Satu lagi, kuliner ekstrem diproduksi di Tuban. Namanya keripik daun jati. Seperti namanya, keripik ini dibuat dari daun pohon jati. Makanan ini menambah perbendaharaan kuliner tak lazim lain yang lebih dulu muncul; ampo (makanan dari tanah liat) dan keripik gedebog (pelepah pohon pisang).
KIFANI AMALIA PUTRI, Tuban, Radar Tuban
KREATIVITAS Ivon Mey Rinda, sang pembuat keripik bisa dibilang antimainstream. Tatarannya sangat aneh. Di luar kewajaran. Daun jati yang lazimnya dijadikan pembungkus makanan, justru menjadi kudapan.
Ketidaklaziman tersebut karena serat daun ini yang sangat kasar. Saking kasarnya, muncul pemeo sapi dan kambing pun tak doyan. Dan, hanya ungker atau ulat daun jati yang bisa melumat daun bak lembar terpal tersebut.
‘’Ide membuat keripik jati lahir dari kondisi yang men desak,’’ tutur Ivon, panggilan akrab Ivon Mey Rinda ketika diwawancarai Jawa Pos Radar Tuban, Kamis (6/7).
Diceritakannya, di awal pandemi Covid-19 pada 2020, ekonomi keluarganya mengalami guncangan hebat. Itu setelah usaha agen makanan ringan dan katering yang dijalankan nyaris tanpa pesanan. Dia pun sama sekali tak memiliki pendapatan. Untuk menyambung hidup, perempuan 27 tahun itu harus memutar otak.
‘’Mulanya saya melihat begitu banyak daun jati di pekarangan rumah yang berjatuhan
dan berserakan,’’ kata perempuan yang tinggal di Desa Kowang, Kecamatan Semanding itu.
Untuk menjadikan daun jati sebagai keripik, terang Ivon, dia harus mampu ‘’menaklukkan’’ tekstur kasarnya. Plus permukaannya yang berbulu. Untuk melunakkan, dia mengaku harus merebusnya terlebih dahulu setelah menyuci bersih.
Perebusan tersebut sekaligus untuk menghilangkan kandungan berbahaya pada daun tersebut.
‘’Setelah teksturnya lunak, saya tinggal membalutnya dengan tepung seperti membuat rempeyek,’’ ujar dia yang merahasiakan racikan bumbu tepung pembalutnya.
Perempuan berjilbab itu mengaku tidak memilih daun jati jenis tertentu. Dia menyebut semua jenis daun jati bisa diolah menjadi keripik. Hanya saja, daun yang dipilih tidak terlalu tua maupun terlalu muda.
Setelah home industry yang dirintis memiliki pasar, perempuan lulusan administrasi negara Universitas Terbuka Tuban itu harus memproduksi dalam jumlah besar.
‘’Sehari rata-rata menghabiskan 5 kilogram (kg) daun jati,’’ tuturnya.
Kalau banyak pesanan, Ivon mengaku harus menda tangkan daun jati dari kampung setempat.
Sebelum produknya dikenal, kata dia, banyak masyarakat yang gamang membeli keripik daun jatinya. Terlebih, di Tuban daun ini banyak dipakai pembungkus nasi pecel.
‘’Tidak salah kalau mereka membayangkan menyantap nasi pecel sekalian bungkusnya,’’ ujar ibu tiga anak itu terkekeh.
Setelah beberapa konsumennya merasakan keunikan dan kekhasan keripik daun jatinya, lanjut Ivon, mereka ketagihan.
Dia mengungkapkan keripik daun jati dengan kemasan modern plastik berklip dipasarkan di sejumlah kabupaten/kota di Jatim. Pasar berikutnya dirambah Bekasi, Jakarta, hingga Kalimantan.
‘’Alhamdulillah, usaha saya ini beromzet jutaan rupiah per bulan,’’ ujarnya.
Agar bisa dinikmati semua kalangan, Ivon mengaku memproduksi dengan tiga varian rasa, yakni rasa original, pedas bawang goreng, dan pedas nori. Per kemasan keripik daun jati dibanderol dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 12.500.
Dengan produk anti mainstreamnya tersebut, Ivon dikenal di kalangan pengusaha luar daerah. Bahkan, dia pernah diundang untuk mengikuti pelatihan ekonomi kreatif di Jember yang dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. (*/ds)
Editor : Adib Turmudzi