RADARTUBAN - Salawat Badar telah puluhan tahun menggema di seluruh Nusantara. Lantunan pujian kepada Allah, Nabi Muhammad, dan para ahli Badar itu tidak hanya hadir dalam forum-forum keagamaan, namun juga mengakar dalam tradisi spiritual masyarakat Indonesia.
Di balik bait-bait yang akrab di telinga umat Islam tersebut, berdiri sosok sederhana: KH Ali Manshur.
Kiai Ahmad Syakir Ali, putra KH Ali Manshur menuturkan, kehidupan sang ayah jauh dari gambaran kemewahan.
“Jika di tanya siapa itu Ali Manshur sang penulis Salawat Badar, beliau hanya wong ndeso. Bukan orang yang memiliki banyak kelebihan,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Sabtu (21/2).
Ali Manshur lahir di Jember, Jumat 23 Maret 1921 atau 4 Ramadan 1340 Hijriah. Dia merupakan putra pasangan Kyai Manshur dan Nyai Sofiyah.
Meski berasal dari keluarga kiai, masa kecilnya tidak bergelimang kecukupan. Secara ekonomi, kehidupannya tergolong sederhana.
Nama kecilnya adalah Ali Irkham bin Manshur bin Sidiq. Nama Ali Manshur baru digunakan setelah menunaikan ibadah haji, mengikuti nama ayahnya yang tercantum dalam paspor.
“Abah bukan asli orang Maibit, tapi orang Makam Agung. Yang asli Maibit sini istri beliau, Khotimah. Yang juga keturunan dari Makam Agung,” tutur Syakir.
Masa kecil Ali Manshur diwarnai perjuangan membantu ekonomi keluarga. Dia berjualan tempe, kacang, dan marning keliling kampung. Bagi Ali Manshur, kemiskinan bukan aib, melainkan tempaan mental.
“Beliau bangga cerita seperti itu, tidak minder. Bahkan putra-putranya sering diceritakan masa kecilnya. Yang membuat orang itu menjadi besar bukan hartanya, tapi tekad dari bawah yang harus mulai dipupuk," ujar Syakir.
Kecerdasan Ali Manshur mulai tampak sejak remaja. Saat sebagian santri seusianya masih belajar membaca kitab, dia sudah dipercaya mengajar atau mbalah kitab di Pondok Ashomadiyah. Peran tersebut lazimnya diemban kiai sepuh.
Pujian juga datang dari Kyai Maimun Zubair. Syakir menirukan perkataan tokoh tersebut.
“Abahmu iku mbiyen umur welasan wes mbalah. Gedene pondok Kamagung (Makam Agung, Red) iku ora kok mung mergo mbah Tolo,” kenang dia.
Kemampuan itu membuat santri dari berbagai daerah berdatangan. Pondok tempatnya mengajar pun berkembang pesat.
Kehausan Ali Manshur terhadap ilmu membawanya menempuh perjalanan panjang. Dia pernah belajar di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan kemudian melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.
Sepeda hadiah dari Kiai Ahmad Husairi menjadi saksi perjalanan intelektualnya dari satu pesantren ke pesantren lain.
Di mata sejumlah tokoh, keluasan ilmunya membuat Ali Manshur dijuluki “kitab mlaku” atau kitab berjalan. Dia dikenal tekun membaca dan disiplin mendokumentasikan aktivitas hariannya dalam catatan pribadi.
“Abah itu apa yang dikerjakan hari ini, besok, lusa, dan seterusnya itu ditulis semua. Didokumentasikan dalam satu buku khusus, seperti buku diary. Beliau juga memiliki kebiasaan yang kemudian menjadi istiqamah hingga akhir hayat, yaitu ngaji,” kata Syakir yang kini berusia 73 tahun.
Dari kehidupan yang bersahaja, lahir karya yang melampaui zaman. Salawat Badar terus dilantunkan, menjadi warisan spiritual yang hidup dalam denyut keseharian umat.(saf/ds-bersambung)
Editor : Yudha Satria Aditama