Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kisah Kiai Ahmad Mustofa, Menghidupkan Pesantren Sepur di Tengah Ancaman Zaman

Shafa Dina Hayuning Mentari • Rabu, 18 Maret 2026 | 19:25 WIB

Potret KH Ahmad Mustofa di masa senjanya yang diabadikan oleh sang anak.
Potret KH Ahmad Mustofa di masa senjanya yang diabadikan oleh sang anak.

RADARTUBAN - Di pesisir Kecamatan Palang, ingatan sebagian besar masyarakat tentang sebuah tempat pendidikan agama tak pernah lepas dari sebutan unik Pesantren Sepur.

Julukan itu bukan merujuk pada lokasinya yang dekat dengan rel kereta, melainkan pada deretan pondok pesantren dari kayu yang memanjang menyerupai gerbong-gerbong kereta api.

Di balik dinding-dinding kayu yang kini telah berubah menjadi bangunan kokoh bernama Pondok Pesantren Al-Musthofawiyah, di mana akar pondok ini bermula jauh sebelum Indonesia merdeka.

Mbah Mustofa, menantu dari ulama tersohor Mbah Imam Puro, yang meletakkan batu pertama dakwah ini.

Meski nama Al-Musthofawiyah baru disematkan kemudian, geliat santri sudah terasa sejak awal 1900-an.

Sepeninggal Mbah Mustofa pada tahun 1926, estafet kepemimpinan beralih ke pundak putra-putranya, termasuk Mbah Ismail. Mbah Ismail bukan sekadar pendidik, namun juga motor penggerak Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Palang pada era 1950-an.

Namun, maut menjemputnya terlalu cepat pada 5 November 1956. Wafatnya sang perintis sempat membuat nadi organisasi NU di Palang berhenti berdenyut.

Di sinilah era baru yang lebih masyhur dimulai. Pada 1961, Kiai Ahmad Mustofa muda yang tengah menimba ilmu kepada Mbah Maksum di Lasem dipaksa pulang oleh masyarakat Palang kala itu.

Di usia yang masih sangat muda sekitar 15 tahun, beban berat diletakkan di pundaknya untuk menghidupkan kembali lentera dakwah dan organisasi yang sempat padam sepeninggal sang abah.

‘’Beliau harus pulang saat usianya masih belia untuk meneruskan kiprah Mbah Ismail,” kenang Muhammad Zaki Aminudin, putra Kiai Ahmad Mustofa, kepada Jawa Pos Radar Tuban saat ditemui di kediamannya di Desa Palang Kecamatan Palang, Minggu (8/3).

Bukannya gentar, Ahmad Mustofa muda justru membawa napas segar. Lima tahun setelah kepulangannya, dia melakukan langkah revolusioner untuk merangkul para pemuda dengan mendirikan drum band.

Hasilnya luar biasa, drum band Anshor Palang menjadi ikon yang paling dinantikan di Kabupaten Tuban, sekaligus menjadi magnet bagi para pemuda untuk kembali mencintai NU.

Memasuki era 1960, tantangan kiai yang lahir pada 1945 tersebut bukan lagi soal membangkitkan semangat pemuda, melainkan bertahan hidup.

Sebagai tokoh agama, kiai Mustofa, sapaan dekat kiai Ahmad Mustofa, kerap berada pada situasi mencekam.

Ketegangan politik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) serta pengawasan ketat pemerintah membuat setiap jengkal langkah dakwahnya berisiko maut.

Gus Zaki mengisahkan, betapa nyali sang abah diuji setiap kali beliau naik ke mimbar untuk dakwah. Di belakangnya, aparat berdiri tegak dengan senapan siap tembak. ‘’Salah sedikit dalam berucap, taruhannya eksekusi di tempat,” ungkapnya.

Namun, tekanan tersebut justru semakin mempererat ikatan antara Kiai Mustofa dengan masyarakat sekitar.

Kala itu, masyarakat Palang menjadikannya sebagai sentral ilmu pengetahuan dan perlindungan. Jika terjadi konflik atau gesekan sosial, Kiai Mustofa adalah orang pertama yang dicari untuk memadamkan api konflik.

Pengabdian Kiai Mustofa kemudian merambah ke jalur politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dia terpilih menjadi aggota DPRD Tuban selama dua periode (1982-1987 dan 1992-1997).

Namun, di antara dua periode tersebut, Kiai Mustofa sempat terganjal aturan ijazah karena latar belakangnya yang murni pesantren.

Potret kehidupan pribadinya setelah menjad pejabat publik justru tak semegah yang dibayangkan. Di saat jabatan seringkali identik dengan penumpukan aset, Kiai Mustofa justru sangat berbeda.

Harta pribadinya tak bertambah. Rumahnya tidak menjadi lebih mewah.

Gaji hasil keringatnya sebagai wakil rakyat nyaris tak berwujud dalam aset keluarga. Semuanya dia tumpahkan kembali ke pesantren. Untuk membangun gedung sekolah, memperbaiki pondok, hingga membenahi jalan-jalan kampung yang rusak.

‘’Beliau masuk politik niatnya murni agar siar agama lebih mudah dan mengembangkan pesantren bisa lebih cepat. Selain itu, beliau ingin memastikan jika kebijakan pemerintah tidak keluar dari koridor agama,” tegas putra ke-5 Kiai Mustofa ini.

Kini, saat memandang gedung-gedung pesantren Al-Musthofawiyah, orang mungkin hanya melihat sebuah lembaga pendidikan agama yang kokoh dengan banyak santri.

Namun, bagi masyarakat setempat, bangunan tersebut adalah buah dari ketulusan sang kiai di dunia pendidikan.(saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#islam #pki #kisah #jejak #ulama #kiai