Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Baitur Rohim di Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban Dibangun Bersisian dengan Gereja, Perluasan Masjid Berdiri di Atas Tanah Wakaf War

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 9 Maret 2025 | 11:26 WIB

 

Photo
Photo

 

Dibangun bersebelahan dengan tempat ibadah umat Kristiani, Masjid Baitur Rohim di Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban ini menjadi potret harmonisasi antarumat beragama. Keduanya hidup rukun berdampingan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. 

 

TIDAK jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, Masjid Baitur Rohim telah kokoh berdiri sejak tahun 1985 di Kelurahan Kingking. Jaraknya kurang lebih 2 kilometer dari Alun-Alun Tuban.

Masjid ini dibangun tepat bersebelahan dengan Gereja Beth-El Tabernakel. 

Berdirinya dua rumah ibadah yang saling bersisian ini mencerminkan potret toleransi beragama yang sangat kuat. Hidup rukun berdampingan.

Bahkan, Gereja Beth-El Tabernakel telah dibangun lebih dulu—jauh sebelum Masjid Baitur Rohim berdiri. 

Masjid dan gereja yang berdiri berdampingan ini menjadi salah satu simbol toleransi umat beragama di Bumi Ronggolawe.

Menciptakan suasana kerukunan dan saling menghargai antarumat beragama.

Muslim, Takmir Masjid Baitur Rohim menuturkan, luas rumah ibadah umat muslim ini awalnya hanya sekitar 12x20 meter.

Kemudian, ada salah seorang warga Tionghoa yang juga jemaat dari Gereja Beth-El Tabernakel menyumbangkan sebagian tanahnya untuk perluasan Masjid Baitur Rohim ini. 

‘’Meski berbeda keyakinan, tetapi beliau sangat baik mau menyumbangkan sebagian tanahnya untuk masjid, bahkan sudah bersertifikat atas nama masjid ini,” tuturnya.

Dari kebaikan hati warga Tionghoa itulah yang kemudian semakin mengeratkan toleransi antar kedua agama hingga saat ini.

Muslim melanjutkan, sejak berdirinya kedua bangunan rumah ibadah tersebut, setiap ada kegiatan, seperti kerja bakti bersih-bersih rumah ibadah, kedua umat beragama ini saling bahu membahu untuk menyumbangkan tenaganya.

‘’Alhamdulillah, selama ini tidak ada keluhan dari pihak masjid maupun gereja, keduanya adem ayem hidup dalam kerukunan,” tutur takmir asli warga Kelurahan Kingking itu. 

Saat jemaah memasuki masjid, tampak bangunan modern dengan dua menara masjid tersaji sebagai wajah dari rumah ibadah ini.

Meski begitu, serambi dalam masjid yang beratapkan plafon rendah justru memberikan kesan lawas yang dipadu-padankan dengan sentuhan modern di bagian depannya. 

Begitu pula dengan kusen-kusen kayu jati dan lampu gantung klasik, menambah kesan lampau bagunan masjid ini.

Disampaikan Muslim, gaya serambi bagian dalam masjid ini mengadaptasi gaya bangunan Istana Merdeka berpadu dengan sentuhan ala atap rumah joglo yang tidak memiliki tiang penyangga tengah.

Belum lagi lantai-lantai marmer dari bekas bangunan Masjid Agung Tuban yang terpasang, semakin menambah kesan adem di dalam baitullah ini. 

Lebih lanjut, Muslim menjelaskan, alasan mengadaptasi gaya bangunan Istana Merdeka ini sebagai bentuk nasionalisme dari masyarakat setempat. 

Pada bagian serambi tengah, terdapat pagar besi yang membelah secara horizontal di dalam masjid. Dijelaskan Muslim, pagar ini berfungsi sebagai pembatas antara serambi depan yang baru saja dibangun pada 2019 lalu.

‘’Tempat imam di dekat pagar biasanya digunakan saat salat fardu saja, sedangkan seperti salat Jumat atau hari besar lainnya, digunakan saat jemaah sedang membludak,” ujar takmir yang telah berkecimpung sejak menjadi remaja masjid itu. 

Berdirinya masjid ini seakan memberikan contoh bahwa dua keyakinan berbeda dapat berdiri bersisian menjelajahi waktu.

Dibarengi dengan toleransi yang kuat antarkedua umat beragama, semakin memberikan warna dan arti tersendiri pada kedua bagunan ini. (saf/tok) 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#masjid #ibadah #jelajah masjid