RADARTUBAN - Ifadatul Mazidah dan Kayla Ananda Jofa Nailil Husna berteman sejak masuk MI. Meski keduanya memiliki bakat yang berbeda.
Namun, berkat bimbingan guru dan kedua orang tuanya, Mazidah dan Kayla mampu tampil kompak dan meraih juara 1 kategori B Lomba Tartil Quran dan Saritilawah yang digelar oleh Jawa Pos Radar Tuban bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Tuban.
Senyum merekah tampak di wajah mungil Ifadatul Mazidah dan Kayla Ananda Jofa Nailil Husna setelah nama mereka diumumkan sebagai juara 1 kategori B Lomba Tartil Quran dan Saritilawah yang digelar oleh Jawa Pos Radar Tuban bekerja sama dengan Kemenag Tuban.
Sorak sorai dari peserta dan guru-guru yang mendampingi seakan menjadi saksi atas usaha keras dua gadis cilik asal MI Al Mubarok Penambangan, Kecamatan Semanding itu.
Siapa sangka di usia mereka yang baru menginjak 9 tahun, Mazidah dan Kayla—sapaan akrab kedua bocah itu—sudah mampu menaklukan tantangan membaca ayat suci Alquran dan saritilawahnya dengan begitu fasih.
Mempersiapkan diri untuk mengikuti perlombaan ini bukanlah hal yang mudah bagi keduanya.
Terlebih, saat harus membagi waktu dengan pelajaran di sekolah. Namun, para guru dan juga orang tua mereka memiliki cara tersendiri.
Latihan tartil dan juga saritilawah dilakukan saban jam istirahat dengan tujuan agar tidak mengganggu jadwal belajar mereka, meski harus mengurangi waktu bermain bersama teman-teman sebayanya.
Tidak hanya di sekolah, di rumah pun mereka tetap melanjutkan latihan.
Orang tua masing-masing tidak pernah lelah mendampingi.
Mulai dari membetulkan tajwid, melatih irama tartil dan saritilawah, hingga memberikan semangat.
‘’Kami bangga karena anak-anak menunjukkan semangat yang luar biasa,’’ ucap ibunda Mazidah, Nofia Wulandari yang juga sebagai guru pendamping lomba.
Meski telah bersahabat sejak masuk MI dan berhasil menjuarai kompetisi ini, Mazidah dan Kayla rupanya tak memiliki bakat yang sama.
Berbeda dengan Kayla yang terbilang baru di dunia tartil dan saritilawah, Mazidah sudah terbiasa dengan hal ini.
‘’Mazidah mulai belajar tartil sejak masih di bangku taman kanak-kanak, saat usianya baru lima tahun. Atmosfer Qurani sudah menjadi bagian dari kesehariannya,” lanjut Wulan—sapaannya.
Anak kedua dari dua bersaudara ini bahkan pernah meraih juara 2 LPTQ tingkat Kecamatan (Rengel, Grabagan, dan Semanding) dan juara 1 dalam Porseni 2025.
‘’Karena sudah terbiasa membaca Alquran sama ayah, ibu, dan guru di sekolah,” tutur Mazida dengan suara lirih dan malu-malunya saat di wawancarai.
Sementara Kayla, dia lebih dikenal sebagai penyair cilik. Meski bakatnya baru tampak belakangan, dia berhasil meraih juara 3 lomba puisi dalam ajang Porseni 2025.
Sehingga, bakatnya dinilai potensial untuk berpasangan dengan Mazidah dalam ajang lomba tartil dan saritilawah ini.
‘’Kayla anaknya cepat belajar, percaya diri, dan suaranya juga lantang. Sehingga terasa pas untuk tampil sebagai saritilawah dan Mazidah sebagai tartil Quran-nya,” ucap ibunda Kayla, Fajar Indah Dwijayanti yang turut hadir sebagai guru pendamping sekaligus orang tua yang mendukung putrinya.
‘’Senang sekali karena ini piala pertama di lomba tartil Quran dan saritilawah,” ujar Kayla di samping ibunya dengan wajah berseri-seri.
Prestasi Mazidah dan Kayla menjadi cerminan generasi muda Tuban yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga mencintai Alquran.
Di tengah derasnya arus teknologi dan hiburan digital, masih ada anak-anak yang memilih untuk mengisi waktu luang dengan membaca Alquran.
‘’Semoga perjalanan anak kami tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi juga semakin mendalami bakatnya dan pastinya tetap mencintai Alquran sebagaimana identitas umat muslim,” tandas Indah. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama