RADARTUBAN - Meski awalnya tidak percaya diri, Cantika Nurmayafi Agustia berhasil membuktikan kemampuannya dalam berbahasa Inggris dan sukses bersaing dengan seribu peserta se-Indonesia dan memperebutkan medali emas.
Langkahnya pelan. Bibirnya menebar senyum. Wajahnya yang berbinar-binar menyiratkan hatinya yang berbunga-bunga.
Itulah ekspresi Cantika Nurmayafi Agustia ketika datang ke ruang guru MAN 1 Tuban, Jumat (17/10).
Gadis 18 tahun itu baru saja menorehkan prestasi yang membuat banyak orang menoleh: medali emas Brilliant Student Olympiad Bahasa Inggris 2025!
“Sejujurnya saya tidak menyangka bisa meraih medali emas,” tuturnya didampingi Humas MAN 1 Tuban Rahmana Fatma, membuka perbincangan dengan Jawa Pos Radar Tuban.
Caca, sapaan akrabnya, mengaku awalnya tidak percaya diri mengikuti kompetisi tersebut.
Terlebih, skalanya nasional yang diikuti banyak siswa yang lebih berbakat darinya.
Selama ini, dia juga bukan tipikal siswi yang suka tampil di depan publik.
Caca mengungkapkan, olimpiade adalah pengalaman pertamanya ikut kompetisi.
“Sebetulnya niat awal mengikuti ajang ini hanya untuk sekadar mengukur kemampuan diri saya dalam berbahasa Inggris dan tidak berharap bisa mendapat medali emas,’’ ujarnya.
Itu karena sejak kelas X, Caca mulai menekuni bahasa Inggris.
‘’Ternyata tidak disangka bisa meraih medali emas dengan skor akhir 500,” ujarnya sumringah.
Kompetisi yang digelar daring oleh Lembaga Kompetisi Indonesia itu diikuti sekitar seribu peserta dari seluruh Indonesia.
Meski kompetisinya cukup ketat, Caca membuktikan kepercayaan diri yang kecil tak selalu berbanding lurus dengan kemampuan.
Terbukti, dia berhasil menembus barisan teratas dengan nilai sempurna. Bahkan, mengungguli peserta dari sekolah-sekolah favorit.
Ketika pengumuman melalui laman penyelenggara, dia justru saya mencari urutan nama saya di barisan terbawah.
Itu karena dirinya tidak percaya diri bisa mendapatkan medali emas.
‘’Jangankan mendapatkan medali, saya bahkan tidak berharap menang dalam ajang perlombaan skala nasional ini,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Capaian itu tentu tak datang tiba-tiba. Dua minggu menjelang lomba, Caca menambah jam belajarnya.
Dari yang biasanya hanya belajar di sekolah, kini waktu istirahat dan sepulang sekolah pun dia habiskan untuk mengulas materi.
Tak ada bimbel. Tak ada guru privat. Hanya tekad dan kemauan kuat.
“Karena saya menyukai bahasa Inggris, jadi saya tidak merasa keberatan untuk mengulas kembali setiap materinya,’’ katanya.
Fokus belajar Caca bukan hanya pada materi di buku, namun juga belajar melalui film dan lagu untuk memperluas vocabulary-nya.
Meski begitu, gadis berhijab itu tak menampik, dirinya sering kewalahan melawan lupa.
Bahkan saat kompetisi berlangsung, dia sempat lupa beberapa rumus grammar.
Itu yang menjadikannya perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikan soalnya.
‘’Alhamdulillah, tidak terlambat untuk menyelesaikan 40 soal dalam waktu 60 menit,” ujar dengan mata berbinar.
Lulusan Pondok Pesantren Langitan itu mengaku semua proses belajarnya dilakukan secara otodidak. Tak ada les. Tanpa kelas tambahan.
“Saya pikir belajar itu tidak harus melalui lembaga bimbel saja, tapi jika ada niat dan kemauan, belajar secara otodidak pun bisa menorehkan prestasi. Tergantung bagaimana kita mengelola waktu untuk belajar,” ujarnya mantap.
Humas MAN 1 Tuban Rahmana Fatma tak bisa menutupi rasa bangganya.
Menurutnya, sejak kelas X, Cantika memang selalu menonjol dalam pelajaran bahasa Inggris.
“Kami berharap di berbagai ajang kompetisi selanjutnya, Cantika bisa berpartisipasi, memberikan contoh sebagai siswa yang berprestasi, dan pastinya berharap dia lebih percaya diri lagi dalam mendaftarkan diri ke berbagai ajang kompetisi baik itu level kabupaten, nasional, atau internasional,” tutur Rahma.
Kini, di wajah Cantika tersisa senyum yang berbeda: bukan lagi senyum malu, tapi senyum yakin.
Dia sudah membuktikan, tak perlu banyak bicara untuk bersinar. Cukup bekerja keras, hasil yang akan berbicara. (*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama