RADARTUBAN - Pesatnya perkembangan era modern dan minimnya regenerasi, kian mendorong perajin tenun gedog dalam ancaman kepunahan.
Rata-rata, kini para perajin batik khas Tuban ini tinggal menyisakan generasi kedua—dari generasi nenek yang masih hidup.
Sementara generasi ketiga—para cucu sudah enggan untuk melanjutkan. Salah satu generasi kedua yang masih bertahan adalah Sarinah.
Derit alat tenun gedog yang sudah berusia tua itu terdengar dari salah satu rumah sederhana di Dusun Kajoran, Desa Margorejo, Kecamatan Kerek.
Rumah itu milik Sarinah, perajin tenun gedog yang masih bertahan meneruskan orang tuanya.
Lebih kurang sudah tiga dekade ini Sarinah menjadi penyambung warisan budaya asli Tuban tersebut. Kini, usianya sudah hampir setengah abad. Sebentar lagi memasuki usia paro baya.
Namun, ada semacam kesedihan yang tergurat di antara wajahnya yang mulai menua itu. Pasalnya, generasi muda hari ini semakin enggan menjadi perajin batik tenun gedog.
Terlebih, pada alasan yang diucapkan: katanya, menjadi perajin batik gedog tidak cukup menjanjikan secara ekonomi.
Artinya, generasi hari ini memandang tenun gedog secara materiil, bukan sebagai warisan budaya yang harus dijaga.
‘’Anak zaman sekarang itu dibelajari hal ini (menjadi perajin tenun gedog, Red) sudah tidak mau, karena prosesnya lama dan rumit,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Lantaran keengganan generasi muda itulah, saban waktu—ketika dalam kesendiriannya, Sarinah sering merenung: akankah batik tenun gedog yang oleh dunia luar dibangga-banggakan ini akan punah karena ancaman regenerasi.
‘’Katanya (menjadi perajin tenun gedog itu, Red) tidak menjanjikan secara ekonomi,’’ terang ibu satu anak itu.
Diungkapkan Sarinah, salah satu alasannya masih menggeluti dunia tenun gedog, adalah ingin menjaga agar warisan budaya asli Tuban ini tak hilang ditelan zaman.
‘’Tenun bukan hanya pekerjaan saja, tetapi ini juga bagian dari hidup dan jati diri yang telah diwariskan,’’ katanya lirih sembari tangannya tak henti bergerak di atas alat kayu—memintal benang-benang dari kapas.
Dikatakan Sarinah, selama ini tidak ada sekolah khusus menjadi penenun batik gedog. Keahliannya menenun didapat secara otodidak sejak masih remaja.
Belajar sendiri sambil melihat ibunya menenun. Lama-lama bisa dan sekarang sudah lihai.
Sayang, anak satu-satunya yang sekarang duduk di bangku SMA enggan untuk belajar menjadi penenun. ‘’Jangankan belajar untuk bisa, sekadar mencoba saja enggan,’’ keluhnya.
Kendati dianggap tidak menjanjikan, Sarinah mampu menghidupi keluarganya dari usahanya menjadi perajin tenun gedog.
Bahkan, sudah ada kerja sama dengan pebisnis asal Jogjakarta untuk memasarkan kain hasil tenunannya.
Di antara motif yang dihasilkan, yakni motif lowo, cuken, cemplik, dan lain sebagainya.
‘’Alhamdulillah, meski dianggap tidak menjanjikan, tapi setidaknya masih mampu menghidupi kebutuhan keluarga,’’ ujarnya. Dan tidak kalah penting adalah kebanggaannya dalam menjaga budaya bangsa.
Dalam satu bulan, Sarinah mengaku bisa menghasilkan empat lembar kain tenun gedog sepanjang 3-5 meter. Harganya variatif dari Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Tergantung panjang kain dan tingkat kesulitannya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama