Ini memberikan perlindungan bagi Tottenham terhadap skenario terburuk degradasi.”

Dengan kata lain, klub tidak akan terbebani struktur gaji besar jika suatu saat harus bermain di kompetisi yang level pendapatannya jauh lebih rendah.

Pesan Tegas untuk Para Pemain

Di luar aspek finansial, klausul ini juga membawa pesan psikologis yang kuat bagi skuad.

Potensi pemotongan gaji hingga 50 persen jelas bukan angka kecil bagi para pemain profesional.

Kebijakan tersebut secara tidak langsung menjadi pengingat bahwa performa tim sangat menentukan stabilitas karier dan pendapatan mereka.

Dalam dunia sepak bola modern, klausul seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Beberapa klub Inggris lain juga memiliki skema serupa, terutama bagi tim yang secara realistis berpotensi terlibat dalam zona degradasi.

Namun, fakta bahwa Tottenham—klub yang secara historis berada di papan atas—memasukkan klausul tersebut tetap menjadi sorotan.

Realitas Bisnis Sepak Bola Modern

Kasus ini menunjukkan satu hal yang semakin jelas dalam sepak bola modern: klub tidak lagi hanya berpikir soal prestasi di lapangan, tetapi juga keberlanjutan finansial.

Manajemen Tottenham tampaknya tidak ingin mengambil risiko jika skenario terburuk terjadi.

Bagi publik sepak bola, kabar ini membuka sisi lain dari industri yang jarang terlihat—bagaimana klub besar sekalipun harus menyiapkan “rencana darurat” demi menjaga stabilitas ekonomi mereka.

Dan bagi para pemain Tottenham, klausul ini menjadi pengingat sederhana namun keras: performa di lapangan bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga soal nilai kontrak mereka sendiri. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#degradasi #premier league #Tottenham Hotspur