Kapan seseorang akan menemui kesuksesan, tidak ada yang tahu. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa. Itu pula yang menjadi laku hidup Ali Mahfud. Yang dulunya penjual sendal dan buku tulis keliling, kini menjadi pebisnis kuliner yang cukup sukses.
SEMBARI mengerutkan dahinya, Ali Mahfud mencoba mengingat bagaimana kehidupan masa lalunya.
Sesekali wajah pria 36 tahun itu menampakan senyum simpul.
Dunia berjalan laksana roda yang berputar.
Saat ini, laki-laki yang kerap disapa Ali itu telah memiliki 15 cabang kuliner.
Tersebar di berbagai wilayah di Jawa Timur. Itu diceritakannya sembari menekuk satu per satu jari jemarinya—menghitung jumlah outlet yang berhasil dia buka.
‘’Saya merasa apa yang saya dapat adalah hasil belajar,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Sebelumnya, laki-laki kelahiran Lamongan, yang saat ini menetap di Tuban itu merupakan pedagang sendal dan buku tulis keliling.
‘’Saya lahir dari keluarga sederhana,’’ ujarnya.
Ali menuturkan, awal mula mencetuskan ide bisnis lantaran melihat pesatnya pertumbuhan penduduk di Kota Tuban.
Dan rata-rata merupakan masyarakat urban. Pendatang. Dari situ, dia melihat ada potensi besar untuk membuka bisnis kuliner yang sebelumnya tidak ada di Tuban.
Tahun 2013 merupakan awal perjalanannya menjajaki dunia bisnis, yakni dengan berjualan mie pedas dengan branding mie Jupe (juara pedas).
Meski berlatar pendidikan Agama Islam, Ali yakin bahwa dalam berbisnis tidak memandang latar belakang. Terpenting, niat dan kesungguhan.
‘’Saya berbisnis tidak pernah membawa modal uang, tetapi saya membawa kepercayaan dari konsumen,’’ tuturnya penuh filosofis.
Setelah sukses memasarkan mie pedasnya, racikan bumbu dan inovasi pria 36 tahun itu dilirik oleh orang luar kota untuk diajak bermitra.
Mulai saat itu, bak peluru yang melesat jauh, Ali dikenal sebagai pebisnis kuliner ulung.
Meski demikian, rencana Ali ternyata tak berjalan mulus.
Pria kelahiran 1988 itu juga menemui kendala saat pandemi Covid-19.
Bisnis yang perlahan menanjak, tiba-tiba vakum untuk waktu yang cukup lama. Itu lantaran adanya aturan larangan makan di tempat.
Sedangkan kuliner yang dijajakan merupakan makanan berkuah yang lebih cocok dimakan di tempat.
Pusing bukan kepalang, Ali memutar otak untuk bangkit dan menemukan target konsumen baru dengan memanfaatkan situasi yang ada.
Lambat laun, kemampuan supernya tak pernah disia-siakan.
Memanfaatkan keadaan, saat itu Ali mengincar konsumen generasi Z yang kerap menggaungkan nama seblak. Ali mencoba membuka bisnis kuliner lagi, yakni seblak.
‘’Menurut saya, kalau pakaian itu tidak selalu ada orang beli setiap harinya, sedangkan makanan setiap hari akan diperlukan orang,’’ ujarnya berprinsip.
Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini cabang seblak dan mie pedes milik Ali telah tersebar di beberapa kota di Jawa Timur, seperti Tuban, Gresik, Bojonegoro, dan Lamongan.
Dalam beberapa kota tersebut, seblak salah dan mie judes miliknya telah tersebar di berbagai wilayah di kota itu.
‘’Satu hal yang saya syukuri, dari bukan siapa-siapa, tetapi hari ini saya bisa membuka kesempatan bagi anak muda untuk belajar bersama, bekerja di outlet yang saya miliki,’’ tandasnya. (*/tok)