Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

KH Ali Manshur dan Lahirnya Salawat Badar di Tengah Krisis Bangsa

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 4 Maret 2026 | 18:00 WIB

Makam KH Ali Manshur yang berdampingan dengan kolam wudu area musala di Desa Maibit, Kecamatan Rengel. Insert, foto KH Ali Manshur.
Makam KH Ali Manshur yang berdampingan dengan kolam wudu area musala di Desa Maibit, Kecamatan Rengel. Insert, foto KH Ali Manshur.

RADARTUBAN - Namanya tak lekang oleh waktu. KH Ali Manshur dikenang bukan hanya karena kedalaman ilmunya dan kiprahnya sebagai anggota Konstituante, melainkan juga karena totalitasnya menebar ilmu. Buah panjang pengembaraannya dari satu pesantren ke pesantren lain.

Kyai Ahmad Syakir Ali, putranya, menuturkan, etos kerja sang abah nyaris tak mengenal jeda. Setiap Jumat pukul 10.00, ketika menjabat kepala Kantor Departemen Agama Mojokerto, Ali Manshur menutup kantor lebih awal. Bukan untuk beristirahat.

Dia bersiap menempuh perjalanan ke berbagai daerah demi menunaikan salat Jumat.

“Dengan mobil yang baru dimilikinya saat itu, beliau salat Jumat ke daerah-daerah secara bergantian. Bukan hanya salat, tapi beliau juga berkhotbah,” papar Kyai Syakir.

Kebiasaan itu tak surut ketika dia mengemban tugas di Jawatan Penerang Agama Provinsi (Japenap).

Ali Manshur memilih berkeliling memberikan pengajian. Dia menyebarkan ilmu yang diperoleh semasa nyantri, sekaligus meneguhkan nazarnya, yakni terus belajar sepanjang hayat.

Jejak organisasinya pun panjang. Sejak muda, dia bergabung dengan Pemuda Islam Indonesia. Aktivitas itu tak mereda bahkan ketika usianya memasuki lima dekade.

“Beliau itu boleh dibilang pulang ke rumah hanya sebentar. Itu pun kalau malam sudah ada yang menjemput lagi dari Lamongan, Bojonegoro, Gresik, Sarang untuk agenda kegiatan lainnya,” lanjut Kyai Syakir.

Kyai Syakir mengaku kerap terheran ketika membaca buku harian sang ayah. Catatan agendanya padat, berpindah-pindah antarkota dalam waktu singkat. Hampir tak ada ruang kosong.

Di tengah situasi genting pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memicu krisis multidimensi, kiprah Ali Manshur justru melahirkan karya yang melampaui zamannya: Salawat Badar.

Bagi keluarga, salawat itu bukan sekadar bait pujian kepada Allah, Rasul, dan para Ahli Badar.

Dia adalah narasi spiritual—untaian doa keselamatan yang diawali penghormatan setinggi-tingginya kepada Nabi Muhammad.

Secara substansi, Salawat Badar memotret situasi Indonesia kala itu: keresahan sosial, ancaman perpecahan, hingga kegelisahan batin masyarakat.

Doa-doanya memohon perlindungan dari malapetaka, krisis sosial, dan krisis batin yang melingkupi nusantara.

Salawat itu hadir bak oase di tengah kecamuk. Ketika rasa khawatir dan ketakutan menekan, lantunannya menjadi peneguh.

“Kenapa pada salawat ini ditutup dengan Bi Ahlil Badri ya Allah? Karena Islam itu bisa besar seperti sekarang ini adalah cikal-bakalnya Perang Badar. Jadi itulah yang kemudian semacam bisa membangkitkan semangat para pejuang Indonesia di masa itu agar semakin membara,” papar Kyai Syakir.

Pengabdian Ali Manshur untuk agama dan negara berakhir pada 1971. Dia wafat pada usia 50 tahun, meninggalkan lima putra dan dua putri.

Bahkan setelah kepergiannya, sejumlah pihak berharap dapat memakamkannya di tempat berbeda.

Mertua menghendaki Peneleh, Surabaya. Keluarga lain mengusulkan Jember. Namun, keluarga inti memilih Rengel sebagai tempat peristirahatan terakhir.

“Mertua beliau membuatkan kuburan di Peneleh Surabaya, buleknya ingin beliau dimakamkan di Jember, tapi saya sebagai anak meminta beliau dikubur di Rengel sini. Akhirnya yang diputuskan ya tetap di sini,” pungkasnya.

Meski KH Ali Manshur telah tiada, Salawat Badar tetap hidup—sebagai warisan spiritual yang merangkum doa, sejarah, dan semangat perjuangan masyarakat Indonesia menembus krisis zamannya. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #nasional #KH Ali Manshur #Indonesia #Rengel #salawat badar