Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Robot Thak-Thakan, Upaya Melestarikan Kesenian Tradisional Khas Tuban dengan Pendekatan Modern

Adib Turmudzi • Minggu, 2 Juli 2023 | 19:35 WIB

MEMODERNKAN KESENIAN TRADISIONAL: Robot thak-thakan karya sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Prewangan Studio. (M. Mahfudz Muntaha/Radar Tuban)
MEMODERNKAN KESENIAN TRADISIONAL: Robot thak-thakan karya sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Prewangan Studio. (M. Mahfudz Muntaha/Radar Tuban)

Upaya melestarikan sekaligus memperkenalkan kesenian tradisional thak-thakan khas Tuban dilakukan sekelompok pemuda yang tergabung dalam komunitas Prewangan Studio. Terakhir, mereka membuat robot thak-thakan dengan penggerak getaran suara. Dengan pendekatan teknologi, komunitas ini berobsesi memodernkan salah satu kesenian adiluhung khas Bumi Ronggolawe itu.

SEBUAH robot thak-thakan tersimpan dalam ruang khusus rumah Indra Prayogi di Desa Sobontoro, Kecamatan Tambakboyo. Robot tersebut setinggi manusia. Tinggi bagian depannya sekitar 160 sentimeter (cm). Untuk bagian belakangnya kurang lebih 120cm.

Dua bagian tersebut terhubung dengan badan yang berbentuk kerangka besi. Karakter thak-thakan melekat pada kepalanya yang berbentuk sosok astral mirip genderuwo.

Indra Prayogi, koordinator pembuatan robot thak-thakan kepada Jawa Pos Radar Tuban menceritakan, robot tersebut dibuat dari rangkaian besi pada Januari lalu. Perakitannya berlangsung selama sebulan. Lamanya waktu tersebut termasuk eksperimennya.

‘’Robot ini digerakkan dengan sistem elektronik dan sensor getar dari alat musik tradisional Jawa,’’ terangnya sambil menunjukkan dua jenis gamelan, kenong dan bonang yang diset untuk menggerakkan tubuh robot tersebut. Perangkat gamelan lain berupa gong untuk menggerakkan mulut, sehingga berbunyi thak-thak.

‘’Jadi gerakan robot ini mengikuti tetabuhan yang kita mainkan,’’ ujarnya.

Impoe, sapaan akrabnya mengatakan, robot thak-thakan murni karya Prewangan Studio. Perancangan sekaligus pembuatan perangkat mekanik dan elektroniknya dikerjakan anggota komunitas Prewangan Studio.

Kemampuan tersebut dikuasai anggota komunitas pemuda Desa Sobontoro tersebut yang memiliki keahlian beragam, mulai seni, sains, dan teknologi.

Impoe sebagai koordinator pembuatan robot thak-thakan memiliki background seni rupa Universitas Surabaya (Unesa). Selama merancang hingga mengerjakan, dia dibantu anggota komunitas yang memiliki skill tukang servis handphone, pekerja pabrik ikan, dan galvalum.

Dia mengungkapkan, karya Prewangan Studio tidak lahir dari bahasan serius dan ribet.

‘’Awalnya, kami berangkat dari kegemaran nongkrong bersama, bertukar pikiran, sampai mencoba merealisasikan hasil tongkrongan tersebut,’’ ujarnya.

Robot thak-thakan adalah karya kedua Prewangan Studio. Sebelumnya, komunitas yang berdiri pada 2020 atau sekitar tiga tahun lalu tersebut membuat klotekan. Karya tersebut berupa musik patrol untuk membangunkan sahur dengan berbagai aneka instrumen bunyi yang hanya dimainkan satu orang. Perangkat ini cukup unik karena suara yang dihasilkan dari kayuhan pedal sepeda angin.

‘’Klotekan kami buat saat pandemi. Dengan klotekan, kami bisa patrol selama Ramadan,’’ ujarnya.

Proses pembuatan robot thak-thakan di rumah seniman Indra Prayogi
Proses pembuatan robot thak-thakan di rumah seniman Indra Prayogi
Dua karya orisinil Prewangan Studio tidak sekadar sebagai pembuktian eksistensi kegiatan komunitas. Dua karya tersebut pernah diikutkan pada Festival Komunitas Seni Media FKSM 2022 dan Manifesto 2022. Juga pada pameran Titik Kumpul di Gedung Budaya Loka pada Februari lalu.

‘’Apresiasi pengunjung cukup tinggi melihat robot tersebut. Mereka tidak hanya mengerubungi, namun juga memainkannya,’’ tutur Impoe bangga.

Ke depan, dua karya tersebut rencananya diikutkan pada Pekan Budaya Nasional di Jakarta pada Oktober mendatang. Juga event FKSM di Mataram, Lombok.

Selain robot thak-thakan dan klotekan, pada event yang disebut terakhir, Prewangan Studio berencana menyiapkan proyek garapan baru, yakni membuat generator bunyi dari tanah.

‘’Proyek ini untuk memunculkan bunyi dari tanah. Untuk pengambilan suara, membuat alat ukur kesuburan tanah. Bunyi-bunyi tanah ini kemudian dikonversikan ke gending Lohjinawe,’’ ujarnya. (fud/ds)

 

----------------------------------------------------------------

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Tuban, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Tuban”. Caranya klik link join telegramradartuban. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Adib Turmudzi
#Tuban #kesenian tradisional #prewangan studio #khas tuban #robot thak thakan #thak-thakan