RADARTUBAN - Di tengah gempuran tari modern, Diva Pegy Safaati secara konsisten memilih tari tradisional. Baginya, melestarikan seni tradisional adalah upaya menjaga warisan budaya.
Suasana adem dengan sentuhan seni itu terasa kuat saat memasuki rumah Diva Pegy Safaati di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding beberapa waktu lalu.
Jajaran lukisan, piagam, hingga piala kompetisi tari tertata rapi di saban dinding rumah sederhana itu.
Tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan budaya modern tidak membuat remaja yang akrab disapa Diva itu meninggalkan tari tradisional.
Sejak kecil, dia telah akrab dengan irama gamelan, tabuhan kendang, dan derap langkah tari yang telah dilakukan secara turun temurun dari keluarganya.
‘’Sejak dulu Mbah Kung juga sudah menekuni dunia tari tradisional, kemudian bakatnya menurun ke ibu, lalu ke saya dan kakak,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Melihat kiprah kakek dan ibunya dalam menampilkan tari tayub dan menyenandungkan tembang-tembang Jawa, lambat laun kecintaan Diva terhadap tari tradisional tumbuh secara alami.
Menurutnya, tarian tradisional bukan sekadar gerak tarian biasa. Melainkan bergerak sekaligus membawa makna dalam setiap langkah dan gerakan tangannya.
‘’Tari tradisional itu merupakan ekspresi jiwa. Kalau salah membawakan gerakannya, bisa mengurangi makna tariannya. Jadi benar-benar harus mempelajari sedalam mungkin agar dapat memerankan tariannya sesuai pakem,’’ katanya.
Kiprahnya dalam menari telah membawa remaja 16 tahun ini tampil dalam berbagai acara, mulai dari kegiatan tari massal, kompetisi tari tingkat kabupaten, Tuban Specta Night Carnival, hingga tampil di tingkat provinsi dalam ajang Putri Tari Cilik Jawa Timur.
Meski telah menguasai beragam tarian tradisional, siswi kelas 10 SMAN 2 Tuban ini masih sering merasa mendapat tantangan besar dalam melestarikan seni tari tradisional.
Terlebih, di tengah budaya tari modern yang semakin masif.
‘’Memang sulit untuk melestarikan tradisi, karena ada pakem yang tidak boleh dilewatkan, sehingga harus telaten dan konsisten agar terbiasa dengan setiap gerakannya. Terlebih saat ini harus bersaing dengan dance modern yang mudah diciptakan dan selalu berubah sesuai tren saat ini,’’ terangnya.
Bagi Diva, tari tradisional adalah bahasa jiwa. Melalui tarian warisan budaya ini, dia merajut kenangan keluarga sekaligus sebagai ungkapan hati dan yang diekspresikan melalui tarian.
Dia yakin kecintaannya pada seni tari dapat menjadi salah satu motivasi bagi generasi muda lainnya untuk turut andil dalam melestarikan budaya agar tidak hilang dan tergerus zaman.
‘’Menekuni tari tradisional menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya untuk menjunjung budaya dan tradisi. Sebagai penerus, saya memiliki kewajiban untuk menjaga nilai dan pakemnya agar budaya ini tetap eksis,” tandasnya. (*/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama