Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jejak Dakwah Mbah Syifa’ Bangun Pendidikan Formal Pesantren Ash Shomadiyah Tuban

Andreyan (An) • Kamis, 19 Februari 2026 | 17:30 WIB
KH Riza Shalihuddin Habibi saat berfoto bersama foto KH Ahmad Syifa Sholih, kemarin (18/2).
KH Riza Shalihuddin Habibi saat berfoto bersama foto KH Ahmad Syifa Sholih, kemarin (18/2).

RADARTUBAN - Kejayaan Pondok Pesantren Ash Shomadiyah tidak dapat dilepaskan dari peran KH Ahmad Syifa’ Sholih, sosok yang merintis penguatan lembaga pendidikan formal di pesantren yang beralamat di Dusun Makam Agung, Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban itu.

Sebelum kehadiran Mbah Syifa’, sapaan akrab KH Ahmad Syifa’ Sholih—cikal bakal pesantren tersebut telah berdiri sejak sekitar abad ke-18.

Didirikan oleh Syekh Ash Shomadiyah, kawasan itu awalnya hanyalah sebuah masjid kecil berpondasi kayu yang menjadi tempat masyarakat sekitar belajar mengaji.

Mbah Syifa’ merupakan generasi kelima yang memimpin Pondok Pesantren Ash Shomadiyah. Dia mulai mengasuh pesantren sekitar dekade 1980-an.

Lahir di Tuban pada 1944, masa mudanya dihabiskan untuk menimba ilmu di pesantren Sarang, Kabupaten Rembang, di bawah asuhan KH Imam Bin Harun.

Pengasuh Pondok Pesantren Ash Shomadiyah saat ini, KH Riza Shalihuddin Habibi menuturkan, setelah menguasai berbagai disiplin ilmu keislaman, Mbah Syifa’ diminta gurunya untuk kembali ke Tuban.

Amanah itu dijalankan dengan mengabdikan diri pada pendidikan dan dakwah di tengah masyarakat.

“Puncak kejayaan pesantren ini terjadi saat dipimpin Mbah Syifa’. Pada masa itu, jumlah santri yang menimba ilmu di sini mencapai ratusan,” ujar Gus Riza, Selasa (18/2).

Salah satu kontribusi besar Mbah Syifa’ adalah mendorong berdirinya lembaga pendidikan formal di lingkungan pesantren.

Pada 1992, Madrasah Aliyah (MA) Ash Shomadiyah didirikan, disusul Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ash Shomadiyah pada 1996. Langkah tersebut memperluas akses pendidikan bagi masyarakat sekitar.

Semasa hidupnya, Mbah Syifa’ dikenal sebagai ulama yang disegani sekaligus dekat dengan masyarakat kecil. Putra KH Ahmad Sholeh itu juga dikenal hidup sederhana.

Menurut Gus Riza, dia kerap menjadi tempat masyarakat meminta pertolongan, bahkan dikenal memiliki kemampuan menyembuhkan.

Dalam keseharian, Mbah Syifa’ memiliki amalan yang dijaga dengan disiplin. Sejak selepas salat Subuh hingga menjelang Duha, dia senantiasa beribadah di masjid.

“Mungkin dari amalan-amalan itulah doa-doanya dikenal mujarab, bahkan sulit dijelaskan dengan nalar,” kata Gus Riza.

Satu pesan yang terus dipegang para penerus hingga kini adalah amanat Mbah Syifa’ agar pesantren selalu memberi ruang bagi masyarakat yang kesulitan mengakses pendidikan. “Pesan itu sampai sekarang masih kami jaga,” ujarnya.

Tak hanya berdedikasi menyebarkan pengajaran pendidikan agama islam kepada masyarakat, Mbah Syifa’ dikenal juga aktif berorganisasi.

Pada masanya, dia pernah menjabat sebagai rois syuriah PCNU Kabupaten Tuban.

Pimpinan ponpes Ash Shomadiyah generasi kelima itu juga pernah menjabat sebagai ketua MUI Kabupaten Tuban.

Saking berpengaruhnya sebagai tokoh ulama yang paling disegani pada masanya, dia era kepemimpinan Bupati Tuban tahun 1980 hingga periode 1990-an pasti selalu singgah di kompleks ponpes yang beralamat di Dusun Makam Agung, Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban itu.

''Kala itu, di setiap ada bupati Tuban yang menjabat selalu sowan kesini,'' terang Gus Riza.

Kebiasaan itu mencerminkan kuatnya posisi Mbah Syifa’ sebagai figur ulama yang dihormati lintas kalangan, sekaligus menjadi jembatan antara pesantren, masyarakat, dan pemangku kebijakan daerah. (*/ds-bersambung)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#pondok #Gus Riza #mustofa bisri #Ash Shomadiyah Tuban #pesantren