RADARTUBAN - Di sebuah rumah sederhana di Dusun Morosemo, RT 04 RW 17, Desa Sumberagung, Kecamatan Plumpang, terdapat belasan kaleng biskuit yang selama bertahun-tahun hanya dianggap wadah biasa.
Padahal, di sanalah Mohammad Nasrudin, 45 bersama istrinya Hariyati, 46, menitipkan doa-doa bersama niat mulianya menunaikan ibadah haji.
Mimpi berangkat ke Tanah Suci itu dibangun Nasrudin dari keping-keping koin nominal Rp 1.000 yang dikumpulkannya sejak 2014 silam.
Setiap koin yang dimasukkan ke dalam kaleng biskuit terdapat secuil tekad besar yang telah lama dipupuk oleh kedua pasutri itu.
Nasrudin hanyalah seorang satpam di salah satu perusahaan. Sejak 1999, dia menjaga keamanan.
Tugasnya tidak hanya berdiri di pos, namun juga mengatur keluar-masuk kendaraan, dengan penghasilan yang pas-pasan.
Bagi dirinya, membayangkan biaya haji terasa seperti memandang langit dari dasar sumur. Pria paruh baya itu nyaris menyerah.
Hingga suatu hari, kegundahannya disampaikannya kepada KH Syaifuddin Zuhri, direktur utama perusahaan tempatnya bekerja. ‘’Kalau tekadmu sudah bulat, menabunglah, meski hanya sebutir koin,’’ pesan sang pimpinan kala itu.
Kalimat sederhana itu menjadi titik balik bagi Nasrudin. Dirinya memegang teguh kalimat tersebut.
Sejak saat itu, Nasrudin mulai menabung dengan cara yang mungkin dianggap remeh oleh banyak orang. Dia menyisihkan koin Rp 1.000 dari kembalian belanja dan sisa uang jajan. Biasanya, uang receh tersebut terselip di saku. Tak ada target harian. Juga tak ada hitungan pasti. Yang penting, ada koin yang masuk kaleng biskuit.
‘’Setiap mendapat koin Rp 1000 rasanya seperti melihat sebuah benda berharga. Setiap kali memasukkan koin ke dalam kaleng biskuit tak lupa selalu mengucapkan niat berangkat haji, Alhamdulillah semakin lama justru semakin bersemangat menabung,’’ ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Tuban di kediamannya.
Hari demi hari, kaleng biscuit pertama penuh. Lalu disusul kaleng biskuit kedua. Hingga akhirnya jumlahnya menjadi 13 kaleng.
Di sepanjang perjalanan istiqamah menabungnya itu, Nasrudin jadi bahan tawa sinis dan cibiran sebagian orang-orang di sekitarnya. Tidak sedikit menyebut mimpinya terlalu tinggi.
Bahkan, dia sempat dianggap ‘’menyiksa diri’’ dengan kebiasaan mengumpulkan uang receh. Namun, Nasrudin memilih diam. Baginya, mimpi tak perlu diperdebatkan.
Nasrudin mengaku suatu ketika pernah berada di masa-masa sulit. Terutama ketika ada kebutuhan mendesak atau saat uang di sakunya hampir habis.
Namun, satu hal tak pernah dia lakukan, yakni menyentuh tabungan koinnya.
‘’Kalau itu (koin tabungan, Red) saya ambil, rasanya seperti mengkhianati niat,’’ ujarnya.
Rabu (4/2) pagi, Nasrudin dan istrinya, Hariyati, mengangkut 13 kaleng itu menuju ke Kantor Bank Syariah Indonesia (BSI) Tuban menggunakan mobil L300. Suasana bank mendadak hening ketika kaleng-kaleng itu dibuka. Gemerincing koin memenuhi ruangan.
Sepuluh pegawai bank dikerahkan untuk menghitung. Satu per satu mengeluarkan koin dari kaleng. Menghitung, menyortir, dan menumpuk. Hingga akhirnya diketahui jumlahnya sekitar Rp 56 juta.
Dari seluruh koin yang dihitung itu, sekitar Rp 500 ribu uang logam tidak diterima pihak bank lantaran berkarat. Meski demikian, tetap tak mengurangi rasa syukurnya.
Di hadapan meja layanan, Nasrudin menunduk lama. Matanya berkaca-kaca sembari merangkul istrinya. Doa yang disimpan dalam koin, satu per satu akhirnya menemukan jalannya.
‘’Alhamdulillah, semakin dekat menuju Makkah,” tandasnya.(*/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama