Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Jejak Kiai Klopo Telu, Ulama Tuban yang Lahirkan Banyak Tokoh Agama

M. Mahfudz Muntaha • Selasa, 17 Maret 2026 | 15:04 WIB

 

Kompleks makan Kiai Sholeh Klopo Telu di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak yang banyak didatangi peziarah.
Kompleks makan Kiai Sholeh Klopo Telu di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak yang banyak didatangi peziarah.

RADARTUBAN - Masa hidup Kiai Sholeh yang lebih dikenal sebagai Kiai Klopo Telu sepenuhnya diabdikan untuk mengajarkan ilmu agama Islam.

Dari pesantren sederhana yang pernah berdiri di Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, lahir banyak santri yang kemudian tumbuh menjadi ulama dan tokoh agama di berbagai daerah.

Para santri yang belajar kepada Kiai Sholeh tidak hanya berasal dari Tuban dan wilayah sekitarnya. Sebagian datang dari luar daerah, termasuk dari Jawa Tengah. Setelah kembali ke kampung halaman masing-masing, mereka menjadi pemuka agama, bahkan mendirikan pesantren sendiri.

M. Rukin, tokoh masyarakat Desa Kapu, menuturkan bahwa Kiai Sholeh dikenal memiliki penguasaan luas dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.

Mulai dari fiqih, hadits, hingga ilmu alat seperti nahwu dan saraf. Reputasi keilmuannya menyebar luas di tengah masyarakat, meski pada masa itu belum ada media komunikasi modern. “Sehingga ribuan santri yang sudah lulus dari pondok Kiai Sholeh ini,” ujarnya.

Menurut Rukin, di antara para murid Kiai Sholeh yang paling dikenal adalah para pendahulu atau masyayikh Pondok Pesantren Sarang, Kabupaten Rembang.

Dalam buku Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony juga disebutkan bahwa pesantren Kiai Klopo Telu menjadi salah satu cikal bakal berkembangnya pesantren di Sarang.

“Ketika haul Kiai Klopo Telu digelar pada 2018 lalu, almarhum KH Maimoen Zubair sempat hadir dan bercerita jika dulu pendahulu ponpes Sarang pernah belajar ngaji di Klopo Telu,” kata Rukin.

Selain itu, sejumlah ulama di wilayah Merakurak juga pernah menimba ilmu di pesantren tersebut. Di antaranya KH Kafrawi Mandirejo yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kiai Sholeh, serta sejumlah tokoh agama lainnya.

Namun, setelah wafatnya Kiai Sholeh, tidak ada penerus yang melanjutkan pengelolaan pesantren. Perlahan kegiatan pendidikan di tempat itu berhenti. Lebih dari satu abad berlalu, jejak fisik pesantren itu kini nyaris tidak tersisa.

Meski demikian, semangat untuk merawat warisan Kiai Sholeh tetap dijaga masyarakat Desa Kapu. Warga secara rutin melakukan berbagai kegiatan keagamaan di sekitar makam sang ulama.

Setiap Minggu Wage, warga bersama-sama membersihkan makam Kiai Sholeh. Kemudian pada Kamis Pon digelar khotmil Quran, serta pengajian rutin setiap malam Jumat.

Setiap tahun masyarakat juga menyelenggarakan haul Kiai Sholeh yang dihadiri peziarah dari berbagai daerah.

Di desa setempat kini berdiri Yayasan Kiai Klopo Telu yang mengelola lembaga pendidikan seperti madrasah ibtidaiyah (MI) dan taman pendidikan Alquran (TPA).

Tak jauh dari makam, warga juga membangun padepokan Kiai Klopo Telu yang digunakan untuk kegiatan pengajian dan rutinan malam Jumat.

Menurut Rukin, berbagai kegiatan tersebut dilakukan agar sejarah dan perjuangan Kiai Sholeh Klopo Telu tetap hidup di tengah masyarakat.

“Tujuannya agar kebesaran peradaban Kiai Klopo Telu kembali dikenal masyarakat luas,” pungkasnya.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #jawa tengah #ulama #kiai #tokoh agama