RADARTUBAN- Seperti namanya, Masjid Al Kafrawi di Desa Mandirejo, Kecamatan Merakurak, Tuban ini tidak bisa dipisahkan dari sosok Kiai Haji Kafrawi, ulama sekaligus pejabat keagamaan yang disegani pada masa Belanda. Untuk mengenang kisahnya sebagai ulama kelahiran desa setempat, namanya diabadikan menjadi nama masjid.
Konon, Masjid Al Kafrawi didirikan sekitar 1932. 13 tahun sebelum kemerdekaan, atau sekitar 22 tahun setelah wafatnya Mbah Kafrawi. Didirikan oleh putranya, KH Fathurrahman Kafrawi, Menteri Agama (Menag) ke-2 RI era Kabinet Syahrir III
Masjid ini dibangun sebagai penanda lokasi dakwah sosok penghulu sekaligus Ketua Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Tuban masa itu.
Beberapa sumber menyebutkan, Mbah Kafrawi wafat pada 1910. Dimakamkan di Desa Bejagung Lor, Kecamatan Semanding.
Meski begitu, semangat dan kegigihannya dalam syiar Islam terus dirawat.
Melalui masjid Al Kafrawi yang didirikan oleh anaknya, Fathurrahman Kafrawi.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, Mbah Kafrawi sebagai sosok ulama yang disegani menurunkan kecerdesan dan ketaatannya kepada Fathurrahman Kafrawi.
Dalam catatan sejarah mengatakan, jika Fathurrahman Kafrawi pernah menjabat sebagai Menteri Agama (Menag) tahun 1946-1947.
Muhammad Mahrus, Takmir Masjid Al Kafrawi mengatakan, sebagai tokoh, cendikiawan, ulama, cum pejabat yang telah melanglang buana, Fathurrahman Kafrawi merasa tidak bisa selalu merawat masjid yang didirikan sebagai bagian dedikasi untuk melanjutkan perjuangan dakwah sang Ayah. Begitupun dengan saudara-saudaranya.
‘’Oleh karenanya, bangunan masjid beserta tanah itu dipercayakan ke ayah saya, Kiai Haji Nur Aziz Chozin. Saat itu keluarga Kafrawi berkali-kali datang ke rumah kami untuk memberikan amanah ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Konon katanya, keluarga Fathurrahman Kafrawi hanya percaya dengan keluarga Mbah Chozin untuk bisa merawat masjid tersebut.
‘’Karena itu, keluarga menerima amanah itu. Ayah saya kemudian menjadi takmirnya,’’ ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Berencana untuk Memperpanjang Masa Studi SMK Jadi 4 Tahun, Ini Tujuannya
Pada masa keperawatan Mbah Chozin inilah, masjid mengalami perluasan dan pemugaran, tahun 1985 dan 2002.
Wilayah masjid semakin luas karena ditambah tanah wakaf dari Mbah Chozin sekaligus warga setempat.
Hingga kini, masjid yang dulunya sederhana itu sudah terbangun megah dengan kapasitas 500 jamaah.
Dikatakan Mahrus, dahulu di depan Masjid Al Kafrawi berdiri bangunan KUA, yang saat ini sudah tidak ada. Dan, di sebelah kanan masjid yang dulu tanah Mbah Kafrawi, saat ini telah berdiri pondok tahfidz dengan nama Al-Fatih.
‘’Saya rasa, jika keluarga Mbah Kafrawi tahu sudah ada pondok di tanah wakaf mereka, pasti bahagia,” kata pria 62 tahun itu.
Sekilas, Masjid Al Kafrawi tampak seperti masjid pada umumnya, namun desain masjid bagian dalam dibuat dengan sangat istimewa, penuh tulisan kaligrafi dan interiror yang mewah.
Saat pertama kali memasuki masjid, jemaah akan disuguhkan dengan tiang-tiang besar dan tulisan asmaul husna yang berada di area atas masjid.
‘’Desain ini terinspirasi dari Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik,” ujarnya.
Menurut Alumnus Universitas Brawijaya itu, Masjid Al Kafrawi tetap melanggengkan kegiatan keagamaan lama, utamanya adalah pengajian. Selain itu, ajaran Mbah Kafrawi yang sampai kini masih dilestarikan adalah toleransi.
‘’Siapa pun itu, meski berasal dari latar belakang berbeda, tapi Mbah Kafrawi maupun anaknya, Fathurrahman Kafrawi tetap terbuka dan menghormati keberbedaan itu,” tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama