Dibangun sekitar tahun 1900-an, Masjid Al Muhdor di Jalan Pemuda ini menjadi saksi sejarah para habaib dalam mensyiarkan Islam di Kabupaten Tuban, khususnya wilayah perkotaan. Di saat masjid-masjid lain dipugar dengan megah dan mewah, Masjid Al Muhdor memilih mempertahankan bangunan klasiknya sebagai petilasan sejarah di masa kini.
RADARTUBAN – Awalnya, Masjid Al Muhdor adalah langgar atau musala wakaf dari warga setempat.
Diperkirakan, masjid ini dibangun sekitar tahun 1900-an. Nama masjid ini identik dengan bubur muhdor yang menjadi menu takjil saban Ramadan. Ya, di masjid inilah bubur khas Timur Tengah itu dimasak dan dibagikan kepada warga sekitar.
Dari cerita yang disampaikan pengurus Masjid Al Muhdor, masjid ini didirikan oleh Habib Abdul Qadir Alwi Assegaf, ulama besar asal Hadramaut atau keturunan Arab dari salah satu daerah di Yaman yang menetap di Indonesia.
Bangunan yang semula berupa langgar itu kemudian dijadikan masjid dan diberi nama Al Muhdor. Nama Al Muhdor diambil dari nama pemberi wakaf, yakni Haji Muhdor.
Takmir Masjid Al Muhdor, Agil Abunumai mengatakan, masjid ini dibangun sebelum Habib Abdul Qadir Alwi Assegaf wafat.
‘’Beliau wafat sekitar tahun 1912-an, sehingga bisa dipastikan untuk pembangunan masjid ini sebelum itu,” katanya.
Dulunya, Habib yang berasal dari Yaman itu sering menggelar pengajian bersama warga keturunan Arab dan masyarakat sekitar di masjid tersebut.
‘’Selain itu, juga biasanya digunakan untuk mengaji Alquran, mengaji kitab dan beberapa kegiatan keagamaan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Sepeninggalan Habib Abdul Qadir Alwi Assegaf, imam masjid digantikan oleh Syech Mu’alim yang tidak lain adalah kakek dari Agil Abunumai, takmir masjid saat ini atau generasi ketiga dari Habib Muhammad.
Di saat masjid-masjid lain banyak yang dipugar dengan megah dan mewah, Masjid Al Muhdor masih mempertahankan bangunan kunonya.
Sejak memasuki area serambi masjid, kesan bangunan lama masih sangat lekat.
Di bagian dalam, ada pembatas berupa tiang yang menjadi sekat antara bangunan lama dan baru.
Dalam perkembangannya, masjid di wilayah administratif Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban ini mengalami tiga tahap perkembangan atau renovasi. Namun, tetap mempertahankan konstruksi bangunan kuno.
‘’Dulunya, hanya ada bagian depan di dekat pintu masuk ini, sedangkan mimbar itu dulu merupakan rawa-rawa, kemudian diperluas untuk menampung lebih banyak jemaah,” ujarnya sambil menunjuk titik lokasi yang dimaksud.
Agil mengatakan, perluasan awal masjid dilakukan sekitar tahun 1925-1930. Kemudian, dilakukan perluasan lagi pada tahun 1980-1990. Sejalan dengan perkembangannya, namun infrastruktur bangunan Masjid Al Muhdor ini masih klasik.
Itu tampak dari langit-langit masjid yang terbuat dari kayu dan bekas gantungan lampu zaman dahulu.
Hanya saja, khusus lampunya sudah diganti yang lebih modern.
‘’Karena kalau pakai lampu zaman dulu terlihat gelap,” katanya.
Bukti sejarah yang ditampilkan oleh masjid ini juga tampak dari pintu masuk bagian depan.
Pintu itu masih mempertahankan pintu zaman dulu dan tidak ganti. ‘’Malah nantinya jika ini jadi direnovasi, pintu itu tetap akan kami pertahankan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Agil menyampaikan, semua cerita masa lalu masih tersisa. Hanya perluasan saja yang dilakukan.
‘’Lihat saja, keramik-keramik ini. Ini masih zaman dulu,” katanya.
Adapun nama muhdor disematkan untuk mengenang nama pemilik tanah wakaf, yakni H. Muhdor.
Selain bangunan klasik yang kaya akan nilai sejarah.
Cerita sejarah juga ditorehkan dari adanya mushaf Alquran yang sudah berusia hampir 150 tahun.
Mushaf Alquran itu masih tersimpan rapi di dalam masjid.
Lebih lanjut, imam masjid generasi ke empat itu mengatakan, pada saatnya nanti, masjid Al Muhdor akan direnovasi total. Tepatnya pada bangunan lama yang sudah tua.
‘’Meskipun nanti direnovasi, kami akan tetap mempertahankan sejarahnya, beberapa bagian bangunan kuno akan kami pertahankan,” tandasnya. (gik/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama