Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jelajah Masjid Al Anwar di Desa Banjararum, Kecamatan Rengel, Dibangun Sekitar 1900-an, Peninggalan Sumur yang Airnya Dipercaya Sembuhkan Penyakit

Sugiati. • Selasa, 11 Maret 2025 | 20:26 WIB

 

Photo
Photo

Meski tak lagi menyisakan bentuk bangunan lama—saat pertama kali masjid ini dibangun sekitar tahun 1900-an. Namun, sejarah awal berdirinya masjid di Dusun Blimbing, Desa Banjararum, Kecamatan Rengel ini masih terekam jelas dalam ingatan masyarakat setempat.

MASYHUR menjadi cerita tutur. Dulunya, masjid ini adalah sebuah musala atau langgar yang terbuat dari kayu dan berdinding anyaman bambu atau gedhek.

Dibangun tahun 1900-an dan menjadi pusat syiar Islam di desa setempat dan sekitarnya.

Adalah Kiai Anwar, ulama yang mendirikan langgar gedhek tersebut.

Seiring berjalannya waktu, bangunan yang semula disebut langgar itu direnovasi oleh warga setempat hingga tak tak lagi menyisakan bangunan lama.

‘’Dari yang awalnya langgar, kemudian dijadikan masjid. Lalu oleh warga, nama Kiai Anwar didedikasikan menjadi nama Masjid Al Anwar,’’ kata Takmir Masjid Al Anwar, Lasiyanto kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Semasa itu, terang Lasiyanto, selain mendirikan sebuah langgar yang dijadikan pusat kegiatan dakwah Islam, Kiai Anwar juga pendiri pesantren.

Lokasinya satu kompleks dengan langgar.

Pondok yang dimaksud diberi nama Manbaul Huda.

‘’Sekarang pondoknya sudah tidak ada di sini, tapi namanya tetap dipakai pada pondok pesantren yang didirikan oleh cucu Mbah Anwar,” ujarnya.

Salah satu cucu Kiai Anwar yang melanjutkan perjuangannya dalam mensyiarkan Islam di desa setempat dan sekitarnya, adalah Kiai Ahmad Damanhuri, yang tidak lain adalah Ketua PCNU Tuban saat ini.

Selain Kiai Damanhuri, cucu lainnya yang turut melanjutkan perjuangan Kiai Anwar adalah Kiai Abdurrohman. Ulama yang karib disapa Mbah Dur ini melanjutkan dakwah sang kakek dengan mendirikan pesantren di pesisir Tuban.

Tepatnya, di Kelurahan Panyuran, Kecamatan Palang. 

Baca Juga: Ribuan Orang Tewas Dalam Bentrokan Massal, Presiden Suriah Serukan Persatuan di Tengah Kekerasan Pesisir

Semasa perjuangannya dalam mendakwahkan Islam, terang Lasiyanto, Masjid Al Anwar yang dulunya sebuah langgar ini dijadikan pusat kegiatan keagamaan untuk warga desa setempat.

‘’Bersama santri dan warga sekitar, Mbah Anwar biasanya ngaji kitab, tadarusan, dan diba,” katanya.

Lebih lanjut, takmir berusia 47 tahun itu mengatakan, Masjid Al Anwar telah mengalami empat tahap renovasi.

Pertama, renovasi dilakukan pada tahun 1950-an.

Kala itu renovasi dimulai dengan penggantian dinding, yang awalnya dari anyaman bambu dirubah dari kayu dan lantainya plesteran.

‘’Awal lantainya ya gladak,” ujar Lasiyanto.

Setelah itu, pada 1965 dan bertepatan pasca terjadinya G30S PKI, jemaah di masjid tersebut bertambah banyak.

Dari warga yang awalnya enggan ke masjid, menjadi rajin ke masjid, sehingga ditambah ruangan papan kayu di selatan masjid, yang kini berfungsi sebagai aula pertemuan.

Kemudian, renovasi selanjutnya pada 1983-1984.

Mulailah dindingnya yang dulu kayu diganti batu bata, dan alasnya diganti tegel berwarna kuning.

Lalu, renovasi besar-besaran kembali dilakukan pada 2006-2008. Lantai dinding dan lantai bawah sudah menggunakan batu granit.

Tidak hanya itu, pada 2014-2016 juga dilakukan perbaikan bagian selatan yang dulunya penambahan lokasi, karena jemaah bertambah dan kini menjadi aula. 

Baca Juga: Mobil Pribadi Jadi Moda Transportasi Mudik Paling Favorit, Kenapa Tidak Fasilitas Umum?

Terbaru, pada 2020 juga telah diselesaikan tempat wudhu dan toilet yang nyaman dan representatif.

‘’Meskipun direnovasi, kami masih menyimpan dan memakai beberapa barang peninggalan sejarah yang tersisa, seperti bedug, sumur dan ada bekas kamar mandi pada masa jayanya pondok pesantren Manbaul Huda dulu,” katanya. 

Konon, air di sumur itu hingga kini dipercaya masyarakat dapat menjadi perantara menyembuhkan penyakit.

‘’Ya, bergantung kepercayaan orang masing-masing, tapi memang banyak yang mempercayainya sebagai obat,” ujarnya.

Saat pertama kali memasuki pelataran masjid, lokasi itu terlihat luas dengan latar paping di pinggir jalan pedesaan. Masjid Al Anwar dibangun sama halnya masjid yang lain.

Namun, yang menarik dari masjid tersebut sengaja didesain tanpa penyanggah tiang di tengah.

‘’Secara konsep memang layaknya masjid pada umumnya, tapi cerita sejarah dari masjid ini begitu banyak,” tandasnya. (*/tok) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#ramadan #masjid #jelajah masjid