Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ali Mahfud, Pebisnis yang Dulunya Penjual Sendal dan Buku Tulis Keliling, Jatuh Bangun itu Biasa, Penting Konsisten Menjaga Kepercayaan Konsumen

Sugiati. • Rabu, 15 Januari 2025 | 16:30 WIB

Photo
Photo

 

Kapan seseorang akan menemui kesuksesan, tidak ada yang tahu. Tugas manusia hanya berusaha dan berdoa. Itu pula yang menjadi laku hidup Ali Mahfud. Yang dulunya penjual sendal dan buku tulis keliling, kini menjadi pebisnis kuliner yang cukup sukses.

 

SEMBARI mengerut­kan dahinya, Ali Mah­fud men­coba mengi­ngat bagai­mana kehi­dupan masa lalunya.

Sesekali wajah pria 36 tahun itu me­nam­­pakan senyum simpul.
Dunia berjalan lak­sana roda yang ber­putar.

Saat ini, laki-laki yang kerap disapa Ali itu telah me­miliki 15 ca­bang kuli­ner.

Ter­sebar di ber­bagai wilayah di Jawa Ti­mur. Itu dice­rita­kannya sembari me­nekuk satu per satu jari je­ma­rinya—menghi­tung jumlah outlet yang berhasil dia buka.

‘’Saya merasa apa yang saya dapat adalah hasil belajar,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.


Sebelumnya, laki-laki kela­hiran Lamongan, yang saat ini me­netap di Tuban itu merupakan pedagang sendal dan buku tulis keliling.

‘’Saya lahir dari keluarga se­der­hana,’’ ujarnya.


Ali menuturkan, awal mula mencetuskan ide bisnis lantaran melihat pesatnya pertumbuhan penduduk di Kota Tuban.

Dan rata-rata merupakan ma­syarakat urban. Pendatang. Dari situ, dia melihat ada potensi besar untuk membuka bisnis kuliner yang sebelumnya tidak ada di Tuban.


Tahun 2013 merupakan awal perjalanannya menjajaki dunia bisnis, yakni dengan berjualan mie pedas dengan branding mie Jupe (juara pedas).


Meski berlatar pendidikan Agama Islam, Ali yakin bahwa dalam berbisnis tidak me­mandang latar belakang. Ter­penting, niat dan kesungguhan.

‘’Saya berbisnis tidak pernah membawa modal uang, tetapi saya membawa kepercayaan dari konsumen,’’ tuturnya penuh filosofis.


Setelah sukses memasarkan mie pedasnya, racikan bum­bu dan inovasi pria 36 ta­hun itu dilirik oleh orang luar kota untuk diajak ber­mitra.

Mulai saat itu, bak peluru yang me­lesat jauh, Ali di­kenal sebagai pe­bisnis kuliner ulung.


Meski demikian, ren­ca­na Ali ternyata tak berjalan mulus.

Pria kelahiran 1988 itu juga menemui ken­dala saat pan­demi Covid-19.

Bisnis yang perlahan menanjak, tiba-tiba vakum untuk waktu yang cukup lama. Itu lantaran adanya aturan larangan makan di tempat.

Sedangkan kuliner yang di­jajakan merupakan makanan berkuah yang lebih cocok dimakan di tempat.


Pusing bukan kepalang, Ali memutar otak untuk bangkit dan menemukan target konsu­men baru dengan me­man­faatkan situasi yang ada.

Lambat laun, kemampuan supernya tak pernah disia-siakan.

Meman­faatkan kea­daan, saat itu Ali mengincar konsumen generasi Z yang kerap menggaung­kan nama seblak. Ali mencoba membuka bisnis kuliner lagi, yakni seblak.


‘’Menurut saya, kalau pakaian itu tidak selalu ada orang beli setiap harinya, sedangkan makanan setiap hari akan diperlukan orang,’’ ujarnya berprinsip.


Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini cabang seblak dan mie pedes milik Ali telah tersebar di beberapa kota di Jawa Timur, seperti Tuban, Gre­­sik, Bojonegoro, dan La­mo­ngan.

Dalam beberapa kota tersebut, seblak salah dan mie judes miliknya telah tersebar di berbagai wilayah di kota itu.


‘’Satu hal yang saya syukuri, dari bukan siapa-siapa, tetapi hari ini saya bisa membuka kesempatan bagi anak muda untuk belajar bersama, be­kerja di outlet yang saya miliki,’’ tandasnya. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kuliner #bisnis #Boks #pengusaha #seblak