Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ni Ratih Putri Yuniar Mendedikasikan Hidupnya untuk Seni Tari Tradisional, Bangga Menjadi Generasi yang Bisa Menjaga Tradisi di Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 2 Mei 2025 | 22:49 WIB
Ni Ratih Putri Yuniar saat menampilkan salah satu tarian tradisional dengan pakaian khas tarian itu.
Ni Ratih Putri Yuniar saat menampilkan salah satu tarian tradisional dengan pakaian khas tarian itu.

RADARTUBAN - Ditengah derasnya budaya populer dan tarian modern, Ni Ratih Putri Yuniar memilih langkah berbeda.

Perempuan muda yang baru berusia 24 tahun ini teguh melestarikan tari tradisional. Bagi Ratih, menari bukan hanya soal hobi, melainkan bentuk penghormatan pada budaya dan sejarah bangsa.

Di pagi menjelang siang kemarin (1/5), suara halus Ni Ratih Putri Yuniar terdengar dari sambungan telepon.

Perempuan asal Desa Perunggahan Wetan, Kecamatan Semanding itu dengan perasaan bangga menceritakan perjalanannya selama 20 tahun menekuni seni tari tradisional.

Tumbuh di tengah modernisasi tak membuat perempuan muda yang familiar disapa Ratih begitu saja melupakan warisan budaya berupa tari tradisional.

Justru sejak kecil, dia telah akrab dengan dunia seni berkat sang ayah dan kakak yang juga seorang seniman tayub dan penari tradisional.

Sejak berusia 4 tahun, perempuan muda itu telah terjun ke pentas tari.

Berawal dari panggung sederhana saat perayaan agustusan, pengalaman itu menjadi awal perjalanan panjangnya di dunia seni tari. ‘

’Sejak kecil memang sudah dididik dalam dunia tari, akhirnya saya jadi suka menari,” tuturnya.

Semasa kecil, Ratih sering kali menemani almarhum ayahnya manggung dalam berbagai pertunjukan tayub dan ludruk.

Dari situlah perlahan rasa cintanya pada kesenian tradisional tumbuh hingga dirinya dewasa.

Melihat sang ayah pentas dan diapresiasi oleh penonton, membuatnya ingin mengikuti dan memiliki jejak yang sama.

Ratih mengusai beragam bentuk tarian, seperti tarian kreasi, jawa tengahan, hingga khas tubanan.

Dia terus mengasah kemampuannya dengan berlatih dan mengikuti beragam pentas tari serta pelatihan.

Bahkan, perempuan berzodiak Gemini itu kini juga berhasil menjadi seorang pengelola sanggar.

Sekaligus pelatih tari bagi remaja dan anak-anak yang menjadi muridnya.
Panggung-panggung besar telah dirinya pijaki.

Mulai dari menjadi penari latar campursari TVRI Jatim, festival karya tari jawa Timur, hingga mewakili Indonesia di Expo Dunia di Dubai 2021 untuk melakukan pementasan di kancah internasional.

Namun, di balik prestasi itu, perempuan muda yang juga memiliki hobi touring ini mengakui bahwa tantangan seniman di era modern saat ini tidaklah mudah.

Menurutnya, kehadiran media sosial dengan berbagai konten masa kini menjadi tantangan tersendiri bagi kelestarian budaya tradisional.

‘’Sekarang bukan cuma harus bisa menari, tapi juga dituntut untuk bisa mempromosikan tari-tari tradisional melalui media sosial agar tetap eksis, lestari, dan tidak kalah saing dengan tarian modern,” kata lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan seni tari ini.

Ratih membuktikan bahwa kecintaannya pada seni tari bisa menjadi sebuah profesi dan jalan hidup. Menurutnya, menari bukan hanya soal gerakan indah di atas panggung, tetapi juga tentang melestarikan budaya dengan sepenuh hati dan kreativitas.

‘’Tari ini budaya adi luhung yang penuh filosofi. Sebagai penerus kita harus bisa menjaga nilai dan estetisnya,’’ pungkasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #pentas #gemini #tari tradisional #agustusan #budaya