Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lebaran di Balik Kantong Darah, Kisah Petugas PMI Tuban yang Menunda Pulan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Jumat, 27 Maret 2026 | 17:34 WIB
Elida tengah menjalankan tanggung jawabnya sebagai petugas Aftap menjelang momen Lebaran tiba. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)
Elida tengah menjalankan tanggung jawabnya sebagai petugas Aftap menjelang momen Lebaran tiba. (SHAFA DINA HAYUNING MENTARI/ RADAR TUBAN)

 

RADARTUBAN - Gema takbir yang bersahutan dari pengeras suara masjid menjadi penanda bagi jutaan orang untuk bergegas pulang, merekatkan kembali ikatan silaturahmi di kampung halaman.

Namun, bagi Elida Sinta Ramayani, suara takbir itu merupakan pengingat akan pekerjaannya yang harus tetap dijalankan, meski momen Lebaran datang.

Di Saat aroma opor ayam dan tawa hangat keluarga menyelimuti rumah-rumah, Elida, sapaan karib Elida Sinta Ramayani, justru bersiap dengan seragamnya untuk mengawali sif di Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Tuban.

Menjadi petugas aftap atau teknisi pengambilan darah bukanlah sekadar pekerjaan. 

Baca Juga: Puluhan Mahasiswa PMII Tuban Gelar Aksi, Begini Isi Tuntutannya kepada Pemerintah

Bagi Elida, hal tersebut juga merupakan misi kemanusiaan. Tahun ini menandai kali keempat dirinya harus merelakan momen sungkeman dan jamuan Lebaran di tanah kelahirannya. Tugas menuntutnya untuk tetap siaga, memastikan ketersediaan stok kantong darah tetap aman di tengah libur panjang.

Kesedihan perempuan asal Blora di tahun ini seakan terasa lebih berlapis. Di tengah padatnya jadwal jaga, dia juga sedang mengalami masa trimester pertama kehamilan.

Dalam kondisi hamil muda yang rentan dan membutuhkan dukungan emosional lebih, dia harus berdamai dengan keadaan. Selain jauh dari kedua orang tua dan sanak saudara, sang suami pun sedang bertugas di Pati, Jawa Tengah.

‘’Sejujurnya memang sedih tidak bisa pulang di momen seperti ini. Apalagi sekarang sedang hamil muda, rasanya ingin sekali ada di dekat orang tua dan suami,” ungkapnya dengan nada getir namun tetap tegar kepada Jawa Pos Radar Tuban, Selasa (10/3).

Jarak dan kewajiban memaksanya hanya bisa menatap wajah-wajah terkasih melalui layar ponsel. Panggilan telepon video menjadi satu-satunya jembatan penghubung rindu.

Meski teknologi membantu, dia tidak menampik bahwa hangatnya dekapan ibu dan dukungan keluarga tidak bisa digantikan dengan pertemuan virtual.

‘’Masa trimester pertama kehamilan ini inginnya dekat dengan keluarga. Tapi mau bagaimana lagi, saya harus menyelesaikan kewajiban sebagai petugas Palang Merah Indonesia,” tambahnya.

Meski sempat merasa berat di awal masa tugasnya beberapa tahun lalu, perempuan 27 tahun ini kini mulai terbiasa.

Baca Juga: Ramadan, Jumlah Pendonor Darah di PMI Tuban Menurun Drastis

Dia memahami bahwa posisinya saat ini adalah bagian dari garda terdepan petugas siap siaga. 

Penyakit dan kebutuhan akan transfusi darah tidak mengenal kalender merah. 

Baginya, satu kantong darah yang berhasil dia ambil dari pendonor bisa berarti nyawa untuk orang lain yang sedang berjuang di ruang gawat darurat saat momen hari raya tiba.

‘’Dulu keluarga juga ikut sedih, tapi alhamdulillah saat ini mereka memahami pekerjaan dan kewajiban saya sebagai teknisi kesehatan khusus transfusi darah yang juga harus stand by,” paparnya dengan nada legowo.

Keikhlasan tersebut menjadi penguat Elida dalam menjalani tugasnya di momen hari raya. Dia baru akan menjumpai Lebaran-nya sendiri pada H+2, saat arus balik mulai memadati jalanan dan tugas piketnya usai.

Elida menyebut, menunda pertemuan dengan keluarga adalah harga yang pantas dibayar demi memastikan tidak ada keluarga lain yang kehilangan anggota mereka karena kekurangan stok darah saat mengalami kejadian kritis tak terduga di hari kemenangan.

Dedikasi perempuan berjilbab ini menjadi potret nyata bahwa di balik kemeriahan Idul Fitri dan senyum hangat setiap individu yang terpancar saat bercengkrama bersama keluarga tercinta, ada tangan-tangan yang tetap bekerja demi kemanusiaan.

Elida menyadari betul bahwa pekerjaannya sebagai teknisi medis menuntut dedikasi tinggi. Setiap kantong darah yang dia proses bukan sekadar cairan merah, melainkan sekantong harapan hidup bagi pasien yang sedang melewati masa kritis.

Di saat sebagian besar orang bisa menarik diri sejenak dari rutinitas pekerjaan untuk menikmati opor ayam bersama keluarga, tanggung jawab Elida masih harus diemban hingga tanggal merah usai.

‘’Pekerjaan ini memang menuntut dedikasi, karena keselamatan nyawa tidak bisa menunggu sampai libur usai. Saya ikhlas menunda kepulangan, sebab masih ada tanggung jawab kemanusiaan yang harus tuntas,” tandasnya penuh keyakinan.(*/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#kampung halaman #Tuban #pmi #Pengeras suara mati #lebaran