RADARTUBAN - Jejak dakwah KH Abu Ishaq Madyani di wilayah Kecamatan Rengel tidak hanya meninggalkan warisan ajaran keislaman dan karya-karya kitab.
Di balik kiprah penyebaran Islam sekitar dua abad lalu, tersimpan pula tradisi tutur yang hingga kini masih dipegang oleh garis keturunannya.
Salah satu yang dipercaya secara turun-temurun adalah pantangan menanam talas di sekitar rumah. Dalam cerita keluarga, tanaman tersebut diyakini membawa energi buruk dan berpotensi mendatangkan musibah.
“Pesan atau mitos itu sampai sekarang masih dijaga dan dipegang teguh oleh keluarga,” kata MA. Ghufron Zamroni, generasi keenam keturunan KH Madyani, saat ditemui di kediamannya di Rengel, Selasa (24/2).
Zamroni menuturkan, larangan tersebut berakar dari peristiwa yang dialami Mbah Madyani pada masa awal bermukim di Rengel, tak lama setelah memperoleh sebidang tanah hasil sayembara di kawasan Sendang Beron.
Suatu ketika, rumah sang ulama nyaris tertimpa pohon kelapa. Peristiwa itu tidak sampai terjadi karena pohon kelapa tertahan oleh tanaman talas yang tumbuh di sekitar rumah.
Dalam cerita yang diwariskan keluarga, Mbah Madyani kemudian berpesan agar pantangan itu tidak dilanggar.
Alasannya, tidak dijelaskan secara rinci, namun diyakini berkaitan dengan pengalaman spiritual yang dialaminya.
“Berdasarkan cerita tutur keluarga, talas dimaknai sebagai simbol ketidakberuntungan,” ujar Gus Oni, panggilan akrab Zamroni.
Pantangan tersebut, lanjut dia, pernah dipertanyakan oleh sebagian anggota keluarga. Namun, pengalaman yang diyakini sebagai konsekuensi pelanggaran membuat tradisi itu kembali dipegang.
Dia mencontohkan, pernah ada anggota keluarga yang menanam talas, lalu rumahnya didatangi ular berbisa. Kejadian serupa juga dialami keluarga lain.
“Setelah itu tidak ada lagi yang menanam talas di sekitar rumah. Menjaga petuah ini juga dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur,” kata alumnus Pondok Pesantren Lirboyo itu.
Selain tradisi tutur, jejak dakwah KH Madyani masih dapat dilihat secara fisik melalui sebuah langgar di Gang Pesantren, Rengel.
Tempat ibadah itu kini dikenal sebagai Musala Al Madyani dan masih digunakan masyarakat hingga sekarang.
“Dulu langgar ini menjadi tempat mengaji anak-anak desa dan santri yang mondok. Sekarang tetap difungsikan untuk beribadah, meski sudah tidak ada santri yang menetap,” ujar Zamroni.
Bagi keluarga, keberlanjutan tradisi dan perawatan situs dakwah tersebut menjadi cara merawat ingatan kolektif atas peran KH Madyani dalam sejarah Islam di Rengel.(an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama