RADARTUBAN - Evan Haydar, Warga Negara Indonesia (WNI) yang kini menjabat sebagai Human Resources Development (HRD) di Tesla Berlin, Jerman, mengungkap secara gamblang realitas dunia kerja dan kehidupan sosial di negara tersebut.
Dalam wawancara eksklusif di podcast bersama Raditya Dika, Evan memaparkan bagaimana budaya kerja yang sangat menjunjung keseimbangan hidup karyawan justru hadir berdampingan dengan tekanan pajak tinggi, biaya hidup besar, hingga tantangan psikologis selama musim dingin.
Evan mengungkapkan, motivasi awal untuk pergi ke luar negeri karena mimpinya sejak kecil ingin explore dunia luar.
Kesempatan itu datang ketika dia sedang mengenyam pendidikan di bangku SMA kelas 3.
"Waktu itu SMA kelas 3 kesempatannya datang waktu aku tahu kalau ternyata kuliah di Jerman itu biayanya hampir bisa dibilang gratis, 0 rupiah, cuma ada biaya administrasi aja, dan kurang lebih cuman Rp 6 juta per semester, tapi itu juga udah termasuk biaya transportasi, biaya perpustakaan dan lain-lain. Jadi yang waktu itu karena orang tuaku support, akhirnya ayahku pinjam uang untuk bisa memberangkatkan aku ke Jerman," jelas Evan
Evan menuturkan bahwa perjalanannya menuju Tesla tidak berlangsung cepat.
Dia tinggal di Jerman selama sembilan tahun dan memulai hidup dari pekerjaan serabutan. Ia bekerja di restoran, pabrik, hingga menjadi pelayan Burger King untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kesempatan bekerja secara profesional muncul ketika Samsung Next memberinya tawaran. Evan menjelaskan bahwa perusahaan tersebut lebih mengutamakan karakter dibandingkan keterampilan teknis.
“Mereka suka karakter saya. Skill bisa diajarkan, tapi karakter dan kecocokan tim tidak bisa dipaksakan,” jelasnya.
Dia juga menyampaikan bahwa perilaku saat proses rekrutmen menjadi indikator utama bagi perusahaan Jerman.
Kandidat yang terlambat, terlihat tidak profesional, atau melakukan wawancara dari dalam mobil langsung mendapat penilaian negatif dan dianggap tidak layak melanjutkan proses.
Evan kemudian membongkar sejumlah kebijakan ketenagakerjaan Jerman yang menurutnya sangat berpihak kepada karyawan.
Cuti Tahunan Wajib 30 Hari Kerja, Pemerintah Jerman menetapkan hak cuti minimal 30 hari kerja per tahun.
Tesla Berlin tidak hanya mematuhi aturan tersebut, tetapi juga secara aktif mendorong karyawan mengambil cuti demi menjaga kesehatan mental dan performa kerja.
Batas Jam Kerja 8 Jam Sehari, Perusahaan di Jerman tidak boleh mengeksploitasi tenaga kerja.
Lembur harus dibayar penuh dan hanya diperbolehkan bila sangat mendesak.
“Manajer kami sering mengatakan, ‘Lanjutkan besok. Kita tidak sedang menyelamatkan dunia,’” ungkap Evan.
Fleksibilitas Kerja Berbasis Output, Khusus tim HR Tesla, jadwal tidak diatur dengan absensi ketat. Karyawan bebas mengatur waktu kerja selama output 8 jam tetap terpenuhi.
Larangan WhatsApp untuk Komunikasi Kerja, Jerman memiliki regulasi privasi ketat.
Semua urusan kantor harus dilakukan melalui platform resmi seperti Microsoft Teams. WhatsApp dilarang digunakan karena dianggap mengganggu privasi karyawan
Pajak Tinggi dan Depresi Musim Dingin Jadi Tantangan, Selain keunggulan sistem kerja, Evan menjelaskan bahwa kehidupan di Jerman memiliki sisi yang berat.
Deposit Visa Mahasiswa Rp150–200 Juta, Meskipun kuliah hampir gratis, mahasiswa asing wajib menyetor deposit besar sebagai jaminan biaya hidup untuk satu tahun.
Pajak Penghasilan 35–40%, Pajak progresif membuat gaji karyawan terpotong hampir separuh.
Isu penyalahgunaan pajak untuk program imigran ilegal memicu polemik di masyarakat Jerman.
Winter Depression, Kurangnya paparan sinar matahari saat musim dingin sering memicu depresi, terutama bagi warga Asia yang tidak terbiasa dengan kondisi tersebut.
Evan menutup pembahasan dengan menyampaikan bahwa ia sedang menyiapkan buku fisik berdasarkan e-book miliknya berjudul Hidup itu Keras.
Naskah tersebut kini ditangani Gagas Media dan dijadwalkan rilis awal tahun depan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama