RADARTUBAN - Lebih kurang 150 gua di Tuban sudah pernah di dimasuki Kharisma Yuda. Karena itu, dia menyebut Tuban sebagai Kota Seribu Gua.
Selain mengeksplor keindahan gua-gua di Tuban, dia juga melakukan inventarisir untuk memastikan kelestariannya.
Jaket outdoor dan ransel gunung seperti sudah menjadi ciri khas Kharisma Yuda, 30. Seperti ketika bertemu dengan Jawa Pos Radar Tuban beberapa waktu lalu.
Kesan anak pecinta alam sangat melekat pada dirinya.
Jaket abu-abu dan tas biru dari salah satu merek fashion outdoor dikenakan dari ujung kepala sampai kaki. Menempel serasi di tubuhnya.
Pria yang akrab disapa Yuda itu merupakan penggiat caving atau penjelajah gua. Kurang lebih 150 gua di Tuban telah dijelajahi.
Bahkan, kini sudah memiliki sertifikat internasional untuk penjelajah gua dan pemandu telusur gua.
‘’Kemarin itu baru saja ada dari Amerika datang di Tuban, saya ajak untuk menelusuri Gua Ngerong,’’ ujarnya.
Bukan sekali dua kali dia menjadi pemandu telusur gua.
Pria asal Desa/Kecamatan Rengel itu mengaku cukup sering menjadi pemandu telusur gua di Tuban.
Pasalnya, Tuban memiliki banyak gua yang layak dijelajahi. Karena itu, tidak heran banyak warga dari luar Tuban yang ingin menikmati keindahan gua-gua di Kota Legen.
‘’Karena wilayah Tuban itu kan 80 persen perbukitan kapur, jadi banyak potensi gua yang indah,’’ katanya.
Kekayaan alam luar biasa itulah, yang kemudian membawa Yuda rutin melakukan penelusuran gua. Perkenalannya dengan dunia speleologi terjadi pada 2013—saat menjadi mahasiswa di Unirow.
Dirinya bergabung dengan organisasi intra kampus Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal). Saat itulah, dirinya dikenalkan dengan caving atau kegiatan eksplorasi gua.
‘’Saat itu langsung diajak susur gua, dan gua pertama yang saya masuki itu di Cagar Alam Gua Nglirip, Montong dan Gua User di Grabagan,’’ kenangnya.
Baginya, pengalaman pertama itu sangat menakutkan. Dirinya harus masuk gua yang dalamnya 27 meter sambil bergelantung di tali. Saat itu merasakan ketakutan yang luar biasa.
‘’Sempat sampai nangis. Belum lagi saat itu dimarahi senior,’’ ujarnya.
Meski begitu, dirinya tidak kapok. Sebaliknya, adrenalinnya semakin tertantang. Belum lagi melihat bagaimana keindahan di dalam gua yang tidak banyak orang ketahui.
Dirinya merasa kagum karena di dalam gua ada air terjun lalu ada hutan purba.
‘’Saya pun semakin penasaran dengan potensi gua lain di Tuban, jadi terus melakukan penelusuran dan sekaligus mendata hingga saat ini,’’ bebernya.
Tak puas hanya dengan gua di Tuban, dirinya juga sering melakukan penelusuran gua di berbagai kota. Sehingga bisa membandingkan bagaimana potensi gua di Tuban dengan daerah lain.
Saking prefernya dengan dunia caving, pada 2015 mengambil kursus dasar penelusuran gua untuk mendapatkan lisensinya.
‘’Saat itu tempat latihannya di Ciamis. Di sana diberikan pemahaman soal karakter gua dan cara menghadapinya,’’ jelasnya.
Setelah mendapatkan lisensi caving, Yuda kembali meningkatkan levelnya. Setelah hanya susur gua kering, selanjutnya mencoba cave diving atau menyelam di dalam gua. Itu dia mulai sejak 2021.
‘’Cave diving ini pertama saya melakukan ketika 2021 lalu di Pulau Muna Sulawesi Tenggara bersama dengan teman dan guru saya dari Prancis,’’ tuturnya, dan setelah itu juga mengambil sertifikasi dari International Association of Nitrox and Technical Divers.
Berkat hobinya tersebut, dia berhasil menjadi salah satu penyusur gua professional di Tuban dan sering mengikuti ekspedisi internasional.
Seperti November 2024 lalu yang baru mengikuti Nixie Expedisian yang beranggotakan sesama caver dari Prancis, Amerika, Brazil dan beberapa negara lain.
‘’Bagi saya kegiatan caving ini bukan hanya soal eksplorasi gua saja, tetapi juga tentang menjaga keletarian alam, karena saat ini banyak gua di Tuban yang sudah rusak,’’ pungkasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama