Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Komunitas Pribumi dalam Teater Dukun-dukunan, Angkat Tema Mudahnya Percaya Terhadap Kepakaran, Pahadal Tidak Pakar

Hardiyati Budi Anggraeni • Rabu, 21 Agustus 2024 | 03:10 WIB

Photo
Photo

 

Fenomena masyarakat yang begitu mudah percaya terhadap kepakaran, menginisiasi komunitas Pribumi mengangkatnya menjadi sebuah teater. Dengan memberikan unsur-unsur kelokalan, teater dukun-dukunan ini terasa mudah diterima dan sangat relate dengan penonton Tuban.

HARDIATI BUDI ANGGRAENI, Tuban 

 

PENONTON kembali dibuat kagum dengan pementasan teater dari Komunitas Pribumi.

Gedung Budaya Loka menjadi saksi, bagaimana apiknya para lakon memainkan perannya sebagai dukun dan juga peran lainnya.

Musik keroncong pun turut hadir memeriahkan permainan teater.

Teater ini menceritakan seorang pengangguran yang akhirnya menjadi seorang dukun. Bukan karena keahlian, namun karena kesempatan yang didapat.

Si dukun bertugas untuk menyembuhkan anak orang kaya yang dianggap sakit.

Padahal, sebenarnya anak orang kaya tersebut hanya berpura-pura agar tidak dijodohkan.

Kesepakatan antara keduanya akhirnya terjalin.

Siswandi, salah satu pendiri Komunitas Pribumi menyampaikan, kisah Dukun-dukunan memang sengaja dipilih.

Alasannya, fenomena ini sering muncul di kalangan masyarakat kiwari.

Menurutnya, masyarakat kita lebih mudah percaya hanya dalam sekali melihat, tanpa mengkonfirmasi ulang. Apakah memang orang tersebut benar-benar ahli atau tidak.

‘’Saat ini banyak kepakaran yang muncul. Apalagi, banyak orang yang percaya tanpa memastikan apakah mereka benar-benar pakar atau tidak,” katanya.

Hal ini, terang dia, tentu saja dialami oleh berbagai lapisan masyarakat.

Tak hanya masyarakat desa yang masih berpikiran kolot.

Namun, fenomena ini juga dialami oleh orang di daerah perkotaan.

‘’Bukan hanya dukun saja sebenarnya, tapi juga jabatan-jabatan yang lain juga seperti itu,” ujarnya.

Naskah Dukun-dukunan ini merupakan naskah asli karya Moliere dengan judul Tartuffe.

Pada 2004, naskah ini diadaptasi oleh Puthut Buchori menjadi sangat Indonesia.

Kendati demikian, naskah tersebut kembali diolah oleh komunitas pribumi agar tetap relate dengan kehidupan masyarakat Tuban.

‘’Tetap kita olah dengan menambahkan unsur kelokalan, agar penonton juga bisa dekat dengan cerita yang kami bawakan,” kata Siswandi.

Lebih lanjut, pimpinan produksi teater ini menyampaikan, selain merayakan berdirinya Komunitas Pribumi, dia ingin memberikan pengetahuan kepada penonton.

Agar tidak mudah percaya terhadap sebuah kepakaran atau keilmuan. Diperlukannya pengecekan latar belakang untuk memastikannya.

Sehingga, akan terhindar dari segala sesuatu yang tidak diharapkan.

‘’Kita itu mudah sekali percaya dengan kata ahli, tanpa tahu siapa dia, latar belakangnya seperti apa. Makanya, kita banyak sekali ditipu oleh orang-orang seperti itu,” tandasnya. (gi/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#teater #komunitas pribumi #komunitas pribumi tuban #teater tuban