Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Uswatun Hasanah, Pelestari Batik Gedog Generasi Kelima: Konsisten Ajarkan Seni Membatik kepada Generasi Muda

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 3 November 2025 | 01:10 WIB

 

Uswatun Hasanah, pengrajin batik gedog generasi kelima dari Kerek, Tuban, terus melestarikan warisan leluhur dengan cara tradisional dan semangat regenerasi budaya.
Uswatun Hasanah, pengrajin batik gedog generasi kelima dari Kerek, Tuban, terus melestarikan warisan leluhur dengan cara tradisional dan semangat regenerasi budaya.

RADARTUBAN - Uswatun Hasanah telah menjadi generasi kelima pelestari batik gedog di keluarganya.

Dengan tekad yang kuat, dia mengabdikan diri bukan hanya untuk menghasilkan batik, tetapi juga menanamkan semangat cinta budaya kepada generasi penerus untuk terus menjaga warisan budaya yang menjadi kebanggaan warga Tuban ini.

Suara riuh pelajar dan alat tenun tradisional berpadu dengan aroma malam batik menyambut tamu yang datang ke rumah produksi batik Uswatun Hasanah di Desa Kedungrejo, Kecamatan Kerek.

Di antara kesibukan rumah produksi siang itu, tampak Uswatun dengan langkah mantap menyambut wartawan koran ini dan beberapa pelajar yang turut menantinya di teras rumah joglonya yang klasik.

Sosok pengrajin batik gedog generasi kelima itu kini aktif mengajarkan batik kepada siapa saja yang ingin melestarikan budaya khas Tuban tersebut.

‘’Kalau batik tidak diajarkan pada generasi muda, lama-lama warisan budaya ini akan hilang,” ujarnya kala menjelaskan banyak hal tentang batik.

Bagi ibu tiga anak itu, membatik bukan sekadar pekerjaan, tetapi wujud cinta terhadap warisan leluhur.

Sebagai ketua paguyuban batik tuban, dia juga merasa memiliki tanggung jawab besar menjaga agar batik gedog tetap hidup dan dikenal luas.

Karena itu, dia menjadikan rumah produksinya sebagai tempat belajar bagi siapa pun yang ingin mengenal lebih dalam tentang batik.

Selain warga lokal, turis mancanegara pun kadang ikut belajar membatik dan mengetahui budaya batik lebih dalam.

‘’Dulu sempat beberapa bule menginap di rumah untuk lihat proses pembuatan batik gedog dan mencoba belajar juga,” paparnya.

Di tempat produksinya yang tampak begitu klasik dengan bata merah dan kayu berukir.

Para pekerja dari warga sekitar maupun generasi muda yang datang bisa belajar seluruh proses pembuatan batik gedog khas Kota Legen ini.

Mulai dari pemintalan kapas menjadi benang, penenunan benang, hingga mencanting dan pewarnaan.

Setiap hari, sekitar 100 perajin bekerja di bawah bimbingannya.

Dia tidak hanya mengawasi, tetapi juga aktif turun tangan memberikan pelatihan.

“Saya ingin mereka bisa mandiri. Tidak hanya tahu caranya, tapi juga mencintai prosesnya,” katanya.

Semangat itu ditularkannya kepada setiap orang yang datang.

Baginya, melestarikan budaya tidak cukup hanya dengan produksi, tetapi juga harus melalui regenerasi.

‘’Alhamdulillah anak-anak saya sedikit demi sedikit berkenan untuk belajar tentang batik. Semoga ke depannya bisa meneruskan untuk menjaga batik tuban agar tetap eksis,” katanya.

Di tengah derasnya arus industri modern, dia tetap berpegang pada cara tradisional dan memastikan semua proses dilakukan secara manual dengan alat tenun gedog tradisional untuk menjaga karakter khas batik gedog.

Benang-benang dipintal sendiri, kain ditenun dengan alat yang terbuat dari kayu, dan motif yang digambar langsung tanpa menggunakan pola.

‘’Kami masih menjaga cara lama agar hasilnya tetap punya karakter khas. Itu yang membuat batik gedog berbeda,” ujar Uswatun.

Upaya untuk terus mempertahankan eksistensi batik gedognya tidak berhenti di situ, dia juga aktif memperkenalkan batik ke berbagai ajang pameran, baik dalam maupun luar negeri.

Hasil karyanya telah dipamerkan ke banyak negara, seperti Australia, Kamboja, hingga Belanda.

Bahkan, beberapa waktu lalu dia baru saja mengirimkan pesanan batik ke Singapura.

‘’Kalau budaya kita bisa dikenal di negara lain, itu harusnya menjadi kebanggaan tersendiri. Tapi untuk saat ini yang lebih penting, jangan sampai di negeri sendiri justru batik di lupakan,” katanya.

Uswatun juga memiliki metode tersendiri untuk memastikan agar kualitas batiknya tetap terjaga.

Tidak hanya memilih kain yang berkualitas, tetapi juga memastikan setiap perajin memiliki keterampilan yang baik.

Bahkan, dia memiliki tim koreksi untuk memeriksa hasil produknya sebelum masuk ke tahap selanjutnya.

Semua itu dilakukan untuk menjaga kualitas dan produk batik gedog agar tetap terjaga.

Walau zaman terus berubah, semangatnya untuk terus menjaga warisan budaya tidak pernah surut.

Dia berharap, generasi muda tertarik untuk belajar membatik dan menjaga kelestarian warisan leluhur ini.

‘’Di masa mendatang saya akan aktif membuka kelas membatik agar banyak anak muda yang bisa melanjutkan budaya ini. Kalau tidak ada penerus, batik gedog ini bisa hilang. Saya ingin anak-anak kita bangga dengan warisan ini,” tandasnya. (*/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Kerek #batik gedog #modern