Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mbah Masening, Saksi Hidup Kereta Api Tuban, Setiap Pukul 3 Pagi Jalan Kaki Sejauh 9 Km Menuju Stasiun Plumpang

Andreyan (An) • Selasa, 6 Agustus 2024 | 20:09 WIB

SAKSI HIDUP: Masening ketika diwawancarai di rumahnya, Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang. Dia merupakan salah satu saksi hidup kereta api Tuban.
SAKSI HIDUP: Masening ketika diwawancarai di rumahnya, Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang. Dia merupakan salah satu saksi hidup kereta api Tuban.

 

Momen di masa lalu tentang perjalanan menaiki kereta api di wilayah Tuban masih tertanam dalam memori ingatan Masening, warga Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang. Pada masa itu, lansia berusia 82 tahun ini menggantungkan hidupnya dari kereta api Tuban.

ANDREYAN, Radar Tuban 

Ketika dijumpai di kediamannya, RT 3/RW 1, Dusun Donganti, Desa Plandirejo, Kecamatan Plumpang, senyum hangat terlukis di wajah senjanya ketika menyambut kedatangan wartawan koran ini.

Duduk di kursi panjang ruang tamu dan ditemani sang suami, Masening mulai berkisah tentang perjuangan hidupnya di masa lalu.

 Jalur kereta api Tuban menjadi bagian hidupnya dalam mengais rezeki di masa itu.

 ‘’Dulu saya berjualan sayur dan palawija di Pasar Tuban,’’ ucapnya pelan-pelan dalam bahasa Jawa Krama.

Sebelum pukul 3 pagi, lansia kelahiran 1942 itu harus sudah bangun untuk bersiap berjualan di pasar.

Yang jaraknya kurang lebih 9 kilometer (Km) dari rumah menuju Stasiun Plumpang.

 Sambil menggendong bakul yang berisi palawija dan sayuran, Masening mulai melintasi jalan kampung dan persawahan di masa itu.

Rutinitas itu dijalaninnya selama puluhan tahun lamanya.

 Kereta api jalur Tuban pada masa itu menjadi satu-satunya kendaraan yang bisa ditempuh dari tempat tinggalnya menuju arah Tuban.

‘’Di zaman itu belum banyak lalu lalang mobil seperti sekarang ini,’’ bebernya.

Sambil meneteskan air mata—mengenang masa-masa indah itu, Masening melanjutkan kisahnya. Ketika hendak berjualan ke Pasar Tuban, Masening menitipkan anak-anaknya di rumah saudara. ‘’Saya tidak tega mengajak anak-anak naik kereta, karena harus jalan kaki cukup jauh menuju stasiun,’’ terangnya.

Saat ditanyai ongkos kereta api di masa itu, Masening tidak dapat mengingat dengan jelas.

Lansia yang kini hidup di tengah zaman modern itu menyebutkan jika ongkos kereta di masa lalu cukup mahal.

‘’Biasanya, uang hasil jualan sebagian saya gunakan untuk bayar ongkos kereta,’’ ujar dia.

Dalam obrolan terakhirnya, Masening menuturkan jika jalur kereta api di Tuban menjadi salah satu bagian perjalanan hidupnya untuk mengais rezeki.

 ‘’Dulu, kalau mau ke mana-mana susah, sekarang sudah enak,’’ pungkasnya masih dengan bahasa Jawa Krama. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kereta api Tuban #stasiun kereta api #stasiun plumpang #stasiun