RADARTUBAN - Bagi sebagian besar anak, matematika menjadi pelajaran yang paling menakutkan. Namun, tidak bagi Adam Putra Pratama.
Pemuda ini memutuskan untuk mendalami pelajaran dengan rumus yang rumit tersebut. Baginya, matematika ibarat musuh yang kuat dalam sebuah game. Menantang sekaligus menyenangkan untuk ditaklukan.
Dengan intonasi suara yang ramah dan ceria, Adam Putra Pratama menyapa wartawan koran ini melalui sambungan telepon, Selasa (9/6) lalu.
Dirinya dengan penuh kebanggaan dan sukacita menceritakan bagaimana perjalanannya berhasil menyabet medali emas kejuaraan matematika tingkat internasional.
Kecintaan Adam terhadap pelajaran ini bermula saat dirinya masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar (SD).
Ketika anak-anak seusianya masih mengeja dan mengenal angka, Adam justru sudah tertarik dengan pelajaran numerik yang memerlukan fokus dan ketekunan.
‘’Awalnya saya cuma senang menghitung. Tapi saat melihat kakak saya belajar matematika dan ikut lomba, saya mulai tertarik mendalaminya,” tuturnya.
Berkat sang kakak yang menginspirasi, Adam mulai mencoba menyelami matematika lebih dalam. Tidak ada sedikit pun paksaan.
Semua datang begitu saja dari rasa penasarannya dengan angka. Dia merasa bahwa matematika bukan hanya sekadar pelajaran, melainkan permainan yang memacu adrenalin dan harus bisa diselesaikan.
Perjalanan pemuda asal Desa Bulumeduro, Kecamatan Bancar hingga menorehkan berbagai prestasi bukan hal yang instan.
Sejak SD, dirinya mulai rajin mengikuti banyak kompetisi, bahkan ketika duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP), remaja 16 tahun ini semakin menunjukkan keseriusannya dengan mendaftar di berbagai perlombaan yang diselenggarakan oleh universitas terkemuka di Indonesia.
Dari pengalamannya ini, Adam banyak belajar dan semakin matang dalam berpikir serta menyusun berbagai strategi untuk memecahkan soal-soal dalam waktu yang terbatas.
Bukan hal yang mudah baginya untuk bisa mengikuti kompetisi matematika internasional.
Adam mengaku, meski telah akrab dengan soal-soal numerik sejak belia, dia tetap mempersiapkan diri untuk mengikuti berbagai proses seleksi yang ketat mulai dari tingkat sekolah hingga babak penyisihan tingkat nasional.
Adam akan menyisihkan waktu khusus untuk belajar lagi. Setidaknya, dia membutuhkan 1-2 jam setiap harinya untuk mengulas materi dan mengerjakan berbagai soal latihan.
Terlebih, mendekati waktu kompetisi yang membuat dirinya semakin fokus belajar.
‘’Tantangan terbesarnya justru diri sendiri. Tidak jarang merasa malas atau terdistraksi dengan lingkungan sekitar. Kadang juga terlalu lama berpikir saat soalnya terlalu sulit, tapi tetap berusaha tenang, pelan-pelan, dan percaya kemampuan diri sendiri,” katanya.
Meski demikian, Adam tidak membiarkannya berlarut-larut. Untuk mengatasinya, dia menggunakan metode belajar Pomodoro, yakni fokus belajar selama 25 menit lalu istirahat selama 5 menit. Metode ini membuatnya selalu fokus dan lebih disiplin dalam belajar.
Bahkan, saat memiliki waktu luang, pemuda berzodiak Taurus ini mengaku selalu berlatih soal-soal untuk menyiapkan diri dalam kompetisi internasional.
Kerja keras pelajar MAN 1 Tuban sejak usia belia berbuah manis.
Puncaknya, Adam berhasil bersaing dengan 65 ribu peserta lainnya dan sukses menyabet medali emas dalam International Kangaroo Mathematics Contest (IKMC) 2025 yang diselenggarakan di Bogor Jawa Barat.
‘’Meraih semua ini bukan hanya karena diri sendiri, tapi dukungan dari keluarga, guru-guru, dan juga teman-teman membuat saya sampai di titik ini,” ungkapnya dengan rendah hati.
Adam meyakini, jika dengan terus mencoba dan tidak meudah menyerah, hal-hal yang diimpikan akan dapat terwujud meski prosesnya begitu rumit dan melelahkan.
‘’Kalau kita sungguh-sungguh, hasil tidak akan mengkhianati usaha. Setiap orang punya cara dan jalannya masing-masing, yang terpenting berdoa, konsisten, mau belajar dari kesalahan, dan tidak berhenti berusaha,” tandasnya dengan begitu bijak. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama