Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Potongan Kayu ke Panggung Provinsi: Kisah Iky dan Lentera Torii di SMA Awards Jawa Timur

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 30 Maret 2026 | 17:17 WIB
Rizky Aditya dengan karya lenteranya setelah masuk 10 besar SMA Awards tingkat provinsi. (RIZKY ADITYA UNTUK RADAR TUBAN)
Rizky Aditya dengan karya lenteranya setelah masuk 10 besar SMA Awards tingkat provinsi. (RIZKY ADITYA UNTUK RADAR TUBAN)

RADARTUBAN - Bagi sebagian remaja, kayu barangkali hanya material mati yang kaku.

Namun, di tangan Rizky Aditya, potongan-potongan kayu justru menjelma menjadi karya seni yang membawanya melangkah hingga tingkat provinsi dalam ajang SMA Awards. 

Meski tak membawa pulang gelar juara, remaja asal Tuban itu menunjukkan bahwa kreativitas generasi muda mampu mengubah bahan sederhana menjadi karya bernilai.

Baca Juga: Rista dan Petualangan Rasa: Dari Hobi Travelling hingga Mimpi Restoran Mewah

Lampu kamar yang temaram biasanya hanya berfungsi sebagai penerang. Bagi Iky, sapaan akrab Rizky Aditya, lampu justru menjadi medium ekspresi.

Dari tangan remaja 17 tahun itu lahir sebuah lentera kayu berjudul Miniatur Gerbang Torii, karya kriya yang dia bawa ke panggung kompetisi.

Berbeda dari peserta lain yang menampilkan lukisan atau tari tradisional, Iky memilih jalur kriya. Ikon budaya Jepang, Gerbang Torii, dia angkat sebagai inspirasi.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Arsitektur Torii, menurutnya, merepresentasikan harmoni dan spiritualitas.

“Saya melihat Gerbang Torii bukan sekadar bangunan, tetapi simbol kedamaian. Saya ingin keindahan itu hadir dalam bentuk lampu tidur yang menenangkan,” ujar Iky.

Proses kreatifnya tak berlangsung seketika. Meski pengerjaan fisik karyanya relatif singkat, gagasan awal justru dia rancang selama beberapa pekan.

Sketsa demi sketsa dia buat untuk mematangkan bentuk dan detail agar miniatur tampil hidup.

Ketelitian menjadi kunci. Mulai dari pemilihan bahan kayu, penyusunan struktur, hingga detail kecil yang menuntut presisi tinggi.

Menurut Iky, tahap paling krusial justru terletak pada pengecatan dan penempatan sumber cahaya di dalam struktur. “Kalau posisi cahaya salah, jiwa dari miniatur itu tidak keluar,” katanya.

Tantangan semakin terasa ketika sistem lomba mengharuskannya melalui dua tahap. Pada fase awal, dia merekam seluruh proses pembuatan karya secara mandiri di rumah dan mengunggahnya secara daring.

Dari tahap ini, Iky lolos ke jajaran 10 besar terbaik se-Jawa Timur.

Baca Juga: Verval Data 2026 Jadi Momentum Pererat Tali Komunikasi antara Pemkab Tuban dan Masyarakat

“Saya awalnya tidak tahu kalau ini lomba tingkat provinsi. Saya pikir hanya tugas membuat video kreatif. Ternyata kemudian diumumkan masuk 10 besar,” ujarnya mengenang.

Prestasi itu membawanya ke Surabaya, setelah mendapat undangan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur untuk mengikuti tahap lanjutan secara luring.

Di hadapan dewan juri, Iky diminta membuat ulang miniatur Gerbang Torii dari nol dalam waktu satu hari.

Di bawah tekanan waktu dan persaingan dengan pelajar dari kota-kota besar, dia tetap tenang.

Gergaji, amplas, dan kuas menjadi alat utama untuk membuktikan bahwa karya yang ditampilkan dalam video sebelumnya bukan hasil rekayasa.

“Tantangan terbesarnya tekanan waktu. Biasanya bisa santai, kali ini harus serba cepat,” katanya.

Penguasaan desain dan pengalaman mengolah kayu membantunya menyelesaikan tantangan tersebut. Menariknya, di tengah padatnya jadwal sekolah dan kompetisi, Iky mengaku tak merasa terbebani.

“Saya justru menikmati. Membuat kerajinan kayu sudah jadi bagian dari diri saya,” ujar alumnus SMP Negeri 2 Semanding itu.

Saat pengumuman akhir, nama Rizky Aditya tak masuk tiga besar. Ia bertahan di posisi 10 besar. Namun baginya, capaian itu sudah lebih dari cukup.

“Saya tidak kecewa. Bisa masuk 10 besar tingkat provinsi dan membawa nama SMA Negeri 5 Tuban serta desa saya ke Surabaya sudah menjadi kebanggaan tersendiri,” tuturnya.

Bagi Iky, kegagalan meraih piala bukan akhir perjalanan. Ajang SMA Awards justru menjadi ruang belajar untuk mematangkan keterampilannya.

Dia meyakini, kemampuan mengolah kayu bukan sekadar hobi, melainkan investasi jangka panjang.

“Kreativitas itu penting. Selain melatih imajinasi, keterampilan seperti kerajinan kayu bisa menjadi peluang ekonomi di masa depan jika ditekuni serius,” katanya.(*/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#SMA Awards #pelajar #Tuban #Jawa Timur