Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Gua Ngerong Ternyata Punya Lorong 1,78 Km, Hanya Bisa Dieksplor Malam Hari

M. Mahfudz Muntaha • Senin, 10 November 2025 | 03:10 WIB

 

 

Para penjelajah Gua Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel menaiki perahu karet menyusuri di dalam gua.
Para penjelajah Gua Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel menaiki perahu karet menyusuri di dalam gua.

RADARTUBAN - Gua Ngerong di Desa Rengel, Kecamatan Rengel bukan sekadar tempat wisata, namun lorong panjang 1,78 km yang menantang nyali setiap penjelajah.

Panjang lorongnya jauh melewati batas yang dilihat pengunjung biasa.

“Kalau cuma main air di luar, itu baru kulitnya. Di dalamnya masih panjang banget,” kata Kharisma Yuda, pegiat caving asal Rengel saat berbagi kisah kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Yuda bercerita, dari sekian banyak gua di Tuban, Ngerong jadi favorit para penjelajah bawah tanah.

Jalurnya panjang, medannya menantang.

“Cocok buat yang suka petualangan di perut bumi,” ujarnya.

Masuknya pun tak bisa sembarangan. Harus malam hari, antara pukul 19.00 hingga 03.00 dini hari.

Alasannya sederhana, tapi ekstrem: ribuan kelelawar penghuni gua baru keluar pada jam itu.

“Dipilih waktu malam karena pada saat itu ribuan kelelawar yang menghuni mulut hingga ujung gua meninggalkan gua. Keberadaan kelelawar menjadikan ketersediaan oksigen di dalam gua sangat terbatas,” jelasnya.

Dia kemudian menceritakan petualangannya pada akhir Oktober lalu yang dimulai dari mulut gua.

Para penjelajah yang berjumlah 12 orang turun perlahan, membawa perahu karet.

Begitu dayung pertama menyentuh air, arus tenang terasa bersahabat.

Tapi itu hanya di awal. Semakin masuk, arus makin kuat, udara makin pekat.

“Di dalam gua nanti ada chambers, ruang besar tempat biasanya kami istirahat,” tutur Yuda.

Setelah menempuh sekitar satu kilometer dengan perahu, arus berujung pada air terjun setinggi lima meter. Di sinilah batas bagi penjelajah kasual.

Siapa yang berani melanjutkan, harus siap berjalan kaki di lorong sempit dan gelap.

“Kalau ini biasanya yang melakukan teman-teman pecinta caving. Medannya berat, jalurnya kecil, harus bisa atur napas,” katanya.

Untuk mencapai ujung gua yang menjadi hulu atau mata air, butuh waktu empat hingga tujuh jam perjalanan. Bukan sekadar uji fisik, tapi juga mental.

Di dalam, udara lembap bercampur bau mineral, suara tetesan air bergema di antara dinding batu kapur.

Sementara dari atas kelelawar beterbangan seperti bayangan hitam.

Kadang, di sela arus, muncul ribuan ikan bader berenang melawan deras air.

Kalau beruntung, penjelajah bisa bertemu bulus—hewan endemik yang dulu sering muncul di gua ini.

“Tapi dua tahun terakhir pengamatan bulus tidak muncul lagi,” ujar Yuda.

Menariknya, eksplorasi semacam ini justru lebih dikenal wisatawan luar kota dan luar negeri. “Kalau luar negeri itu banyak dari Amerika, Prancis, dan Jerman,” tambah alumni Unirow Tuban itu.

Bagi warga lokal, Gua Ngerong mungkin sekadar tempat bermain air dan memberi makan ikan.

Namun, bagi para penjelajah, tempat ini adalah laboratorium alam yang gelap, menantang, sekaligus menakjubkan.(fud/ds) 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#wisata #Tuban #Gua Ngerong #fisik #Rengel #mental