RADARTUBAN - Tiga siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Tuban, Arshavin Abimanyu, Adam Putra Pratama, dan Muhammad Arsyad Husain berhasil menorehkan prestasi nasional.
Itu setelah mereka menyabet gelar juara tiga dalam lomba robotik Smart Robot Project Procommit V15 yang digelar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Sabtu (29/11).
Perjalanan menuju gelar nasional ini tidaklah mulus. Prosesnya begitu melelahkan dan penuh liku. Yang pasti, menguras energi dan menegangkan. Ketiga siswa itu masih merasakan hal yang sempat membuatnya limbung dan nyaris putus asa itu, meski sudah sepekan lebih berlalu.
Kompetisi robotik yang diikuti ketiganya, Sabtu (29/11), bukanlah ajang peragaan robot-robot futuristik, melainkan pertarungan ketangkasan dan akurasi program untuk mengoperasikan robot.
Dalam waktu tiga menit, robot transporter dan robot worker bercapit milik Arshavin dan kawan-kawan harus menyelesaikan misi khusus.
Tugasnya, memindahkan bola pingpong ke arena lain dan ke dalam ring untuk mengumpulkan poin maksimal.
Saingan mereka tidak remeh-temeh. Tercatat, 20 tim terbaik dari sekolah jenjang SMA/MA se-Indonesia yang tergabung dalam Program Prodistik.
Mulai dari Bantul, Kediri, Pasuruan, Jombang, Ponorogo, Lumajang, dan masih banyak lainnnya.
Berbekal kombinasi logika program, kecepatan gerak, dan ketepatan eksekusi, tim menjalankan tugas itu dengan baik.
Arshavin bertugas memprogram transporter, Adam mengawasi arena, Arsyad mengoperasikan worker bercapit.
Tak mudah meraih keberhasilan tersebut. Setidaknya, butuh waktu sebulan penuh bagi tim untuk bersiap.
‘’Bahkan, seminggu sebelum lomba, robot worker kami masih harus dikirim kembali ke Surabaya untuk diperbaiki lagi. Malam sebelum keberangkatan, error pada program robot worker kami juga masih belum selesai,” kenang Arshavin ditemui Jawa Pos Radar Tuban di Ruang Tatib MAN 1 Tuban, Jumat (5/12).
Arsyad mengingat jelas bagaimana kekacauan itu.
‘’Situasinya memang chaos saat itu. Jam satu malam saya bahkan harus membangunkan Arshavin untuk membantu membetulkan coding program robot worker.’’
Mereka berpikir kendala itu sudah lewat. Ternyata belum. Di tengah kompetisi, worker kembali trouble. Konsleting dan capitnya mati.
Tim kecil itu sempat merasa kehilangan arah.
‘’Waktunya sangat tidak mencukupi jika harus memperbaiki di sela lomba. Solusinya, kami harus merombak total strategi saat dinyatakan masuk ke babak delapan besar,’’ imbah Arshavin.
Memasuki babak delapan besar, mereka lebih mengobarkan optimistis untuk memupus keraguan.
‘’Jujur, saat itu bukannya senang, kami justru bingung dan hampir memilih mengundurkan diri dari lomba. Melihat lawan kami dengan robot yang keren dan canggih, kami sedikit minder. Apalagi salah satu robot kami bermasalah,’’ tambah Adam.
Terjebak dalam situasi terdesak sejak babak delapan besar, mereka benar-benar harus memutar otak untuk bisa bertahan dan melewati setiap fase perlombaan yang tersisa. Terlebih, hanya mengandalkan satu robot yang berfungsi optimal.
Sementara itu, robot worker yang rusak parah pada capitnya harus tetap berada di arena dan dijalankan.
Bukan untuk menyelesaikan misi, namun untuk mengecoh dan menutupi masalah kerusakan pada robotnya.
Sebuah taktik cerdas yang menunjukkan keahlian mereka dalam memanfaatkan setiap celah keadaan.
’’Sejak keberangkatan, kami benar-benar pesimis. Sama sekali tidak berharap keluar sebagai juara. Apalagi, kondisi robot kami sejak awal sudah tidak baik. Kami berpikir tidak akan mungkin menang,” imbuh Adam.
Arshavin menambahkan, dalam situasi tersebut, mereka masih harus waspada terhadap tim dari Pasuruan yang mereka anggap sebagai pesaing terberat.
Hal tersebut muncul karena di tahun sebelumnya, tim yang dinakhodai Arshavin pada 2024 lalu harus merelakan posisi juara kepada tim dari Kota Santri itu. Hal itu semakin menambah beban mental ketiganya.
Saat nama tim mereka diumumkan sebagai juara tiga, ekspresi tawa lega bercampur menjadi satu.
‘’Benar-benar tidak menyangka bisa mendapat juara. Justru, saat kami diumumkan pada babak delapan besar, lalu berlanjut ke empat dan tiga besar, kami merasa sedih karena bebannya semakin berat,” beber Arsyad.
Kemenangan mereka menjadi ending dari drama panjang.
Mereka membuktikan, bahwa keuletan, kecerdasar mengatur strategi, dan mental baja di tengah keterbatasan menjadi sesuatu yang unggul daripada robot tercanggih sekalipun.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama